Potong Kambing atau Sapi Tergantung Berat

Indahnya Kapal Phinisi dari Tana Beru (2)

tana beru (4)Sebagai desa pembuat kapal phinisi, Tana Beru menjadi salah satu daya tarik wisata Makassar. Tak hanya menyaksikan wujud kapal, saya sendiri sangat antusias mengikuti proses pembuatannya yang dikerjakan secara tradisional. Sebagai kapal jenis khusus, pembeli biasanya akan memberikan gambar desain umum berupa ukuran dan besar kapal, berapa banyak cabin, ruang tamu dan beberapa bagian lain dalam kapal.

Uniknya, tidak ada blue print atau gambar kerja untuk setiap detail masing-masing bagian itu. Padahal para pembuat kapal ini bukan orang-orang yang mempunyai sertifikasi khusus. Mereka juga tidak begitu peduli terhadap standar kerja yang aman, walaupun dikelilingi alat-alat tajam. Tanpa sepatu, kaos tangan atau safety helmet untuk mengantisipasi terbentur balok-balok kayu.

Meski demikian, soal kualitas kapal phinisi yang mereka buat sudah tidak perlu diragukan lagi. Butuh sekitar 7-13 orang yang bekerja selama 8 bulan sampai dengan 1.5 tahhun untuk menyelesaikan sebuah kapal phinisi. Yang membuat pekerjaan lebih lama biasanya adalah jika pemesan kapal meminta material khusus atau dekorasi interior kapal yang harus di impor dari negara asal si pemesan kapal.

Dalam kasus seperti ini,  pembuat kapal harus menunggu sampai barang yang diimpor tersebut sampai ke tangan mereka, sehingga mereka bisa mulai memasang asesori tambahan tersebut di dalam kapal. Satu buah kapal phinisi biasanya berharga sekitar 70-200 ribu dollar. Bisa juga lebih dari itu, tapi tidak kurang dari harga minimal tersebut. Harga yang fantastis bukan?

tana beru (5)Satu lagi catatan, setelah kapal selesai dibuat, tidak semerta-merta bisa langsung dilepas ke laut. Selain harus menunggu air pasang agar kapal bisa ditarik dari pantai, cuaca juga harus dipertimbangkan. Kapal tidak bisa berlayar pada saat ombak terlalu tinggi dan angin terlalu kencang.

Sebelum pelepasan sebuah kapal phinisi, satu tradisi penting yang harus dilakukan yaitu memotong hewan korban. Jika berat kapal kurang dari 100 ton, maka mereka harus memotong seekor kambing. Jika berat kapal lebih dari 100 ton, seekor sapi harus dipotong. Daging kambing atau sapi tersebut dibagi-bagikan ke penduduk desa. Nah, saat inilah sebuah kapal phinisi sudah siap untuk berlayar.

Satu hal unik lagi, para pembuat kapal ini tidak membutuhkan galangan kapal yang modern seperti selayaknya industri pembuatan kapal. Dalam pikiran mereka, mengapa harus repot membangun bangunan dari beton dan merusak pemandangan jika mereka bisa bekerja di antara pepohonan kelapa sambil menikmati pantai. Bekerja sambal sayup suara ombak mengalun dan memandang matahari tenggelam pada saat mereka beranjak pulang di penghujung hari. Asyik kan? (naskah dan foto: Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani)