Sam, Soe, Emak by Wina Bojonegoro

SAM duduk memandang gerai kopi merek impor di hadapannya. Aroma kopi yang dicampur susu dan krim berbusa menggerayangi hidungnya. Lelaki 29 tahun itu menelan kembali air liurnya. Cukup lama perjuangan ini, sejak petugas Bandara Halim mengumumkan pesawat mengalami keterlambatan dengan alasan operasional. Aroma ikan asin atau sambal boleh lewat, tapi aroma kopi? Malaikat tak pernah mengikat setan yang bersembunyi di balik gerai kopi di bulan puasa.

Sam menggengggam erat botol air mineral yang ia beli pada tukang asongan di luar bandara. Pesan bosnya, jangan membeli apa pun di bandara, kalau tak ingin dompetmu jebol. Maka, cukuplah ini sebagai sarana berbuka puasa, sebotol air mineral yang tak dingin lagi. Ia ingin melupakan kopi sialan itu, yang memasang banderol Rp 40 ribu dalam ukuran kecil, tapi toh orang-orang berdiri mengantre untuk mendapatkannya. Barangkali gaya, itulah sisi lain selain rasa yang hanya sampai di tenggorokan.

Di sebelah kiri Sam, duduk seorang perempuan berusia sekitar 40-an dengan bluetooth terpasang di telinga, cincin sebesar kemiri terpajang di beberapa jemarinya. Gelang emas bergemerincing di tangan kanan, sedangkan tangan kiri terpasang jam tangan emas dalam ukuran lebar mencolok. Sam menduga perempuan itu seorang hakim, atau bisa jadi jaksa, mendengar percakapan yang sengaja tak disembunyikan. Ada kata-kata sidang, saksi, penuntut umum, terdakwa, pertemuan permulaan, dan kalimat yang suaranya direndahkan adalah: Ini mau Lebaran, kita harus tahu diri, mereka butuh mudik dan pengeluaran ekstra. So, ini kesempatan baik.

Sam teringat film Devil Advocate. Di sebelah kanan Sam, lelaki bernama Awuy. Ia sedang menelepon seseorang: “Selamat sore Pak, saya Awuy. Ya Pak, saya akan terbang ke Surabaya. Saya sudah siapkan semuanya seperti janji saya, sudah diatur staf saya di sana. Ya Pak. Siap Pak. Beres. Eh, ehmmm untuk proyek selanjutnya bisakah kita selesaikan SPK-nya sebelum Bapak cuti Lebaran? Wah, sip, sip, terima kasih Pak Don. Selamat sore. Sampai jumpa di Surabaya.”

Persis di depan Sam, seorang perempuan berusia tiga puluhan sibuk membaca gawai. Cepol di bagian belakang kepalanya begitu tinggi menyerupai punuk unta, ditutup dengan kerudung kerlap-kerlip menyilaukan mata. Sepatu hak tingginya sempat membuat Sam khawatir, apakah dia mampu menggeret dan mengangkat koper saat naik tangga pesawat? Make up tebalnya nyaris menyaingi boneka plastik di gerai-gerai busana. Tak bisakah perempuan tampil sederhana apa adanya, seperti Bu Soe? Pikir Sam geram.

Menurut Bu Soe, cantik itu tak harus berlebihan. Less is beautiful katanya. Bu Soe make up-nya hanya pensil alis, eye-liner, dan lipstik samar. “Kau naik apa saat mudik nanti, Sam?” Sam tak segera menjawab. Ia masih belum memutuskan apakah mudik atau tidak. Ia telah menjual sepeda motor satu-satunya sebagai tambahan uang muka rumah tipe 21 di Bekasi. Sepeda motor yang bertahun-tahun menemaninya mudik ke Bojonegoro setiap Lebaran. Ia bersama ribuan perantau mengadu nasib dengan menyusuri pantura selama 24 jam, melintasi kejamnya jalanan. Mengharapkan posko-posko Lebaran dapat meredakan haus di sepuluh hari terakhir puasa.

Beberapa pemudik nekat mokel puasa demi mudik darat. Beberapa tetap puasa dan berjejal menghirup debu jalanan bersama ribuan pemotor. Tak sedikit pemotor yang menambahkan bagian depan atau belakang sebagai bagasi ekstra, sekadar menampung anak-anak mereka dan barang bawaan. Untunglah Sam sendirian, belum berani menikah. Ia menikmati jalanan sendirian bertahun-tahun, melaju dari Jakarta ke Bojonegoro, melintasi Cirebon, Pekalongan, Semarang, Lasem Rembang, Tuban, lalu masuk wilayah kelahirannya, Baureno.

Tahun ini Sam tak berencana mudik. Motor itu telah berubah menjadi rumah tipe 21 di Bekasi. “Saya mungkin tidak mudik, Bu.” Jawab Sam saat bosnya yang kalem itu bertanya lagi. “Lho kok aneh? Bukankah kalian harus mengikuti ritual Lebaran?” “Bukan wajib sih, Bu. Mudik kan tradisi.” “Tapi sudah jadi budaya nasional. Lagi pula, ibumu pasti menunggu.” “Sedang prihatin, Bu. Saya anu… Baru saja membayar uang muka rumah di Bekasi.” “Wow! Luar biasa.” Bu Soe tampak gembira beneran, tidak basa-basi. “Hanya tipe 21 kok Bu.” “Tapi kan rumah, bukan apartemen yang tidak punya halaman.”

Sam, kurir kantor berpenghasilan UMR itu sudah empat tahun menjadi staf Bu Soe. Boleh dibilang ia anak kesayangan sehingga diam-diam Bu Soe sering memberinya tip. Sam ramah, banyak senyum, sopan, dan tidak merokok. Bu Soe jatuh hati sebab anak itu tak pernah meleset menjalankan tugas mengantar surat, nota, dan barang apa pun. “Baguslah kamu tidak merokok, Sam. Biaya rokok sehari Rp 15 ribu bisa jadi makan malam kamu kan? Kalau ditabung sebulan bisa Rp 450 ribu, buat nyicil motor bisa tuh.” Demikian Bu Soe berkomentar saat awal-awal bertugas di kantor ini, kantor bank swasta dengan gedung menjulang 30 lantai di segitiga emas Jakarta.

Azan magrib berkumandang di Bandara Halim, Sam segera mereguk air mineral di genggamannya. Betapa ingin ia mereguk aroma kopi gurih di gerai sialan itu. Namun, Rp 40.000 adalah angka yang fantastis. Tidak! Sam melenguh. Setelah salat magrib di musala kecil yang uyel-uyelan, Sam terselamatkan oleh suara panggilan masuk pesawat. Ia berdiri segera, berbaris menuju gerbang 6, menyiapkan KTP, menggenggam erat boarding pass-nya. Debar dadanya adalah dentam jantung yang menandai kecemasan. Ini kali pertama ia terbang. Ada kegembiraan. Juga ketakutan. Akankah selamat melampaui 1 jam 20 menit dari Halim menuju Juanda?

Semua orang membawa bagasi besar-besar, termasuk yang dibawa masuk ke kabin. Tidak begitu dengan Sam. Ia hanya membawa ransel dan jaket. Ransel pun hanya berisi bajunya sendiri serta baju muslim hadiah Lebaran buat Emak, yang dibelinya di Pasar Tanah Abang dengan cara berdesak-desakan. Ia terheran-heran, dari mana datangnya semua uang sehingga jutaan orang berbelanja di pasar grosir itu? Yang lebih heran lagi, apakah setiap orang wajib berbelanja sebelum Lebaran seperti dirinya? Ini hanya untuk Emak. Dirinya sendiri tidak.

Pesawat penuh. Tak ada kursi kosong. Berarti Indonesia ini negeri yang kaya, renung Sam. Tak mungkin orang miskin seperti dirinya bisa naik pesawat yang harganya sama dengan gajinya sebulan. Kalau bukan karena Bu Soe… “Sam, pinjam KTP-mu dong.” “Buat apa Bu?” Sam heran. “Buat issued tiket. Kamu mau mudik kapan?” Sam terlongo-longo. “Jangan khawatir Sam. Aku menyumbang kamu tiket PP Jakarta-Surabaya-Jakarta. Selama kalian puasa, aku kan ikut puasa, walaupun aku bukan muslim. Itung-itung buat jaga kesehatan. Nah uang makan dan uang ngopiku yang biasanya sehari 100 ribu, aku kumpulkan. Cukup deh buat kamu mudik.”

Sam serasa tersengat listrik. Ia berdiri gagu. Mulutnya mengaga, namun tak bisa bicara. Jadi, penerbangannya yang pertama untuk mudik ini dipersembahkan oleh Bu Soe, yang notabene bukan muslim. Bu Soe yang ikut berpuasa atas nama toleransi. Bu Soe yang menabung uang ngopi dan makan siangnya untuk memulangkan Sam. Saat itu juga Sam ingin menangis. Namun perempuan itu bergaya sok ceria dengan mengatakan: Gak usah sentimental kamu Sam. Kaya sinetron saja. Sam tersenyum mengenang percakapan hari itu.

Malaikat memang tak bersayap. Kadang juga tak berjubah. Mendarat di Bandara Juanda, Sam takjub tak henti-henti. Ribuan orang hilir-mudik, datang dan pergi. Semua dengan barang-barang bawaan tambun. Oleh-oleh? Demi kebahagiaan keluarga? Simbol kemakmuran? Ia naik bus DAMRI menuju Bungurasih. Kenyataan yang sama ia temukan. Terminal itu menjadi lautan manusia. Semua berdesakan, berebut ingin pulang. Saling sikut. Saling gencet. Saling seruduk. Ada yang mengumpat. Ada yang bermandi keringat. Bau kentut, minyak gosok, ketiak, kaus kaki busuk, semuanya ada. Ini sudah malam, tapi terminal tak mengenal jam. Demi apa?

Tiga jam kemudian barulah ia naik bus jurusan Cepu. Ternyata Jakarta-Surabaya lebih ‘dekat’ jika dibandingkan dengan Surabaya-Bojonegoro. Tiba di Baureno, menumpang ojek, sampailah ia di kampung halaman yang mewah alias mepet sawah. Sam memeluk Emak erat-erat. Air mata hampir tumpah. Lalu disodorkannya baju Lebaran itu dengan wajah berseri-seri. Emak mematung, hanya tersenyum. “Sam, untuk apa baju baru? Emak sudah tua, tidak butuh baju baru.”

“Tapi ini Lebaran, Mak.” “Mbok pikir Makmu ini anak-anak? Mak malah mengira kamu tak pulang, Le. Ngeri melihat berita di TV. Dari mana saja orang-orang itu, tumpah ruah mau mudik. Kecelakaan di mana-mana. Hih… daripada menyabung nyawa buat mudik, mbok telepon saja minal aidin-nya. Toh mudik bisa kapan saja, ndak harus Lebaran. Wong mudik itu kita yang bikin. Ndak ada di Quran dan hadis.”

Sam merasa diremas-remas dadanya. Ia teringat Bu Soe. (penulis: Wina Bojonegoro, ditayangkan Media Indonesia, 3 Juli 2016/Heti Palestina Yunani)