Potongan Kisah dari Ternate by Indrian Koto

Kau mendengar Gamalama meletus dan Kelurahan Tubo disebut-sebut di televisi? Kabar soal letusan gunung yang terabaikan oleh berita politik, konspirasi dan korupsi membuatmu kehilangan informasi lebih jauh. Ketika gerakan mahasiswa dipukul mundur dari lapangan udara Babullah, kau teringat pada malam-malam terakhir di Benteng Kalamata. Kau seolah memiliki kota yang tak sampai seminggu kau tinggali. Kau merasa memiliki kenangan melebihi siapa pun.

Kau mengingat semuanya dengan baik Taman Dodoku Ali, Keraton Sultan Ternate, Batu Angus, Pantai Sulamandaha. Di Tubo, sehabis tarian di tengah malam itu, kau menarik penyair perempuan yang masih ranum menjauh dari keriuhan dan mengecupnya dalam kelam. Secepat itu ingatanmu tertuju pada Batu Angus, Pantai Sulamandaha, Lapangan Ngara Lamo, Danau Laguna, acara sastra yang entahlah, serta kepulangan yang tertunda.

“Ketika kita di bandara aku melihat hutan terbakar di puncak Ternate, apakah ketika itu Gamalama merasa kepanasan?” kau berkata pada seorang kawan, yang sama-sama berangkat ke Ternate, lewat pesan singkat.

“Kau masih merindukan gadis itu, gadis yang bahkan namanya pun kau tak tahu?” dia membalasmu. Kau tahu, itu semacam lelucon biasa yang tak perlu kauladeni. “atau bibir panas dari penyair perempuan?”

Ah, apakah itu rahasia?

Namun kau selalu mengingat dengan baik semuanya. Seperti inilah jika suatu kali kau hendak ceritakan pada seseorang yang kau percaya:

  • Tentang Kota

Di hari kedatanganmu, sekeping uang 1000 raksasa di lobi hotel menarik perhatianmu. Kau merogoh kantong, Pulau Maitara dan Tidore. Bergegas kau bertanya di mana itu pulau dalam uang seribu berada. Seorang pegawai dengan kesopanan seorang kerani sekaligus kebanggaan seorang yang merasa diabadikan, menunjuk lurus ke depanmu, ke gugusan pulau-pulau membentang yang terpampang dari hotel di ketinggian. Kau mengambil kamera, meminta rekanmu memotret dan mengabadikan dirimu sesegera mungkin. Kau menyambar beberapa sastrawan yang pernah kau dengar namanya, kau lihat wajahnya, tak melulu kau baca karyanya, lalu mengabadikan wajah kalian dalam beberapa jepretan. Siapa pun yang bisa dijangkau. Lalu halaman hotel penuh dengan orang-orang yang mengabadikan dirinya, layaknya seorang pelancong. Cahaya kecil dari kamera menyambar-nyambar.

Beberapa pemuda seusiamu yang baru kau kenal di sini yang datang entah dari kota mana sibuk dengan kamera besar mereka pula. Mereka yang kau tak tahu menulis puisi, cerpen atau kedua-duanya, tampaknya lebih fasih membicarakan sudut pengambilan gambar daripada sudut penceritaan sebuah karya. Mereka sampai seterusnya demikian rajin mengabadikan setiap peristiwa. Layaknya turis, kalian gampang terpukau dengan yang baru, mengaguminya sekejab, mengabadikan segala yang tampak menakjubkan lalu mengabaikan setelahnya.

Ternate sebuah kota yang “dipaksa” menjadi induk provinsi. Sumpek dan padat. Jalanan kecil tetapi bising lenguh angkutan. Bahkan di sudut paling lengang di kota ini, ketika kau naik angkutan umum kau mendengar Celene Dion melolong-lolong dengan Power of Love. Jenis musik lain yang akrab selain musik-musik yang membuat tubuh bergoyang di dalam kendaraan dan kota yang panas. Musik menjadi penting dalam angkutan. Entah sebagai hiburan atau mengalihkan rasa sumpek dan panas yang barangkali demikian abadi. Kau mengingat satu-dua dengan angkotnya yang menakjubkan: Makassar dan Padang!

  • Gadis Ternate

Tanpa perlu meminta pendapat siapa pun, kau meyakini gadis Ternate memang cantik. Kau terpesona dan dibuat kaget olehnya. Kau salah dengan bayangan sendiri ketika merasa di Ternate kau akan menemukan gadis eksotik, berkulit dan beraroma pantai. Seperti gadis-gadis lainnya yang bisa kau temukan di Jawa, mereka perawan-perawan ranum bercelana separuh paha, baju dengan punggung dan ujung celana dalam yang tersembul, kaos ketat dengan dada mengambang, rambut perponi lurus panjang.

Kau merasa kota ini dikutuk Rhoma Irama dengan muka pucat, darah berkurang, segala penyakit pun akan mudah datang. Rhoma salah, di sini wajah mereka berseri dan kemerahan.

Ramah dan terbuka. Itu kesan yang kau tangkap ketika berhadapan dengan LO yang terdiri dari belasan gadis-gadis di usia belasan. Gadis-gadis yang disiapkan untuk menyambut tamu sepertimu, dibesarkan oleh Dinas Pariwisata dengan tinggi dan wajah yang sudah diduga sejak mula. Dari temanmu kau tahu bahwa mereka adalah anggota paskibra. Pantas saja.

Tapi temanmu keburu kagum dan mulai berburu LO, menyiapkan banyak rencana dan perangkap untuk memikat gadis timur ini.

“Paling tidak bisa koleksi foto di facebook,” kata temanmu ngakak.

“Dasar penyair,” rutukmu dalam hati.

  • Acara Sastra

Di kebanyakan acara sastra semacam ini, para penyair menjadi lebih genit dan melebihi gaya pelancong, kira-kira begitulah pikiranmu ketika itu. Mereka berjalan saling berkelompok, sebagian dengan yang sudah mereka kenal sebelumnya. Entah mereka pernah bertemu di suatu tempat, kawan berbincang dan bersapa di jejaring sosial dan pesan singkat, bisa juga orang yang saling bertemu di acara sastra berbeda dengan kegirangan yang sama pula. Sejumlah sastrawan sibuk menjepret dan berpose di tempat-tempat yang dianggap penting dan masuk akal dari sebuah kota ketimbang bersuntuk-suntuk dengan mana besar dan mentereng, atau berdialog dengan mereka yang kelewat hati-hati menjaga diri. Buat apa? Toh, mereka bisa dilihat di facebook dan mengabarkan semua aktivitasnya. Sampai kita mau muntah, malah. Itulah yang kaupikir saat itu, lalu memilih berjalan-jalan dengan teman-teman yang kauanggap seangkatan. Riang, penuh lelucon, berambisi—meski tak selalu berisi, dan bercita-cita hebat.

Ini bukan pertama kali bagimu. Ada banyak acara sastra yang digelar sepanjang tahun. Ada puluhan diskusi yang disajikan. Ada ratusan makalah yang selesai di ruang seminar. Mungkin berjalan-jalan jauh lebih menarik ketimbang suntuk di acara-acara diskusi, yang orang dan pembicaraannya bisa kau temukan di lain waktu. Tapi ke Ternate, ahai, bisa jadi kau tak akan mengulang kisah yang sama. Dan lihatlah LO dengan senyum pariwisata itu, terlalu lupel dan ramah dan sudi mengantarkanmu ke mana kau suka. Mereka selalu bisa tersenyum sepanjang pagi hingga malam, bercakap-cakap dengan kalian bahkan di luar acara yang bersangkutan atau terkait persoalan geografis dan sejarah.

“Aku bahkan sudah singgah di Danau Laguna Keliling ternate dengan angkot. Kau tahu, tiga orang LO menemani kita,” kata temanmu yang lain bercerita di sesi makan pagi, hari kedua kalian di sana.

“Kapan itu?” tanyamu penasaran.

“Kemarin, ketika seminar berlangsung membosankan,” katanya dengan ekspresi yang sungguh-sungguh. Kau merasa temanmu menjelma seorang besar, dengan karya hebat dan monumental, memahami semua teori dan persoalan sastra dan orang lain tak ada-apanya. “Dan siang ini saya berencana menyeberang ke Sofifi, Halmahera.”

“Pas acara diskusi?”

“Kapan lagi? Hanya sesi itu yang bisa kita curi dan tak tercatat dalam agenda,” katanya tergelak. Kau tersenyum sedikit. Bukankah untuk diskusi itulah sebenarnya kalian datang dari jauh?

“Rencananya sore ini saya mau ke Tidore lagi.” Kawanmu kembali bercerita sambil memainkan kameranya dan memamerkan beberapa gambar cantik untukmu. Pose-pose dia dan rekan-rekannya bersama LO dengan kegirangan anak muda, mengangkat tangan, membentangkan dua jari tangan di sisi wajah, mengembangkan tawa gembira.

Kau tentu ingin mengelilingi Pulau ternate yang menjadi ibukota provinsi sementara yang jalan-jalannya mirip daerah di Wonosobo sana. Kau ingin mengunjungi danau Laguna, menyeberang ke Sofifi, naik speed boat ke Tidore. Mana yang lebih penting sebenarnya, jalan-jalan dan mendokumentasikannya lewat foto, atau terlibat di acara yang justru seringkali terabaikan?

Ke mana hati membawa saja, begitu pikirmu dan menyudahi makan pagi. Beberapa sastrawan lain masih belum bangun dari tidur. Ruang makan sepi tetapi riuh.

  • Ditaksir Fans

Tak sulit bagimu menemukan teman wanita. Siapa yang tak mengenalmu di sini, di antara para penulis yang sama-sama mengagumi koran minggu sedemikian rupa? Dan wajar saja jika bertemu seorang gadis, mengaku penyair, ah, ini tak lagi istimewa sebenarnya, begitu bahagia mendapatkan kesempatan bicara denganmu.

“Kau ternyata sangat murah hati, tidak sesadis dan dingin seperti tokoh-tokoh dalam cerpenmu,” ujar sang gadis penuh ketakjuban.

“Oh ya? Yang seperti apa misalnya?”

“Ah… Aku membaca hampir semua cerpenmu. Aku punya dan sudah membaca bukumu. Mungkin orang pertama yang memposting covernya di facebook selain penerbit dan dirimu.”

Dia mengekor ke mana pun kau pergi. Buatmu tak ada masalah. Beberapa sastrawan besar mengalaminya, begitu yang kau tahu dari cerita-cerita lisan. Kau banyak mendengar tentang hubungan sastrawan dan penggemar. Memang tidak seriuh para selebritis, tapi beberapa sastrawan—barangkali yang terpilih—mengalami keajaiban yang diinginkan. Dan bukankah tak mungkin kau adalah salah satu sastrawan terpilih itu? Jadi, siapa bilang sastrawan tak punya fans?

  • Pantai Sulamandaha

“Ada lima desa di Pulau Hiri. Penduduk kebanyakan kebun dan melaut.”

“Oh, kalau ikan bagaimana, Pak?” Kau berada dalam perahu di Pantai Sulamandaha ditemani gadis cantik dari timur yang mendekat padamu sejak perjalanan tadi pagi. Ah, sejak dari semalam sebenarnya. Sesi jalan-jalan yang tentu tak ingin kau abaikan. Persetan dengan panitia yang tak ada, pikirmu, seperti kau mempersetankan hal-hal yang berhubungan dengan teori apalagi politik kesusastraan.

“Ada banyak ikang di sini. Ada Ikang Dasar, Ikang Merah, Ikang Kuluri.”

Kau mengangguk-angguk lagi. Dalam pikiranmu, hal-hal menakjubkan yang kau temui dan perbincangan singkat ini akan menjadi bagian penting dari cerpen-cerpenmu nanti.

“Kalau melaut biasanya pakai apa, Pak?” kau menjadi-jadi. Si gadis timur yang menjabat LO itu mendokumentasikan semuanya dalam video kamera sakumu. Enteng, semua orang juga melakukannya: dokumentasi dan bertanya-tanya dengan kekaguman ringkas.

“Ada yang mesin, ada yang pakai pendayung.”

Kau mengangguk-angguk lagi. Beberapa kali perahumu berpapasan dengan perahu yang digunakan kawan-kawan lain. Kau sengaja menyewa perahu sekaligus pemiliknya agar lebih santai dibanding teman-teman lain yang mencoba-coba menjadi nelayan. Eksotik atau bisa jadi sebagai klangenan. Laut tenang, karang-karang membayang di permukaan air yang biru. Langit terang, tapi cahaya matahari tak sampai pada keteduhan ini. Pulau Hiri tampak bercahaya, dan di tepian cahaya kamera berkilat-kilat. Gunung Gamalama terlihat puncaknya. Kata tukang perahu, Kalau tidak mujarab Gamalamanya, sudah hancur Ternatenya. Kalau belum ke Sulamandaha belum ke Ternate.

Beberapa penyair dengan kaos dari panitia membacakan puisi-puisinya. Yang lain tak sepenuhnya mendengarkan, tapi ber-oohhh panjang dan bertepuk tangan.

“Mari torang samua mandi jo kamari,” kata si gadis ketika perahu kalian berpapasan dengan perahu kawan-kawan yang lain.

Kau tertawa, memberi isyarat bahwa kamera harus kembali dioperasikan. “Kalau upacara adat bagaimana, Pak?”

“Oh, itu. Umpamanya, ada’ istiadat kalau setiap tahun dikasih makan Tuan Tanah, penghuni. Isinya, telur, nasi kuning, pisang. Sagu, Singkong. Setiap taung, habis lebaran ini kita juga mau biking.”

Kau ber-ooh lagi. Semua yang dikatakan tukang perahu bisa kau dapatkan dalam buku-buku jika kau butuh, meski sebenarnya buku tak akan tahu rahasia-rahasia kecil apa yang tersimpan pada penduduk ini. Kau sempat terkejut ketika tukang perahu bercerita soal anaknya yang tentara yang bertugas di Papua. “Setiap anak punya nasib, orangtua hanya memberikan jalan.” Katanya sambil tertawa. Di bagian ini kau sangat terpesona dan berniat menjadikan tukang perahu ini sebagai tokoh dalam cerpenmu.

  • Batu Angus

Sore merayap di Sulamandaha, perahu masih mengapung di lautan, mengalun Antara Ternate dan Pulau Hiri. Lalu, sebelum matahari jatuh ke laut, kalian berkumpul di Batu Angus yang menjadi bagian dari agenda. Beberapa penyair membaca puisi. Sebagian besar sibuk memotret dan bercakap dengan LO yang lebih manja di malam hari. Beberapa penyair lain membacakan puisi yang terinspirasi dari perjalanan di kota ini, baru ditulis beberapa waktu yang lalu katanya, “Baru selesai ditulis tadi pagi. Sedikit kasar, perlu direvisi.” Ia meneriakkan beberapa bait yang mengapung di angkasa, jatuh ke lembah berpasir, digulung ombak, sehingga nyaris tak tertangkap mereka yang berkumpul di sana yang memiliki kekaguman justru bukan pada bait yang sedang dibacakan.

Selesai ia membaca, terdengar tepuk tangan riuh. Teriakan-teriakan mengalun. “Dasyat, luar biasa.. Monumental …”

Seorang penyair lain berimprovisasi dengan seorang gadis pemandu yang paling cantik, mendapat perhatian lebih dari sekumpulan orang-orang yang mulai capai. Entah puisi siapa yang dibacakan, entah kalimat apa yang keluar dari mulutnya. Mereka lebih fokus pada gadis berkerudung dengan senyum malu-malu yang masih berdiri di tempat wisata ketika magrib baru saja berjalan. Penyair itu menjadi-jadi, lima menit lewat, penonton muak dan membiarkan.

Kau agak menyesal dengan keberanianmu malam itu, mengabaikan gadis lokal yang menjadi temanmu selama beberapa hari. Penyair wanita yang mengikutimu beberapa hari lalu itu juga mulai dengan kesibukan sendiri, seperti awal mula kalian sampai di sini. Semua harus dibereskan dengan semestinya. Malam ini kau harus mencari file foto-foto dari teman-temanmu, memeriksa file sendiri, memilah foto-foto mana yang boleh dilihat siapa pun dan foto mana yang akan membuat rumah menjadi panas dan riuh.

Kepada teman-teman kau pesankan, jangan memposting foto-foto dengan sembarang perempuan di beranda Facebookmu.

  • Dana-dana, Tide-tide dan Perpisahan

“Jangan kangen aku ya!” katamu setengah bercanda. Ia bersemu, kau tahu itu. kau sungguh-sungguh tahu. “SMS saja nanti.”

Kalimat terakhirmu barangkali bisa menjadi penghibur baginya, setidaknya itu yang kau inginkan.

“Tapi, gak ada nomornya,” ia menjawab cepat, dengan wajah bersemu. Kau bergetar melihat bulu-bulu di tangannya, kulit bercahaya dan kemerahan.

“Ya nanti kukasih, tenang saja. Kamu saja belum tahu namaku,” kau cepat memotong. Ia semakin tersudut meski kau tak menginginkan itu.

“Iya namamu …”

“Iya nanti aja kalau kita berpisah kusebutkan namaku.” Kau selalu membayangkan sebuah kejutan. Sebuah penutup yang manis seperti kisah remaja. Sebelum pulang, kalian berpelukan dan kabar-kabar yang dirahasiakan terus berjalan. Meski kau paham, itu tak akan berjalan lama, sampai kedua-duanya merasa bosan.

Ternate-Yogyakarta, 2011/2013. (naskah: Indrian Koto/ilustrasi: NN/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Belajar sastra dan terus belajar mendalaminya. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika. Mengelolah dan mengurus kegiatan jualbukusastra.com. Kontak 081802717528.