Rahmi Melahirkan Bayi by Adefira Lestari

Di tengah malam yang masih berselimut gelap, Mangun tergopoh menuju kediaman Lurah Lukas. Ia mengayuh sepeda sedemikian cepat. Melewati kubangan air sisa hujan di jalan tak beraspal. Menerjang pekat malam tanpa penerang. Gerimis acap kali membuat matanya mengerjap-ngerjap. Napasnya buru-buru. Hingga, sepeda ontel yang merupakan satu-satunya warisan orang tua, hampir-hampir terperosok ke kali saat menyerempet pohon beluntas. Tubuh jangkung itu bergetar.

“Rahmi tak boleh mati!” celetuk Mangun entah kepada siapa. Sampai di pertigaan jalan, Mangun memperkecil kayuh sepedanya. Ia mengarahkan stang ontel itu ke kiri. Seketika, seberkas cahaya lampu menerangi. Wajah setengah tua yang seharusnya belum ia miliki itu, menampilkan kegelisahan yang sungguh sangat. Tangan kirinya mengusap peluh yang sesungguhnya tidak muncul. Dan, mata itu. Oh. Sedikit basah di bagian sudut. Bukan karena gerimis yang menyapu muka. Akan tetapi lebih menyerupai penyesalan lantaran sesuatu yang baru ia alami.

Beberapa waktu berlalu. Setibanya di kediaman Lurah Lukas, Mangun menyandarkan sepeda di batang mangga. Tampangnya masam. Membuka pagar kayu. Melangkah panjang dan cepat. Mengetuk pintu tanpa jeda. “Hei. Hei. Hei. Macam mana kau kusut begitu?” ujar Lurah Lukas yang masih membenahi sarung, setelah agak lama mendengar ketukan pintu. Tubuh tambunnya tampak terhuyung oleh kantuk. Mulutnya dibiarkan terbuka saat menguap. Pantaslah bila malam itu para warga tidur pulas. Hujan telah menciptakan hawa dingin hingga menembus bilik-bilik mereka. Begitu pula dengan Lurah Lukas.

“Rahmi, Pak. Rahmi! Dia melahirkan di kandang kambing,” wajah Mangun terlihat lebih pucat. Kali ini, ia benar-benar menitikkan peluh. “Oh!? Macam mana bisa begitu?”
***
Sungguh. Mangun teramat bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Wajahnya pucat. Dalam hati, Mangun sangat menyesal. Ia berjongkok di samping perbaringan Rahmi. Tangannya mengusap kening sang istri yang merintih terpejam dengan desahan sakit memilukan. Tak seharusnya aku membiarkan Rahmi memberi makan kambing malam itu, pikirnya. Sebab, sore harinya ketika Mangun kembali dari rumah Pak RT untuk membenahi genting bocor, Rahmi sudah mengatakan bila perutnya terasa mulas.
Mangun meraih tangan istrinya. Didekapnya tangan itu erat-erat. Rahmi, yang saat itu masih kotor oleh darah dan kotoran kambing, dibopong para tetangga tanpa sempat mengganti pakaiannya. Siapa yang pernah membayangkan akan melahirkan di kandang kambing? Hal itu pun sama sekali tidak pernah terlintas di benak pasangan suami istri itu.

Kehidupan rumah tangga Mangun dengan Rahmi memang sangat sederhana. Saban hari, mereka hanya makan dua kali. Tak terkecuali bagi Rahmi meskipun ia sedang hamil. Itupun, menu makanan yang mereka santap sekadar nasi dengan ikan teri goreng. Hidangan telur dadar sungguh menjadi hidangan istimewa yang akan muncul ketika Mangun berhasil membawa pulang uang lebih. Akan tetapi, meski menjalani kehidupan rumah tangga demikian, Rahmi merasa cukup bahagia dan bersyukur telah diperistri Mangun. Mangun lebih penyabar dan penyayang dibandingkan dengan Rosyid, lelaki yang dahulu pernah melamarnya.

Sebelumnya, Mangun sudah pernah berpesan kepada Rahmi agar jatah makannya ditambah. Ia berkali-kali merajuk. Dan Rahmi, berkali-kali pula menolak. “Aku sudah berdoa supaya jabang bayi kita senantiasa diberikan kesehatan oleh Gusti Allah. Kau tak usah khawatir begitu, Kang. Aku dan jabang bayi kita sehat. Buktinya, aku tak pernah mual-mual sejak pertama kali hamil hingga sekarang,” kata Rahmi sewaktu ia menuang nasi ke piring Mangun. Saat itu, usia kandungannya baru lima bulan. Di dalam genggaman tangan Mangun, mata Rahmi perlahan-lahan terbuka. Berat. Seperti ada sesuatu yang menarik katup mata itu. Rahmi teringat kepada bayi yang telah ia lahirkan.

“Mana bayiku?” ungkap Rahmi sangat lirih. Beberapa warga yang ikut nimbrung di kamar Rahmi, seakan tak tega melihat kondisi badan yang terbaring itu. Sebagian dari mereka kemudian keluar kamar. Dari kerumunan warga yang menyaksikan Rahmi, seorang wanita tua yang dipercaya merawat perempuan usai melahirkan, lantas memandang Rahmi dan Mangun secara bergantian. Ia berdiri di antara beberapa warga yang masih tinggal di sana. Dengan membuat gerakan sedikit mundur, wanita tua itu menganggukkan kepala kepada Mangun. Laki-laki itu berdiri. Loyo. Berjalan menuju rumah bagian belakang.

“Aku tidak tega,” ujar si wanita tua.
“Ini salahku. Seandainya aku tidak ketiduran, semua ini tidak akan terjadi,” di bawah pendar cahaya kekuningan, Mangun mengutuk diri.
“Bukan saatnya menyalahkan diri sendiri. Pikirkanlah bagaimana cara menyampaikan kepada Rahmi tentang bayi kalian.”
“Sungguh, Mbok. Aku tidak punya nyali untuk hal itu,” bulir bening yang jatuh dari bola mata Mangun, mengalirkan duka yang sangat mendalam. Ia merunduk terisak.
“Kau tidak boleh mengingkari rejeki,” rajuk Mbok Asri.
“Tidak, Mbok. Tidak. Aku tidak mengingkari rejeki. Aku hanya kasihan kepada Rahmi,” Mangun menutup mata dengan kedua telapak tangan.

Mbok Asri menepuk-nepuk punggung Mangun. Hening. Di bawah pendar cahaya kekuningan, tercipta ketegangan yang mencekam. Tiba-tiba, dari bilik yang terpisah dari perbaringan Rahmi, tangis seorang bayi memecah kesunyian menjelang pagi.
“Anakku masih hidup, Mbok?” Mangun memandang Mbok Asri. Keduanya tercengang. Sejenak, mereka bangkit dan menuju ke bilik sebelah.
***

Menjelang azan Subuh, hanya tinggal Mbok Asri dan Lurah Lukas yang masih menemani. Gerimis sisa hujan yang beberapa waktu lalu mengalun di atap rumah Mangun, lamat-lamat mereda. Namun, udara dingin masih menyertai. Melingkari siapa saja yang masih bernapas dengan hawa dingin membekukan. Di sebuah kamar tempat Rahmi memangku bayi, Mbok Asri masuk membawa sebaskom air hangat.
“Badanmu belum bersih betul. Usaplah dengan air hangat ini,” perintah Mbok Asri sambil mengulurkan sepotong kain.
“Mbok,” Rahmi menahan pergelangan tangan Mbok Asri. Sepasang mata mereka bertemu. Ada kegundahan yang bersarang di pelupuk mata Rahmi. Mbok Asri memegang tangan Rahmi, kemudian duduk di sampingnya.
“Ini semua sudah rezeki dari Gusti Allah. Kita tidak bisa mangkir, Wong Ayu.”
“Aku tidak mangkir, Mbok. Aku sudah bersyukur masih diperkenankan Gusti Allah merawat dia.”
“Nah! Bagus kalau begitu,” sahut Mbok Asri. “Lalu, apa yang kau pikirkan?”
“Panggilkan suamiku, Mbok.”

Dengan sekelumit pertanyaan yang masih tersimpan, Mbok Asri segera memanggil Mangun yang sedang berbincang dengan Lurah Lukas. Tak sampai dua menit, ketiga orang itu kembali ke kamar Rahmi.
”Kang, apa yang akan kita katakan kepada dia ketika sudah besar kelak?”
Semua yang ada di tempat itu diam. Sesaat kemudian, bayi yang tertidur di pangkuan Rahmi menangis. Ada setitik darah di balik gedongan kain yang membungkus tubuhnya.
“Apa kita harus jujur kalau dia dilahirkan di kandang kambing dan seketika itu pula jari kirinya dikunyah kambing? Apa kita juga harus berkata jika ia juga sempat tak bernapas?”

Mereka yang mendengar pernyataan Rahmi terhenyak. Tangis bayi berkelamin perempuan itu semakin melengking. Tubuhnya merah terbungkus kain. Rahmi menepuk-nepuk bayinya. Diberikannya air susu yang sebetulnya masih beberapa tetes. Di antara perasaan yang tak keruan itu, Rahmi mengalihkan pandang kepada suaminya. Matanya mengembun. Kemudian, saat Rahmi menikmati masa menyusui, air matanya tumpah ke pipi bayinya. Ia tersenyum simpul dan berkata, ”Anakku cantik sekali!”

Semarang, 23 Agustus 2015.

(naskah: Adefira Lestari (*)/ilustrator: Jansen Jasien/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Adefira Lestari. Pegiat Komunitas ViS (Vokal Institute Semarang). Alumnus LPM VOKAL Universitas PGRI Semarang. Pengajar Bahasa Indonesia di Semarang.