“RAKSASA”; Upaya Menanamkan Nilai-nilai Antikorupsi

Apa yang kiranya bisa menjadi cara untuk menyampaikan nilai-nilai integritas kepada anak-anak, remaja dan keluarga melalui kegiatan seni dan budaya? Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkolaborasi dengan komunitas seni budaya asal Bandung, Jendela Ide, siap menggelar pertunjukan teater musikal anak dan remaja berjudul “RAKSASA.”

Menurut Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK, Sujarnako, “RAKSASA” digelar karena KPK merasa tidak dapat bekerja sendiri dalam memerangi korupsi di Indonesia. Pihaknya perlu keterlibatan masyarakat dalam mengoreksi kondisi dan perilaku koruptif. Gerakan masyarakat ini harus dimulai dari lingkungan keluarga dan diri sendiri.

raksasa-1“KPK telah menggandeng komunitas dan masyarakat sejak dua tahun lalu dan cara ini terbukti cukup efektif dalam upaya pencegahan korupsi,” papar Sujarnako. Dijelaskannya, teater musikal “RAKSASA” merupakan salah satu upaya pencegahan korupsi yang pelaksanaannya melibatkan anak-anak dan remaja.

Lewat pertunjukan yang mendidik ini, KPK mendukung keluarga dalam membentuk karakter anak yang antikorupsi. Untuk sosialisasi, KPK fokus di enam provinsi, tetapi akan dikembangkan ke tempat-tempat lain di seluruh Indonesia. Tahun depan, KPK juga akan memperluas gerakan korupsi di sisi budaya.

Teater musikal “RAKSASA” bukan sekadar teater, tetapi ada nilai-nilai integritas yang bisa disampaikan kepada anak-anak. “Upaya-upaya pencegahan antikorupsi dilakukan oleh komunitas, lalu dikumpulkan dengan variasinya masing-masing. Harapannya, KPK punya bank story cerita integritas,” ujar Konsultan Konten Teater Musikal “RAKSASA”, Sely Martini.

Melalui teater musikal ini, anak-anak diharapkan dapat memahami, menghayati, mengaplikasikan, dan menyebarkan 10 nilai integritas yang terdiri dari jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil, dan sabar. Pemahaman mengenai nilai-nilai integritas penting.

Ini mengingat korupsi bukan lagi sekadar masalah hukum semata, melainkan sudah mengakar ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat yang luput dari perhatian hukum. Menurut Sutradara “RAKSASA”, Marintan Sirait, dasar pertunjukan teater musikal ini dari anak-anak. Sementara sutradara hanya memfasilitasi dan membantu anak-anak merealisasikan mimpi.

Menurutnya, sebenarnya Jendela Ide telah rutin mengadakan pertunjukan yang dibuat oleh anak-anak sejak tahun 1997. “Sejalan dengan upaya KPK dalam menyosialisasikan program-program pencegahan dan nilai-nilai antikorupsi kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja,” papar Marintan Sirait.

Renananya, “RAKSASA” akan diadakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 22-23 Desember 2016. Teater musikal yang diproduseri Budayawan Andar Manik dan disutradarai Seniman Marintan Sirait ini melibatkan anak-anak dan remaja sebagai pemeran.

raksasa-3Untuk memenuhi kebutuhan ilustrasi musik pada pelaksanaan pertunjukan, Jendela Ide telah menggelar Workshop Bunyi di 20 sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kota Bandung dan Jakarta. Selama workshop berlangsung, lebih dari 700 siswa diajak mengenal tata cara pembuatan bunyi serta membuat bebunyian yang selanjutnya direkam untuk menjadikan ilustrasi musik Teater Musikal “RAKSASA”.

Ilustrasi musik untuk Teater Musikal “RAKSASA” diambil pula dari album Suara Anak yang dibuat saat memeringati Hari Antikorupsi tahun lalu. Dari album Suara Anak tersebut, ada lima lagu anak karya anak-anak yang dipakai untuk memproduksi Teater Musikal ‘RAKSASA’, yaitu “Semangat Pagi”, “Udara”, “Pergi ke Sekolah”, “Pengembala Domba”, dan “Pergi ke Gunung”.

Teater Musikal ‘RAKSASA’ ini digagas anak-anak dan remaja dari Jendela Ide bersama KPK untuk memeringati Hari Antikorupsi 2016 dan merupakan tindak lanjut dari Prung! Gak Pake Korupsi di Peringatan Hari Antikorupsi 2015. Lia Endiani, panitia menambahkan, bahwa pertunjukan ini selaras dengan misi Jendela Ide yang fokus pada pengembangan perspektif budaya anak dan remaja.

Sebagai lembaga nirlaba, komunitas seni dan budaya asal Bandung yang didirikan oleh seniman, pendidik, dan ahli media komunikasi pada 1995 itu melakukan berbagai kegiatan seni rupa, teater, bahasa-sastra, olah bunyi dan gerak. Semua itu diwujudkan dalam program berkreasi, pameran, pertunjukan, pemutaran film, diskusi, pelatihan, penulisan, dan pendokumentasian. (naskah dan foto: Jendela Ide/editor: Heti Palestina Yunani)