Permata dari Langit by Titie Surya

Kapan terakhir kali kau menerima hadiah dalam bilangan usia hidupmu?

Airmataku nyaris berloncatan menerima sebuah tas berisi mukena berbahan lembut dan bercorak cantik. Warnanya ungu berbunga putih. Kudekap dan kubelai benda itu seperti seorang bayi dalam dekapanku. Kubawa hadiah itu ke ruang tengah dengan senyum sumringah. Bak seorang perawan mendapat hadiah dari kekasih hatinya Dengan bangga kuberitakan kepada mereka yang hadir di ruangan itu. “Mama dapat hadiah, dong.”

“Ah norak! Baru juga dapat hadiah seperti itu pamer.” Kudengar suara Ais mengucapkan  kalimat itu tanpa menoleh padaku sedikitpun.  Hatiku mencelos. Aaah… tak bolehkah aku berbangga dengan hadiah ini? Kudekap kembali benda yang begitu berharga untukku. Kubawa kembali ke kamar. Di selasar kamar aku berpapasan dengannya. Ia memelukku. Mengelus punggungku. Tersenyum menenangkan hatiku. Seketika aku merasa kembali tenang dan bahagia. Di antarnya aku menuju peraduanku untuk beristirahat.

Alih-alih tidur, mataku ketap-ketip. Di atas kasur lapuk, ingatanku menerawang. Seperti tayangan ulang, benakku memamerkan kejadian itu kembali. Ingatanku diseret ke suatu sore di 22 Desember. Ketika sebuah kotak besar disorongkan padaku saat sedang nonton TV, diiringi kecupan di pipiku dan ucapan, “Selamat Hari Ibu, Ma.”

Mata lembutnya menatapku. Senyumnya selalu memberi ketenangan jiwa. Dielusnya punggungku sambil bercerita. Kami menikmati potongan-potongan tiramisu sore itu sebagai penanda perayaan hari ibu untukku. Ketika keesokan harinya kusampaikan pada mereka, “Mama dikasih tar tiramisu. Baru kali ini ada yang ngasih Mama ucapan Hari Ibu. Dibeliin kue tar segala.”

“Halaah! Mama aja nggak pernah ngrayain ulang tahun kita. Boro-boro beliin kue tar buat kita.” Suara Riri yang cempreng menyahut ucapanku. Duuuh, anakku…, ibu mana yang tak ingin merayakan ulang tahun anaknya. Membelikan kue tar lengkap dengan bilangan lilin yang menyala. Tapi apa yang bisa kusisihkan dari bilah-bilah kayu bakar yang kukumpulkan dan kugendong dengan punggungku? Hingga punggungku bungkuk kinipun, aku tak bisa memberi kalian apa-apa. Kecuali sekadar untuk membuat kalian terhindar dari kelaparan.

Lagi-lagi senyum teduh itu melapisi kegusaran hatiku. Pelukan dan elusannya di punggungku selalu bisa memberiku ketenangan dan harapan. Dibawanya aku kembali ke ruang belakang, ngobrol dan nonton TV bersamanya.

Kapan terakhir kali kau mendapat hadiah dalam bilangan usia hidupmu?

Sore ini kesekian kalinya ia kembali datang dengan bingkisan di tangannya. Perempuan bermata lem yang selalun tersenyum itu. Tak pernah alpa membawakan bingkisan untukku. Entah berupa makanan, keperluan dapur, atau benda-benda yang kuimpikan untuk kumiliki dalam hidupku.

Ia tak pernah mencari muka di hadapanku dengan segala kebaikan yang dilakukannya. Juga tak kulihat indikasi sikap ‘sok kaya’ dengan segala pemberiannya. Ah, tuduhan-tuduhan itu terlalu jahat ditujukan pada dirinya. Mata tuaku cukup terlatih untuk membedakan ketulusan dari keculasan.

Kapan terakhir kali kau menerima hadiah dalam bilangan usia hidupmu?

Sepertinya hadiah-hadiah untukku tak pernah berakhir selama ia yang bermata lembut selalu di sisiku. Ia selalu penuh kejutan. Aku tak pernah bisa mengira apa yang akan diberikannya padaku. Tapi akupun tak selalu berharap diberinya hadiah. Bagiku, ia adalah anugerah dalam sisa-sisa usia yang kupunya.

Ia bahkan tak cuma memberiku hadiah. Kali ini ia mengajakku jalan-jalan. Bukan dengan kendaraan umum. Melainkan naik taksi. Kutahu, biaya naik taksinya mahal. Tapi ia bilang, demi kenyamanan dan kesehatan tubuh tuaku yang ringkih, apapun akan dilakukannya. Aaah… ia serupa bintang dalam sisa langit hari yang kumiliki.

Kapan terakhir kali kau menerima hadiah dalam bilangan sisa hidupmu?

Aku sudah bilang, sepertinya hadiah-hadiah untukku takkan pernah berakhir selama ia di sisiku. Karena ia lah yang pertama memberi hadiah dalam hidupku. Yang mengingatkanku akan momen penting yang terlupa dalam hidupku. Momen yang bahkan kuanggap tak pernah ada. Karena bahkan aku tak tahu tanggal kelahiranku, tak mengerti bagaimana Hari Ibu dirayakan, dan aku juga tak tahu bagaimana cara memberi kejutan dan hadiah bahkan pada anak-anak kandungku.

Kini, jika aku ditanya kapan pertama kali aku menerima hadiah? Akan kujawab dengan bangga, sejak perempuan bermata lembut dan selalu tersenyum itu menjadi menantuku. Menantu yang tahu bagaimana memuliakan mertuanya yang renta dan sakit-sakitan. Menantu yang kerap membuat anak-anak kandungku iri dan mencurigai ketulusannya. Menantuku, permata yang dikirim dari langit. (penulis: Titie Surya, tinggal di Jakarta/ilustrasi: S Toyo/Heti Palestina Yunani)