Roh Binatang di Dapur: Penjaga Suku Mentawai

Melawat ke Mentawai: Bumi Para Sikerei (1)

mentawai-1a-uma-insideAloita! Anai Lewita! Begitu sapaan hangat khas Kepulauan Mentawai, salah satu gugusan pulau di wilayah Sumatera Barat yang keindahan ombaknya memukau para surfer internasional, bahkan masuk daftar 10 best world surfing spot. Mentawai kini juga menjadi destinasi cultural ecotour. Mau tahu? Mari ikuti saya dalam catatan saya ke Mentawai.

Sejak delapan tahun lalu, Kepulauan Mentawai lepas dari  wilayah Kabupaten Pariaman Sumatera Barat dan menjadi wilayah tersendiri yaitu Kabupaten Mentawai, ibu kotanya Tua Pejat yang berada di Pulau Sipora. Kepulauan Mentawai adalah kepulauan non vulkanik, walaupun sebenarnya, pulau-pulau tersebut (Sipora, Pagai Utara, Pagai Selatan dan Siberut) merupakan puncak dari pegunungan bawah laut.

mentawai-1b-kitchenPulau Siberut, pulau terbesar yang telah ditetapkan sebagai Taman Nasional  oleh UNESCO dalam program Man And Biosphere (MAB) –cagar alam dan budaya yang wajib dilindungi- merupakan tempat tinggal utama Suku Mentawai. Mereka berpencar dalam beberapa area sepanjang sungai sampai dengan hulu sungai di area perbukitan.

Dari 75 ribu total penduduk, sekitar 30 ribu yang menghuni Pulau Siberut, mayoritas adalah suku asli Mentawai, Suku Minangkabau, Suku Batak dan banyak pula Suku Nias. Suku-suku ini dianggap ‘saudara’ satu nenek moyang dengan Suku Mentawai.

Yang khas, Suku Mentawai tinggal di rumah yang disebut Uma,  sekilas mirip Rumah Panjang dalam Suku Dayak di Kalimantan. Uma adalah rumah panggung yang dibangun dari kayu dan bambu dengan atap daun nipah atau daun sagu yang dikeringkan.

mentawai-1d-menebang-pohon-saguBagian bawah panggung difungsikan sebagai kandang hewan ternak seperti babi dan ayam. Bagian atas terdiri atas 3 ruangan besar, yaitu ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu dan tempat berkumpulnya kerabat, ruang untuk tidur anggota keluarga serta dapur pada bagian tengahnya.

Sedangkan ruang belakang difungsikan sebagai tempat penyimpanan. Sebuah Uma bisa menampung lebih dari 15 orang yang terdiri atas 3 generasi, mulai kakek, anak dan cucu beserta masing-masing keluarga mereka.

Dapur, nampaknya berfungsi sebagai pusat aktivitas; tempat memasak hasil buruan, tempat menyiapkan hidangan upacara, pesta, dan jamuan bagi tamu, juga untuk mengolah sagu dan hasil kebun lain. Jangan kaget jika di dalam Uma kita menemukan tengkorak dan tulang-tulang binatang.

mentawai-2b-theresiaDipercayai roh binatang itu akan tetap ada di dalam rumah untuk melindungi ternak (babi) yang dipelihara agar tidak menjadi liar, melindungi anggota keluarga dan memudahkan mereka mendapat binatang buruan (rusa, babi hutan dan monyet) saat mereka nanti kembali pergi berburu.

Penempatan tulang-tulang itu diatur sedemikian rupa, belulang binatang ternak dipasang di sepanjang ruas atas pintu  depan, sedangkan tengkorak dan tulang binatang buruan diletakkan di ruang tengah, baik di atas tungku dapur, maupun di bagian ruas atas pintu menuju ruang dapur belakang.

Gambar-gambar binatang di dinding Uma, dibuat oleh para lelaki dalam keluarga. Gambar-gambar itu menyimbolkan kehidupan roh di alam bebas dan hubungannya dengan manusia. Terkadang kita temui juga gambar perisai. Itu menunjukkan bahwa keluarga yang tinggal di Uma tersebut pernah terjun dalam perang untuk membela kepentingan suku mereka. (naskah dan foto Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)