Persahabatan Laki-laki dan Perempuan; Kabarnya Palsu Ya? 

one-day-5Soal mencinta, Emma dan Dexter di film ‘One Day’ tidak dibuat sang sutradara langsung klop. Perlu berkali-kali 15 Juli untuk membuat mereka yakin jika keduanya saling cinta, bukan bersahabat. Khusus di tiap tanggal ini, penonton dituntun kronologis mengikuti tahun demi tahun yang mereka lewati. Hampir urut sejak mereka lulus sarjana pada 1988, sampai peristiwa terpilu -yang tak saya kehendaki itu-, hingga 2011. Hmmm kalau dihitung, rasanya kelamaan kalau keduanya tak kunjung bersatu begitu saja. Tapi konon, waktu panjang memang dibutuhkan untuk menyadarkan para ‘pecinta bodoh’ di masa lalu, hahaha.

Berdalih hanya sebagai sahabat, Emma dan Dexter memilih bertemu di tanggal yang dikenal sebagai St Swithin’s Day. Sekadar tahu, hari itu diambil dari nama Uskup Wischenser. Dipercaya cuaca di hari itu menentukan cuaca selama 40 hari ke depan. Emma dan Dexter tak beralasan karena itu. Yang pasti, mereka cukup konsisten untuk selalu bertemu di tanggal keramat itu. Dari berkali-kali peristiwa, Emma lah yang selalu dibuat kecewa oleh Dexter, si playboy. Tapi kendati perjodohan Emma-Dexter berliku, penonton sebenarnya tahu jika keduanya akan dibuat jadi sepasang kekasih. Tapi kapan? One Day

Inilah bagian yang menjadi daya tunggu ‘One Day’. Keduanya tak sengaja sering berpapasan takdir. Tak terenak tentu saja ketika ditinggal Dexter menikahi Silvie, sampai Jasmine lahir. Sementara Emma memilih hidup serumah dengan Ian yang tak begitu dicintainya. Satu-satunya harapan terbuka ketika Dexter bercerai dari Silvie. Meski Emma yang telah meraih mimpinya sebagai penulis novel tengah berpacaran serius dengan seorang pianis Prancis, Dexter dibikin mudah mendapatkan Emma. Sebagai pecinta, Emma sangat berani mengakui pada siapa ia mencinta.

One DaySampai di bagian ini, saya sebagai penonton sebenarnya ingin setidaknya diberikan waktu cukup untuk melihat kemenangan mereka melompati masa penantian sebagai sahabat yang berakhir cinta. Tapi di sinilah klimaksnya. ‘One Day’ bukan dibuat untuk menggambarkan kebersamaan Emma dan Dexter. Keduanya cukup digambarkan teramat ngilu melalui cinta mereka yang dibungkus ‘persahabatan palsu’, untuk mengantarkan penonton pada cara yang paling tak diingini dalam perpisahan, yaitu kematian. Bagi yang hendak menonton, membaca resensi ini dulu mungkin kehilangan inti terpuncak dari sekian adegan ‘One Day’; saat Emma bersepeda menuju kencannya bersama Dexter lalu tersambar truk, dan tewas. Hiks.

Mau saya sih, cerita film drama romantik ya selalu berakhir happy; setelah ruwet berproses, ujungnya bersama. Minimal begitu, karena di kenyataan sudah sering kali cinta dibikin tidak ber-happy ending. Tapi, Hollywood sering menawarkan sad ending karena pemaknaan pada perjuangan mencintai jadi poin yang ingin digaris bawahi. Tragis di hati penonton? Sudah barang tentu. Saya pun juga berkali-kali berharap bisa menganulir ceritanya agar sedikit terhindari dari tragis-tragis semacam itu meski film cuma rekaan, cuma fiksi.

one-day-7Tapi begitulah novel ‘One Day’ ini sengaja difilmkan. Ia seperti yakin penonton berani mendera kekosongan hati hingga film usai akibat cinta yang terpisah karena ‘ulah’ takdir. Di sini pula kemenangan film; dikarang untuk mencobakan bagian tak sempurna dalam cinta. Meski demikian, di luar keganjilan cerita yang mengganjal, ‘One Day’ tetap menjanjikan banyak episode cinta yang selalu terbangun kekeh, kukuh, dan kokoh. Dengar ya: serumit apapun cinta itu kau alami, love will find the way. Jadi jangan protes seperti saya ya, hahahaha.

one-day-8Tapi jika kadung tahu kalau Emma akan ‘dimatikan’, menunggu saat-saat kematian Emma datang tetap juga membikin berdebar. Sungguh tak enak di bagian ini. Kalau mau dipenggal serampangan, saya lebih memilih stop di adegan 15 Juli 2004, setahun sejak mereka bertemu di Paris kala jadian, sebagai ending. Di tahun itu, Dexter yang memiliki restoran kecil tengah berlatih pidato pernikahannya. Hubungannya dengan Silvie juga baik karena sepakat mengasuh Jasmine bersama-sama. Maunya yang enak-enak sajalah. Cuma kalau diakhiri di sini, kedengarannya kok seperti takut menghadapi kenyataan ya? Hahaha.

one-day-3Untung sesudah kematian Emma, ada penghiburan terakhir di putaran 15 Juli 2011, saat Dexter mengajak Jasmine napak tilas cintanya bersama Emma. ‘One Day’ lalu berkilas balik pada 15 Juli 2008 yang tak dituturkan di depan. Lewat itu, ‘One Day’ meneguhkan lagi tentang obat penawar atas tragisnya cinta para manusia. Di atas bukit, Emma dan Dexter pernah bertemu. Emma mengingatkan Dexter jika ia tidak ingin berhubungan lebih jauh. Emma bahkan tak ingin tahu nomor telepon, alamat rumah atau nama Dexter sekali pun. Sebab yang Emma inginkan mereka cuma menjadi teman baik, just friend! Kalau pun ada yang terjadi pada mereka nanti, semuanya tuntas terjadi sekarang.

one-day-2Barangkali itulah firasat Emma tentang kehadirannya dalam hidup Dexter; meski tak berlama-lama sebagai kekasih di samping Dexter karena lebih dulu tiada, persahabatanlah yang akan abadi di antara mereka. Duh, siapa yang kira-kira kuat menjalani persahabatan yang sudah ditumbuhi cinta seperti itu? Apalagi untuk Dexter yang harus hidup tanpa Emma. Kamu? Sori, saya nggak mampu. Seperti Emma dan Dexter, sejumlah aturan persahabatan mereka hampir semuanya telah mereka langgar. Bagi saya, persahabatan harus murni tanpa cinta. Lebih baik tak ada persahabatan apapun untuk seorang yang mungkin bisa jadi kekasih, terlebih yang ada cinta. Di film ini, sejumlah adegan pelanggaran itulah justru nikmatnya untuk disaksikan. Nonton sana gih. (penulis; Heti Palestina Yunani/Heti Palestina Yunani)

*Selamat malam, kekasihku ‘Hedi Palma’