SAID BASYMELEH; Mengulang Pandangan Mata Lewat Foto

said 3Berangkat dari hobi mengoleksi perangko lama, Said Basymeleh menaruh perhatian pada foto tentang Surabaya sejak 1990. Itu terjadi tak sengaja. Saat berburu perangko di sebuah pasar yang buka di hari Rabu di Amsterdam, Belanda, Said terpincut dengan salah satu sisi kartu pos yang ternyata bergambar foto Surabaya di masa lalu.

Bukan sekadar foto Surabaya yang menggambarkan situasi pandangan lama pada puluhan tahun lalu, namun Said terkesiap ketika dalam foto itu sudut yang sangat ia kenali. Dalam foto hitam putih itu terlihat toko sarung milik kakeknya dulu di Jl Panggung. “Kesan dalam yang menyentuh itulah yang membuat saya ingin mengoleksi foto lama Surabaya yang lain,” kata pria berdarah Arab itu.

Di hari perburuan perdana itu, Said yang semula hanya membeli satu kartu pos saja, langsung kembali ke pasar untuk membeli lebih. Ia pun mendapatkan 10 kartu pos lain yang bergambar Surabaya di masa lalu yang sebagian sudutnya sulit ia kenali lagi dimana tepatnya pemandangan itu berada.

Dari situlah, minat Said mengumpulkan foto-foto lama Surabaya tumbuh seketika.  Bahkan Said makin ‘gila’ karena ia sengaja mengeluarkan anggaran khusus. Seperti salah satu koleksi fotonya yang ia beli seharga 160 Euro atau setara Rp 1.920.000.said 2

Ia juga sengaja meluangkan waktu dengan berkali-kali kembali ke Belanda untuk berburu koleksi baru. “Saya tak hanya mencarinya di pasar Rabu di Amsterdam, tapi juga bisa mendapatkannya di toko-toko barang antik Leiden, Rotterdam, dan Den Haag,” kata pria bernama lengkap Said Faisal Besymeleh itu.

Malah, Said akhirnya berhasil mendapatkan koleksinya yang lain ke negara-negara lain yang ia kunjungi seperti Jerman, Prancis, dan Belgia. Uniknya, foto yang sebagian besar berupa kartu pos dan sebagian memang berupa foto berbagai ukuran itu dikirimkan oleh orang-orang asing yang tinggal di Surabaya.

Tak hanya orang Belanda, namun juga orang dari berbagai warga yang tinggal di Surabaya seperti Argentina, Jerman Prancis dan Jepang. “Itu bukti jika orang asing di Surabaya dulu sangat bangga dengan kota ini. Mereka mengirimkan gambar Surabaya lama itu untuk pamer pada keluarga, kerabat dan teman mereka di negara asal agar mereka tahu betapa indahnya Surabaya.

Masa kita yang punya tidak bangga dengan kotanya sendiri,” kata bapak tiga anak ini. Tak hanya mengumpulkan, pilihan koleksi Said juga terfokus pada era tertentu. Ia membatasi mengumpulkan foto Surabaya hanya di bawah tahun 1945. Alasannya, foto-foto di bawah tahun itu masih menampakkan wajah lama Surabaya yang belum terjamah perubahan fisik atau pun terjamah modernisasi.

“Maka jika susah mengulang pandangan mata kita dengan kejayaan masa lalu kota ini, foto ini seperti akan mengantar kita ke sana” katanya.

Itulah tawaran Said tentang koleksinya. Selanjutnya masing-masing pasti akan memiliki perubahan simpati bahkan empati yang lebih seperti saya sekarang sebagai warga kota ini, agar kita bisa lebih care dan bersyukur dengan apa yang telah kita miliki sekarang,” tandasnya bersemangat. (naskah dan foto: Heti Palestina Yunani/editor: HPY)