Pulang Tak Tahu Jalan Tetap Senang

Eksplorasi Sumba (4)

Tak berlama-lama bercengkerama, saya langsung nyebur ke dalam danau. Sejak datang, saya memang sudah tidak tahan jika tidak segera merasakan sejuknya air danau. Yang asyik itu, tidak ada orang lain yang berenang, hanya saya dan teman-teman. So, Danau Weekuri serasa kolam renang pribadi. Duh di mata saya, inilah kolam renang alami terbaik yang pernah saya coba. Sayangnya, salah satu dari matras balon yang saya bawa pecah terkena tajamnya karang di pinggir danau.

Seorang anak meminta matras balon kami katanya sayang jika tidak digunakan lagi, padahal baru. Nanti bisa ditambal kata anak tersebut. Biar seru, saya mengajak mereka untuk turut berenang bersama, sayangnya mereka tidak mau. Mungkin keindahan danau ini sudah jadi pemandangan sehari-hari dari mereka. Beda dengan saya yang baru terpesona.

Sekitar dua jam berada di Danau Weekuri, berenang dan menikmati kesunyian yang diciptakan tak jua cukup. Desau angin yang bergesekan dengan dedaunan dari pohon yang rindang, ditambah siulan burung dan bunyi deburan ombak dari kejauhan menambah semuanya sempurna. Ya, sempurna sekali rasanya berada di sini.

Sebelum pulang, tak lupa saya mengisi buku tamu yang baru disodorkan oleh seorang penjaga pos yang baru dating usai saya berenang. Ternyata, sesiang itu saya pengunjung pertama hari itu di Weekuri. Kembali tentang kesasar tadi. Sepulangnya dari Weekuri, kejadian serupa itu ternyata terjadi lagi. Saya tetap harus bertanya pada penduduk setempat ke mana jalan pulang. Seru.

sumba-sunsetUntuk yang pemula ke sini, komunikasi dengan penduduk lokal sangatlah penting mengingat mereka yang lebih mengenal lokasinya. Sebab Andre yang notabene sebagai masyarakat Sumba ternyata belum begitu mengenal pariwisata di daerah asalnya. Seharusnya untuk keliling Sumba saya ditemani Nicco (Manajer Mario Hotel). Cuma ia sedang menemani atasan yang sedang berada di Sumba.

Tetapi nyasar kali ini membawa hikmah. Saya tetap menikmatinya karena saya sempat melihat betapa indahnya samudera luas di Sumba yang terkenal dengan ombak yang besar dari atas tebing. Samudera luas tanpa batas dengan langit biru tanpa jejak awan. Sangat menyejukkan mata. Sayangnya saya tidak sempat mengabadikan foto karena tidak turun dari mobil dengan pertimbangan mengejar waktu untuk menuju Pantai Watu Maladong. Ah mana lagi itu? Yang pasti pantai itu juga indah. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)