Salat Ashar di Masjid Terindah Indonesia

Berkunjung Singkat ke Negeri Pasir Seribu Suluk (2)     

suluk 1Setelah beristirahat cukup lama sekitar satu jam di Rumah Makan H Nurman Adai, kendaraan minibus jenis L300 yang saya tumpangi berangkat lagi menuju Pasir Pengaraian sekitar pukul 12.00. Kendaraan melewati dua daerah ramai Tandun dan Ujungbatu sebelum tiba di Pasir Pengaraian.

Akhirnya jam 2 siang, kendaraan nampak memasuki kota. Sesuai plan, saya meminta sopir menurunkan di sebuah masjid, yaitu Masjid Agung Madani Islamic Center (MAMIC). Saya tahu masjid itu dari hasil browsing di internet.

Islamic Center itu menjadi salah satu ikon wisata Pasir Pengaraian. Terletak di jantung kota depan kantor pemerintahan bersebelahan lapangan Dataran Tinggi Rantau Baih dan Hotel Sapadia. Masjid itu memang sesuai dengan hasil yang saya browsing; indah banget.

Bahkan terkesan lebih indah ketika saya melihatnya langsung. Saking indahnya, masjid yang menjadi pusat pendidikan dan kegiatan Islam ini dinobatkan sebagai masjid terindah di Indonesia. Tujuan utama saya ke Pasir Pengaraian ini ya memang ke Islamic Center ini.

suluk 4 Banyak hal yang bisa dikagumi hampir di seluruh kompleksnya. Di sini dibangun menara berjumlah 99 sesuai Asmaul Husna. Setelah mencicipi indahnya karpet masjid untuk salat Ashar, saya mengambil kesempatan berkeliling kompleks Islamic Center.  Saya menyusuri lorong-lorong yang mengitari masjid. Terasa hawanya sangat sejuk.

Kalau dilihat penampakan Islamic Center ini sekilas seperti Taj Mahal di India. Sebab ada bagian kolam di tengah yang diapit 4 menara. Seperti masjid lain yang memisahkan tempat jamaah wanita dan pria, Islamic Center ini juga. Namun uniknya tanda masuk ke ruangan jamaah diberi tanda berbeda.

suluk 8Jadi untuk menju ruangan jamaah pria, di atas pintu terdapat tulisan Abu Bakar As Shidiq atau khalifah pertama itu. sedangkan di atas pintu jamaah wanita ditulis nama Siti Khadijah-istri Nabi Muhammad dana nama tokoh wanita Islam yang lain.

suluk 9 Dengan begitu, orang tak akan salah masuk ruangan salat. Semula saya sempat tak tahu ke mana saya harus masuk. Sebab bingung juga banyak karea pintu mana yang buat jamaah pria. Untungnya setiap pintu di Islamic Center sudah bertulis nama ruangan masing-masing.

Setelah puas mengelilingi masjid di bagian dalam, saya melanjutkan berkeliling di bagian luar masjid. Bagian depan Islamic Center ini ada tugu bernama Ratik Togak yang merupakan salah satu ikon terkenal di Pasir Pengaraian. Tugu itu merupakan sebuah perlambang eksistensi Islam di kota itu.

Terdapat lima tonggak yang melambangkan 5 rukun Islam tersambung dengan tasbih. Dengan keberadaan masjid itu, tampaklah komunitas Islam di Pasir Pengaraian yang memang sangat kuat. Makanya kota ini disebut juga sebagai Kota Seribu Suluk yang artinya tempat mengaji.

Selain pondasi religi, kota ini konon kaya hasil buminya macam emas. Dulu sungai Rokan Kanan atau Batang Buluh mengandung emas, banyak masyarakat sekitar melakukan tambang dengan teknik pengaraian (ayakan). Pasir di sungai diayak sampai menghasilkan butir emas. Itulah asal nama Pasir Pengaraian diambil.

suluk 10Di Pasir Pengarain, saya hanya sempatkan untuk mengunjungi masjid itu saja dulu. Sengaja kali ini cukup berwisata kota untuk salam kenal dulu sebelum kapan-kapan ke sini lagi. Sebenarnya Pasir Pengaraian punya banyak wisata tempat yang wajib dikunjungi seperti Air Panas Hapanasan, Pawan, Air Terjun Aek Martua dan Danau Cipogas.

Kalau Anda tak suka main air bisa jelajah alam Taman Nasional Bukit Suligi dan Goa Huta Sikafir. Banyak kok objek-objek tersembunyi yang masih perawan perlu dijelajahi. Oiya tentang Hotel Sapadia tadi, saya tak menginap di sana.

Bagi backpacker yang low budget saya sarankan untuk mencari alternatifnya. Sebelumnya, saat saya bertanya ke ‘Mbah Google’ tentang hotel di Pasir Pengaraian, ada beberapa. Tapi pas saya cek lokasi betulan, ternyata taka da room tersedia.

Maka saya berjalan menyusuri Jalan Tuanku Tambusai berharap melihat penginapan. Untung dikabulkan. Ada penginapan Andisna Motor yang di-bundling dengan bengkel. Jadi tempat itu semacam untuk beristirahat sementara. Memang bukan hotel bintang tiga tapi cukuplah untuk backpacker-an seperti saya.

Murah hanya Rp 200 ribu semalam dengan fasilitas TV, kipas angin, dan kamar mandi luar. Itu pun saya tak sempat tidur lama di situ. Sebab begitu taruh tas sebentar dan mandi, istirahat sejenak melepas penat, saya sudah ambil waktu berkeliling kota selepas Maghrib.

Ada sih yang merekomendasikan untuk menginap di Ujung Batu, kota sebelum Pasir Pengaraian, bisa lebih murah dan beragam, situasi kotanya lebih ramai. Tapi di Pasir Pengaraian, kotanya tidak begitu ramai karena hanya kota perlintasan seperti ciri khas kota-kota kecil di Riau. Yang asyik, ada bentor (becak motor) seperti di Medan sekitarnya berseliweran yang bisa Anda panggil kalau mau jalan-jalan kota. (teks dan foto: Ferry Fansuri/editor: Heti Palestina Yunani/habis)