PROF LIZAR ALFANSI: Saya Mau Turis Aman dan Nyaman

profesor (9)Dua kali menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri, membuat Prof Lizar Alfansi SE, MBA, PhD sering melakukan traveling. Bukannya membandingkan dengan pariwisata di manca, namun Lizar makin banyak tahu beberapa hal pelajaran penting bagi Indonesia untuk mengembangkan pariwisatanya.

Karena itu, oleh PADMagz, laki-laki kelahiran Muara Enim 1 Juni 1964 ini ditarik untuk membincangkan tentang pariwisata di Indonesia. Sebagai peraih PhD di bidang marketing yang diraihnya dari University of Exeter, England, 2001, anak pasangan H Gozali Jemat dan almh Hj Sania ini begitu tampak luas pengamatannya.

Overall, Lizar menilai perkembangan industri pariwisata Indonesia sangat berkembang. Pengamatannya ini bisa dilihat dari jumlah turis asing yang masuk ke Indonesia. Pertumbuhan jumlah turis asing di Indonesia selama tiga tahun terakhir, dinyatakan Lizar cukuplah baik, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 9,4%, 7,2%, dan 10,3%.

Pada tahun 2015, jumlah turis asing yang mendatangi Indonesia 10,41 juta atau 3,7% dari total pasar pariwisata global yang berjumlah 1,19 miliar. Jumlah ini relatif kecil jika kita bandingkan dengan pariwisata negara tetangga.

“Misalnya, pada tahun 2015, Malaysia bisa mendatangkan turis asing sebesar 25,72 juta, Thailand menampung 29,88 juta, dan Singapore bisa mendatangkan turis asing sebanyak 12,05 juta (the United Nations World Tourism Organitation, 2016),” kata putra ke lima dari 8 bersaudara ini dibesarkan di kota dingin Curup itu.

profesor (5)Namun di tingkat global, menurut Lizar yang memperoleh gelar guru besar dalam bidang Manajemen Pemasaran pada 2010 itu, perkembangannya masih jauh. Ini setidaknya dibandingkan dengan lima negara terbesar destinasi wisata adalah Prancis (84,5 juta), USA (77,5 juta), Spanyol (68,2 juta), China (59,6 juta), dan Italia (50,7 juta).

Perkembangan pariwisata Indonesia bisa juga dilihat dari indeks daya saing pariwisata global, Tourism and Travel Competitiveness Index yang dikeluarkan oleh World Economic Forum. Sepuluh negara yang memiliki daya saing pariwisata tertinggi di dunia didominasi oleh Eropa yaitu Spanyol, Prancis, Jerman, US, UK, Swiss, Australia, Italia, Jepang, dan Canada.

Melihat gambaran pengantar yang disampaikan, peraih sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Bengkulu tahun 1988 dan peraih gelar Master of Business Administration dari University of Central Arkansas, USA, 1992 itu tak mengajak pembaca pesimistis. Justru menurut suami Roosemarina Anggraini Rambe itu, Indonesia punya banyak peluang untuk menjadi destinasi unggulan dunia.

Berikut obrolan bapak dari tiga Annis Zarina Alfansi (11 Juni 1996), Nabila Devonia Alfansi (15 Oktober 2001), dan Jasmin Kalila Alfansi (20 Oktober 2008) itu bersama PADMagz, yang sangat gamblang menjelaskan peluang Indonesia dalam sisi pariwisatanya. .

Dari penjelasan awal Anda di atas, sebenarnya bagaimana daya saing pariwisata Indonesia Prof?

Daya saing pariwisata Indonesia memang masih jauh di bawah. Kita lihat tahun 2015 saja daya saingnya berada pada peringkat 50 dunia. Itu saja di bawah Singapura (11), Malaysia (25), dan Thailand (35). Tapi posisi ini menurut say sih jangan membuat kecil nyali, Indonesia memiliki banyak variabel untuk didorong perkembangan pariwisatannya.

Sebagai akademisi bidang marketing, bagaimana cara mengukur perkembangan industri pariwisata di sebuah negara?

Indeks daya saing pariwisata ini diukur dengan empat variabel besar:

  1. Enabling environment (lingkungan bisnis, keselamatan dan keamanan, kesehatan dan kebersihan, sumberdaya manusia dan pasar tenaga kerja, dan kemelekan IT).
  2. Travel and tourism policy and enabling condition (skala prioritas T&T, keterbukaan internasional, daya saing harga, dan keberlanjutan lingkungan.
  3. Infrastuktur (infrastruktur transportasi udara, infrastruktur pelabuhan dan darat, dan infrastruktur layanan pariwisata).
  4. Sumber daya alam dan budaya (sumber daya alam, sumber daya budaya dan perjalanan bisnis.

Nah berdasar variabel itu seberapa optimistis pariwisata Indonesia mampu menghidupi negara?

Menurut kemenpar, kontribusi pariwisata terhadap PDB Indonesia sebesar 4,23% pada tahun 2015 dan menyerap tenaga kerja sebesar 12,16 juta orang. Penerimaan devisa pariwisata menunjukkan tren positif selama tiga tahun terakhir, yakni US$9,12 miliar, US$10,26 miliar, dan US$10,76 miliar selama tahun 2013-2015.

Pangsa pasar Indonesia terhadap pariwisata internasional pada tahun 2015 sebesar 2,6% penerimaan pariwisata global. Jika Indonesia mampu memperbaiki daya saing pariwisata, Indonesia akan lebih banyak lagi menghasilkan devisa. Di samping itu, pertumbuhan pariwisata ASEAN cukup besar 7,6% di tahun 2015.

Apa artinya?

Ya diperkirakan pertumbuhan ini akan tetap baik di masa mendatang. Munculnya kelas menengah baru di berbagai belahan bumi, terutama dari China, harus bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Bagi sebagian konsumen kelas menengah, kebutuhan wisata merupakan kebutuhan kedua setelah kendaraan.

Di samping itu,  munculnya halal tourism merupakan peluang yang harus ditangkap Indonesia dengan serius. Para turis dari Timur Tengah umumnya merupakan segmen konsumen kelas atas.

Melihat hal itu, apa yang dapat dilakukan oleh pelaku wisata?

Ada dua hal. Pertama, lakukan upaya bagaimana turis bisa lebih lama tinggal di Indonesia. Semakin lama mereka tinggal di Indonesia, semakin besar devisa yang masuk. Pendekatan ini tentu saja sangat tergantung dengan bagaimana inovasi produk dan layanan wisata kita.

Kedua, bidik turis yang paling banyak belanja selama mereka berwisata. Turis yang berasal dari China, Amerika, Jerman, UK, dan Prancis merupakan the five biggest spenders dalam dunia wisata. Selama ini, turis asing yang paling banyak masuk ke Indonesia berasal dari Singapore, Malaysia, dan Australia.

Thailand berhasil melakukan strategi ini dengan baik, dengan secara khusus membidik pelancong asal Tiongkok pasca musibah penerbangan MAS yang banyak menelan korban warga China. Meski Thailand tidak masuk dalam top 10 destinasi pariwisata internasional terbesar, mereka berada di peringkat ke 6 sebagai negara penghasil devisa pariwisata tertinggi di dunia. Jadi, dengan pendekatan pemasaran yang benar, saya yakin tourism bisa diandalkan untuk meraih devisa.

Menurut Anda, apa sih kelebihan Indonesia dibandingkan pariwisata negara lain, let say Thailand?

Sebetulnya, Indonesia memiliki potensi alam, sejarah, dan budaya yang luar biasa. Menurut Travel and Tourism Competitiveness Report 2015 yang dikeluarkan oleh World Economics Forum, Indonesia memiliki keunggulan bersaing pada aspek harga (peringkat 3), kekayaan sumberdaya alam (peringkat 19), termasuk keragaman hayati (peringkat 4), dan situs bersejarah (peringkat 10).

Barangkali dari segi jumlah dan keragaman produk wisata, kita lebih baik dibandingkan dengan berbagai negara di ASEAN, termasuk Thailand, negeri yang paling banyak menyedot wisatawan asing di ASEAN di tahun 2015. Akan tetapi manajemen pariwisata kita tidak baik. Kemasan produk pariwisata Indonesia kurang baik dan inovasi produk pariwisata kita lamban sekali.

Selain itu?

Di samping itu, infrastruktur pariwisata kita secara umum jelek, dan industri pendukung pariwisata masih kalah jika dibandingkan dengan industri sejenis di negara tetangga. Hanya Bali yang bisa kita sejajarkan dengan destinasi wisata internasional berkelas dunia.

Sebetulnya banyak pulau-pulau di Indonesia yang tak kalah indah dengan Phuket dan Koh Samui di Thailand. Di Sumatra ada Nias, Belitong, Siberut, pulau-pulau kecil di Lampung, dan Enggano di Bengkulu yang memiliki potensi keindahan wisata pantai dan laut yang luar biasa.

Kita punya Bunaken, Raja Ampat, dan Lombok yang terus berbenah diri. Flores dengan ratusan spot wisata budaya, laut dan alam lainnya. Pulau-pulau kecil di Maluku juga bagus. Tetapi untuk mendatangkan turis asing dan bersaing dengan berbagai resort island kelas dunia lainnya, kita harus memperbaiki infrastruktur wisata dan mengemas produk kita dengan apik untuk bisa menarik wisatawan asing.

Apa kendala untuk membenahi semua itu?

Branding pariwisata kita belum baik. Saya pernah secara tidak sengaja menonton tayangan program di BBC Knowledge yang mengisahkan 10 ledakan volkano terdahsyat di dunia. Hasilnya, tiga ledakan terbesar terjadi di Indonesia, Gunung Krakatau (no 3), Tambora (no 2), dan Toba (no 1).

Konon, kedahsyatan ledakan Toba menghilangkan sepertiga umat manusia dan bebatuan akibat ledakan Toba tersebut pernah ditemukandi Kanada. Sayangnya, tidak ada yang mengemas fenomena alam masa lalu yang sangat luar biasa ini dalam branding pariwisata ketiga daerah di mana gunung berapi tersebut berada.

Apa yang seharusnya pemerintah dan masyarakat pariwisata lakukan untuk menjadikan pariwisata sebagai  sumber devisa?

Menurut saya, ada yang salah dengan pariwisata Indonesia.  Dengan keunggulan keragaman dan keindahaan alam dan budaya, kenapa kita kalah jauh dengan Thailand dan Malaysia dalam memasarkan pariwisata? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan pelaku wisata.

Pertama, tingkatkan daya saing pariwisata Indonesia, dari no 50 dunia menjadi 20 dunia dalam waktu lima tahun.Pelajari semua butir indeks daya saing pariwisata global. Dari empat dimensi besar daya saing, Indonesia sangat lemah pada dimensi infrastruktur jalan, pelabuhan, dan bandara, dan infrastruktur layanan turis.

Daya saing Indonesia pada asplek lingkungan bisnis dan kemelekan IT juga perlu masuk kategori rendah. Sementara itu, isu keberlanjutan lingkungan juga perlu menjadi perhatian serius. Gunakan STP; segmentation, targeting, dan positioning untuk merancang strategi pemasaran pariwisata Indonesia untuk memenuhi kebutuhan turis yang beragam.

Beberapa variabel dapat digunakan sebagai basis segmentasi seperti tujuan wisata, pendapatan, pengeluaran wisata, dan agama (halal tourism), kawasan asal turis, dan MICE (meeting, incentives, conferences, dan events) untuk memetakan turis asing. Hasil kajian segmentasi bisa digunakan Indonesia untuk membidik segmen pasar yang dapat dilayani dengan baik dan memosisikan pariwisata Indonesia di benak konsumen internasional.

Dengan kebijakan bebas visa Indonesia bagi beberapa negara, pandangan Anda?

Kebijakan ini akan menguntungkan Indonesia dalam jangka panjang. Salah satu butir indeks daya saing pariwisata adalah keterbukaan international. Kebijakan ini akan meningkatkan skor daya saing pariwisata Indonesia dari pilar T&T Policy, khususnya dari sisi keterbukaan internasional.

Harus diingat skor keterbukaan internasional Indonesia relatif rendah di mata dunia, bahkan laporan Travel and Tourism Competitive Index menyebutkan skor Indonesia pada aspek ini lebih rendah daripada skor yang diraih oleh Malaysia, Thailand, dan Singapore.

Di samping itu, jika rencana bersama negara ASEAN untuk mengeluarkan visa tunggal, keterbukaan internasional Indonesia akan jauh lebih baik di masa mendatang. Kebijakan bebas visa seperti yang diterapkan Eropa dengan schengen area merupakan salah satu alasan mengapa Eropa dapat menyedot 51% pangsa turis internasional, di samping infrastruktur layanan pariwisata yang berkelas dunia dan aspek keselamatan dan kesehatan yang sangat baik.

Attitude masyarakat pariwisata saat ini masih dipegang Bali sebagai ikon, bagaimana mengubah perilaku masyarakat Indonesia agar sadar pariwisata?

Masyarakat Bali sudah menyadari bahwa kehidupan mereka banyak bergantung dengan tourism. Karena itu, mereka secara sukarela menjaga keberlangsungan pariwisata Bali. Mereka menyebut turis sebagai tamu dan setiap orang berupaya untuk bersikap santun terhadap turis.

Di Bali, seperti juga di Singapore, Phuket, atau Dubai, Anda tidak merasa kuatir sedikit pun ketika Anda berjalan kaki tengah malam. Kemenpar harus mengampanyekan program sadar wisata kepada semua pemangku kepentingan pariwisata di destinasi wisata terpilih di Indonesia. Tugas utama stakeholder adalah merubah persepsi dan perilaku pelaku wisata dan masyarakat di sekitar destinasi wisata.

Ada hal-hal lain?

Dalam konsep piramida hirarki kebutuhan wisata, keselamatan dan kesehatan merupakan kebutuhan mendasar konsumen atau turis. Karena itu, tugas pemangku kepentingan dan masyarakat adalah menciptakan kesan aman buat Indonesia. Kesan aman itu harus dimulai dari pintu masuk seperti pelabuhan dan bandara.

Kesemrawutan bandara di Indonesia memberikan kesan negatif terhadap Indonesia. Misalnya, peristiwa penumpang internasional yang diarahkan ke terminal domestik tanpa melalui imigrasi menimbulkan kehebohan yang luar biasa. Pencurian sistematis yang dilakukan oleh porter menimbulkan kesan negatif.

Bagi turis asing, Bandara SUTA menimbulkan kesan yang menakutkan; calo, pedagang asongan, dan ojek bebas berseliweran menawarkan produk dan jasa. Anda bayangkan betapa stresnya turis asing yang masuk di bandara Jakarta tengah malam. Harapan saya, berilah turis rasa aman dan nyaman.

Hmmm kompleks juga ya? Kalau berdasarkan pengalaman Anda pribadi, apa yang juga harus dibenahi di lokasi destinasi wisata itu?

Banyak ya tapi prinsipnya bersihkan pariwisata kita dari pelaku bisnis yang tidak bertanggung jawab, termasuk para penjaja yang sering melakukan hard selling. Mereka kan terbiasa memaksa pembeli, yang mengeruk keuntungan sesaat dengan memanfaatan ketidaktahuan turis.

Satu lagi, kebersihan dan kesehatan masih merupakan isu serius di hampir semua destinasi wisata di Indonesia, terutama di daerah. Manajemen sampah yang buruk, perilaku hidup masyarakat dan organisasi yang tidak ramah lingkungan seperti isu penggundulan hutan di Indonesia cukup berpengaruh.

Itu yang membuat keberlanjutan sumberdaya alam pariwisata Indonesia masalah yang seharusnya diantisipasi oleh pemerintah sejak dini. Makanya penting melakukan kampanye untuk mengajak masyarakat dan pelaku wisata untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan harus menjadi kebijakan prioritas pemerintah. (naskah: Wina Bojonegoro/foto: pribadi/Heti Palestina Yunani)