Sacre Coeur, Melawan Keindahan Eiffel Tower

Tak Habis Romantis di Paris (1)

Paris. I haven’t been there. But it’s on my list. Yeah, my dream came true saat saya tiba-tiba mendapat panggilan belajar di Paris. Kota yang terkenal dengan keromantisannya itu ternyata bukanlah asumsi wisatawan belaka. That’s more than romantic. That’s precious.

paris-mj-parisBonjour. Comment allez-vous? Ca va? Sapaan itu sangat menyentuh di telinga dan hati saya ketika berada di Paris. Kebetulan aku dan Audy, dua mahasiswa beruntung yang terpilih untuk belajar di HEC University, Paris, akhirnya menjadi travelmate.

Kami pun menjelajahi tiap titik tempat yang penuh dengan makna di baliknya. Dalam perjalanan, kami menggunakan transportasi umum seperti bus, metro, atau bahkan lebih memilih berjalan sembari menikmati pemandangan dan berinteraksi dengan penduduk sekitar.

Cuaca masih sangat dingin, sekitar dua derajat bahkan kadang bisa lebih rendah. Tentunya sangat berbeda dengan suhu di Jakarta yang mencapai 27 derajat celcius. Memang di Paris tidak sampai turun salju, tapi angin yang berembus cukup menusuk hingga ke tulang.

Berjalan sendiri membuat kami lebih mengerti dan mengenal Paris lebih dekat. Kita bisa memutuskan pergi kemana pun yang disuka, makan apapun yang disuka, bahkan menentukan kegiatan yang disuka. Kami juga menikmati berinteraksi dengan penduduk sekitar, menanyakan jalan ketika hilang arah. Nikmati saja petualangan ini.

paris-mj-sacre-2
Bagian dalam Sacre Couer

Saya dan Audy mengunjungi tempat-tempat yang sudah menjadi must to visit di Paris. Eiffel Tower tentunya, kemudian Notre Dame, Museum Louvre, Louvre Pyramid, Champ Elysess, Arc de Triomphee, Sein River, sampai menaruh lovelock di Pont Des Art. Semua tempat tersebut memang sangat menarik, khususnya Eiffel Tower yang tiap hari mampu menjadi magnet bagi wisatawan.

Namun, di antara semua lokasi tersebut, ada satu tempat yang tidak terlalu sering masuk sebagai tujuan wisata, tetapi menjadi keindahan tersembunyi di bagian tertinggi Kota Paris, Sacre Coeur. Sebagai sebuah gereja, Sacre Coeur menampilkan wujud basilica yang sangat anggun.

paris-mj-sacre-1
Bagian dalam Sacre Coeur

Bangunannya berupa batu elegan mewah dan klasik. Lokasinya yang berada di puncak tertinggi Paris membuatnya menjadi saingan Eiffel Tower dalam mendefinisikan keindahan Paris. Karena terletak di bagian paling atas dari ketinggian Montmarte, kita bisa melihat keseluruhan kota Paris dari ketinggian.

paris-montmarte-view
View indah dari Montmarte

Sembari menghirup udara Paris, kami tidak sendirian. Banyak musisi jalanan memainkan harpa, saksopon, dan biolanya, melantunkan musik klasik yang sangat indah, sangat serasi dengan pemandangan kota yang indah. Tatanan kota Paris memang sangat indah, bangunan berupa gedung klasik membuat gedung-gedung tampak seragam, dengan nuansa warna elegan dan berkelas. Paris memang pantas dikagumi.

Selain itu, di sekitar sana juga terdapat pasar pelukis. Banyak sekali pelukis di jalan yang menawarkan jasanya untuk melukis para wisatawan dan menjualnya sebagai souvenir. paris-mj-montmartre-paintersKetika saya bertanya pada penduduk setempat, konon seorang pelukis maestro, Picasso menghasilkan lukisan-lukisan besarnya di sana.

Karena itu, lokasi tersebut juga dipenuhi pelukis. Tak hanya itu, distrik Montmarte juga menawarkan kafe-kafe kecil yang menyuguhkan secangkir kopi untuk menghangatkan kita. Setelah beristirahat sejenak sambil minum kopi, kami melanjutkan perjalanan lagi, Paris menunggu untuk dijelajahi. (naskah dan foto: Martiyana Julaika/Heti Palestina Yunani/bersambung)