Rujak Kok Disiram Kuah Soto?

Lima Makanan nge-Hits Banyuwangi (1)

Ke Banyuwangi jangan lupa yang lima ini. Nggak bakalan ada di daerah lain. Didi Domba sudah merasakan duluan dan manut saja rasanya enak meski belum familiar atau cenderung aneh dari namanya. Simak deh. Yuk mulai icip-icip.

Rujak Soto

20140920_130139Jalan-jalan sambil jelajah kuliner sudah biasa. Tapi kalau ikon kuliner diangkat menjadi peristiwa budaya, itu harus dikejar! Itu yang Didi Domba alami di di Festival Rujak Soto.

Pasti susah membayangkan rasa rujak campur soto ini. Tapi kalau pada dasarnya doyan rujak cingur, dijamin pasti doyan rujak ini. Apalagi untuk Didi yang memang DOyan MBAdog, rasa sedapnya sudah bikin liur netes-netes hanya dengan membayangkannya. Berhubung Didi sudah merasakan langsung, PADmakers cukup membayangkan saja ya.

Bayangkanlah cobek besar yang di dalamnya ada sejumput garam, gula Jawa, petis, cabe, kacang tanah goreng, yang diuleg jadi satu layaknya bumbu rujak petis. Lalu masukkan rujak matengan, yaitu rebusan sayur (kangkung, kecambah, krai), lontong, tahu dan tempe goreng, aduk rata dan masukkan ke dalam mangkok.

Ya, wadah makannya mangkok, soalnya setelah tertata di mangkok, rujak disiram kuah soto beserta isinya. Umumnya sih soto daging sapi plus jerohan, tapi bisa juga soto ayam, bahkan ada juga yang pakai cakar ayam alias ceker. Eenyak tenaaaaannn. Untuk makanan ciamso ini Didi kasih bintang lima wes, biar berasa di hotel. (*****)

Rujak Cemplung

cjxbknrvaaaxkei Selesai makan, Didi Domba jalan-jalan dulu nurunin rujak soto di usus sambil lirak-lirik kalau-kalau ada makanan khas lainnya. Pengennya sih yang seger-seger. Tiba-tiba mata lentik ini menangkap tulisan “Rujak Cemplung” di salah satu stand makanan. Opo iki?

“Ini rujak buah yang dipotongi terus dicemplungkan ke bumbu, Mbak. Makanya dinamakan Rujak Cemplung,” kata Mbok Tun yang tangannya sterek gara-gara kebanyakan nguleg. Nggak pakai lama, buah-buahan yang kebanyakan masih mengkal seperti pepaya, mangga muda, kedondong, ketimun, bengkuang, dipotong dadu lalu dicemplungkan ke bumbu yang terdiri atas lombok, terasi, gula jawa, cuka, dan air.

Mirip rujak kuah pindang bali tanpa ikan atau seperti asinan bogor tanpa ebi. Kecut-kecut piye… gitu. Pokoke pas dimakan saat udara panasnya bikin mringis. Meski enak, sepertinya Didi kasih bintang tiga aja ah, soalnya derajat keenakannya masih di bawah asinan bogor dan rujak kuah pindang. Ojo nesu ya. (***)

  1. Kikil Kesrut

a-jangan-kesrut-2Tidak jauh dari tempat Didi ngiyup, ada stand makanan yang menjual Kikil Kesrut. Heh? Kikil yang dimasak seperti apa ini? Didatangi yuk. Kikil ini dimasak bersama kuah berwarna merah. Berarti mestinya tidak beda dong dengan masakan kikil lainnya yang berbumbu dasar cabe merah.

Tapi berhubung penasaran, akhirnya Didi pesan satu porsi tanpa nasi. Ternyata oh ternyata kikil ini dimasak dengan bumbu sayur asam sehingga rasanya kecut segar. Didi jadi teringat Gangan Asam khas Kalimantan Timur ala Mamak yang berbumbu bawang merah dan putih, tomat, asam kandis, belimbing wuluh, dan cabe merah.

O la laaaa so yummyyy. Baru sekarang Didi Domba menemukan kikil yang dimasak sesegar ini, jauh dari aroma amis khas kaki sapi. Tidak heran kalau siang itu Didi nyaris kehabisan alias mendapatkan porsi terakhir kikil kesrut karena menu ini laris manis sejak pagi. Diberi bintang lima plus plus pun tampaknya makanan khas ini masih pantas. (*****++)

Itu tiga dulu ya. Perut Didi nanti kekenyangan kalau langsung makan dua porsi lain makanan yang nge-hits di Banyuwangi. Bocorannya, ada nasi tempong dan sego cawuk. Enak! (naskah: Didi Domba/foto: int/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)