Puas-puaskan Jalan Kaki Berkeliling

Dua Hari Menikmati Paris (2)

Setelah hari pertama di Paris sempat menikmati rute Metro dan mengunjungi Menara Eiffel, rencana saya semula di Paris hari ke dua diisi dengan mengunjungi Istana Versailles, kawasan St Mitchel dan mengunjungi Grand Mosque. Tapi acara ke Versailles terpaksa dicoret karena sehabisparis2-2 sarapan kami yang mengikuti tur mesti kumpul-kumpul dulu untuk sekedar briefing, menyiapkan kopor-kopor untuk dititipkan ke luggage room.

Semua urusan itu membuat pukul 09.00 lewat kami baru bisa ke luar hotel. Padahal kalau mau ke Versailles yang lokasinya di pinggiran kota, mesti berangkat pagi-pagi. Akhirnya kami (saya, istri dan beberapa teman rombongan), menunju ke kawasan St. Mitchel. Turun dari Metro di belakang Gereja Notre Dame yang tersohor itu, kami melihat bangunan gereja yang menurut saya tidaklah terlalu istimewa.

Tapi lokasinya yang berada di tengah-tengah Sungai Rheine itulah yang menarik buat dikunjungi. Menariknya lagi, di beberapa jembatan yang menghubungkan gereja ini, banyak yang memasang gembok cinta, di pagar jembatanya. Kalau ingin merasakan sensasi berlayar menyusuri Sungai Rhein, rupanya dari situlah tempat salah satu tempat naik turunnya kapal.

kapalSebenarnya kami semua ingin naik kapal, tapi karena masih kepagian, kami memutuskan untuk jalan-jalan kaki saja menyusuri pinggir kali sampai menyeberang ke kawasan St. Mitchel. Sepanjang jaln kami menikmati keindahan bangunan-bangunan tua yang masih terjaga utuh dan megah. Kami terus berjalan sampai ke kawasan Sorbone University. Sayang lagi liburan Paskah, jadi suasananya sepi.

Kami terus saja berjalan tanpa ada tujuan yang jelas namun menyenangkan. Selama jalan-jalan saya membayangkan Jakarta bisa punya trotoar yang nyaman buat jalan-jalan seperti ini; lengang, luas, tak ada pedagang kaki lima. Tak terasa acara jalan-jalan itu sampai memasuki kawasan Paris St Germany. Sayang saya tak menemui stadionnya. Sampai perut mulai terasa lapar, ahirnya kita kembali ke kawasan St. Mitchel, dengan bantuan arahan dari seorang warga karena sempet salah arah.

paris2-5Setelah pilah-pilah, kami memilih satu restoran Jepang untuk mengganjal perut. Selesai urusan perut, dilanjut dengan acara memilih pernak-pernik buat sekadar kenang-kenangan untuk dibawa pulang. Saya dan istri tak berani bawa banyak-banyak buat oleh-oleh karena harganya lumayan mahal, dan kebanyakan produknya made in China. Ketika asyik memilih-milih souvenir, saya melihat ada bus Hoop-On Hoop-Off. Itulah bus yang bisa dinaiki seharian.paris2-1

Enaknya, pada titik-titik tertentu kita bisa turun, dan nanti naik lagi dengan bus sejenis. Rupanya di situ salah satu titik pemberhentian. Tiket bus ini Euro30 per hari. Sopir menawarkan kalau tidak pakai turun naik turun naik, tapi ikut keliling-keliling saja kami boleh membayar Euro15. Dasar orang Indonesia yang selalu hemat, kami memilih yang Euro15, walaupun setelah dipikir-pikir rugi juga nggak bisa turun di titik-titik yang menarik.

paris2-4Tapi seru juga sih, bisa berkeliling Kota Paris dengan bis Hoop-On Hoop-Of ini. Kebetulan cuaca cerah jadi kami memilih duduk di atap bus sehingga bisa menikmati keindahan Kota Paris dan mengabadikannya dengan kamera. Yang paling seru waktu satu putaran keliling Paris hampir selesai, kami meminta tolong sopir untuk mennunjukkan Stasiun Metro yang menuju ke masjid.

Rupanya si sopir adalah orang Aljazair. Jadi dia bukan cuma menunjukin arah stasiun, tapi dia mengantar kami sampai ke dekat Grand Mosque. Sehingga kami tinggal jalan kaki beberapa ratus meter saja. Kompleks Grand Mosque menempati satu blok diapit dua jalan. Sisi sebelah timur, seberang Museum Nasional merupakan kantor/ tempat tinggal pengurus, dan di pojokannya ada rumah makan halal yang enak dan murah.

paris2-3Di sisi barat, ada semacam madrasah dan masjid. Masuk gerbang masjid, belok kiri merupakan ruang pertemuan dan ruang pameran, kalau mau salat belok kanan, ruangan utama masjid. Di antara masjid dan ruang pertemuan, ada kolam yang mestinya sangat cangat cantik. Sayang waktu itu air mancur sedang tidak dihidupkan sehingga kami tak bisa melihat keindahannya.

Setelah melakukan salat Dhuhur dijama’ Ashar, dan potret-potret, kami balik ke hotel dengan Metro, yang stasiunnya tidak terlalu jauh dari masjid. Sampai di hotel, kami kembali packing untuk meneruskan perjalanan ke Amsterdam dengan bus malam Euro Line. Pukul 21.00 kami menuju ke pool bus malam, di sebelah mall depan hotel. Pukul 22.00 lewat sedikit bus berangkat menuju Holland. Lucunya ternyata 80 persen penumpangnya ternyata orang Indonesia. Maka justru orang-orang Eropa dalam bus itulah yang orang asing, bukan kami, hahaha. (naskah dan foto: Hanif/editor: Heti Palestina Yunani)