Rapal Doa Anak-anak di Wat Phra Kaew

The Grand Palace: Simbol Spiritual Siam (2)

Di antara 12 bangunan di Grand Palace, yang terbesar tentunya adalah Wat Phra Kaew. Tempat ini menjadi tujuan peziarah terutama warga lokal. Beberapa kali saya menjumpai rombongan anak usia sekolah yang bersimpuh mendengungkan rapal doa di sekitarnya.

grand-palace-11Disamping area tersebut terdapat sebuah bangunan cukup menarik perhatian saya. Selain karena di jaga oleh pengawal kerajaan berseragam atasan putih dengan helm senada juga karena desain bangunannya yang unik bergaya barat.

Sayang, mansion bernama Borom Phiman ini tertutup untuk publik. Saya hanya mengintip beberapa saat dari luar jeruji besi pagar yang tidak begitu rapat. Sekilas suasananya mirip kediaman kaum bangsawan.

Seorang penjaga yang berdiri kaku di pos dekat gerbang menjadi ‘makanan’  grand-palace-6turis untuk berfoto bersama. Bahkan tidak sedikit yang usil menggoda namun tak mampu membuatnya bergeming layaknya patung. Saya tersenyum memandangnya.

grand-palace-5 Saya lalu berjalan beberapa langkah ke arah selatan melewati beberapa gedung lain. Sebuah bangunan megah bergaya Eropa lain lainnya terlihat di kejauhan, Phra Thinang Chakri Maha Prasat yang artinya harfiahnya Aula Singgasana Chakri. Berukuran besar dan cukup mencolok.

Bangunan ini sebagian lantai bawahnya berfungsi sebagai museum persenjataan tradisional. Beberapa bagian lain digunakan sebagai kantor. Sementara bagian atas digunakan untuk menyimpan abu keluarga kerajaan. Bila diperhatikan bangunan ini sangat unik karena desainnya campuran.

grand-palace-1Struktur bagian bawah kental dengan nuansa Eropa, sementara bagian atas masih bergaya Thailand. Sepertinya menandakan negeri ini punya hubungan penting dengan bangsa Eropa di masa lalu. Walau sejatinya Thailand adalah satu satunya negara di ASEAN yang tidak mengalami kolonialisasi.

Begitu banyak bangunan cantik di kompleks ini, maka butuh waktu paling tidak seharian memang untuk menjelajahi satu persatu. Agenda lain di hari yang sama dan terik yang semakin memuncak memaksa saya untuk menuntaskan kunjungan menjelang tengah hari.

Setelah menelusur belasan dari sekitar 50-an bangunan, saya memasuki gedung terakhir yaitu Queen Sirikit Museum of Textile. Letak museum ini sedikit agak tersembunyi dekat dari pintu keluar. Tak heran hanya sedikit pengunjung yang mengetahui. Berkahnya, saya bisa berjalan jalan menikmati koleksi museum yang sepi dengan nyaman dalam ruangan berpendingin.

grand-palace-2Museum ini diresmikan Ratu Sirikit pada 2012 dengan memakai sebagian gedung Ratsadakorn-bhibhathana. Layaknya museum seni lainnya, penggunaan kamera di sini terlarang. Namun saya cukup puas mendapat begitu banyak informasi tentang seluk beluk tekstil tradisional Thailand. Apalagi dilengkapi dengan teknologi multimedia yang canggih.

grand-palace-7Pukul satu siang saya meninggalkan kompleks Grand Palace. Perjalanan singkat namun mampu menghipnotis benak dengan banyak hal dan menambah kekaguman saya pada Negeri Siam. Grand Palace memang hanyalah sebuah kompleks bangunan istana di mana juga terdapat di Nusantara.

Namun bedanya, pengelolaannya yang baik membuatnya menjadi terkenal. Terlintas khayalan saya seandainya istana-istana kerajaan maupun keraton di tanah air yang bila dikelola baik pastilah mampu memikat puluhan ribu wisatawan asing. (naskah dan foto: Dammer Saragih/editor: Heti Palestina Yunani/habis)