Perempuan Pemimpin; Teh yang Dicelupkan by Angelia Merry

A woman is like a tea bag. You can’t tell how strong she is until you put her in hot water. (Eleanor Roosevelt)

A woman is like a tea bag. You can’t tell how strong she is until you put her in hot water. Pernyataan Eleanor Roosevelt, istri Presiden Amerika Serikat Franklin D Roosevelt mengingatkan kita bahwa perempuan seringkali diidentikkan dengan kelemahan, ketergantungan dan ketidak berdayaan. Ditambah lagi kecenderungan budaya di masyarakat yang menjadikan kaum Adam lebih utama dan menomorduakan perempuan. Padahal sesungguhnya kekuatan dalam diri seorang perempuan ketika ia berada di dalam kondisi tertekan, sedih atau menderita sekalipun menjadi tidak terbayangkan saking besarnya.

Di sisi lain kita pun tahu bahwa di dalam dunia pemerintahan terdapat juga para pemimpin perempuan seperti Indira Gandhi, Hillary Clinton, Megawati Soekarno Putri, dan lain sebagainya. Mereka telah membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk memimpin. Potensi memimpin pada perempuan diawali dengan memimpin rumah tangga sesuai dengan otoritasnya sebagai isteri dalam membantu suami atau kepala keluarga.

Tugas perempuan sebagai pemimpin rumah tangga cenderung mengatur keuangan keluarga dan menjadi bendahara yang baik dan jujur. Nah, di sinilah tampak peran perempuan sebagai isteri menjadi amat penting di dalam menentukan keberhasilan suaminya, seperti yang diakui Napoleon Bonaparte dengan pernyataannya; “Behind a great man there is a great woman.” Hhmm bangganya menjadi perempuan!

Kaya Warna Kaya Rasa

Mungkin saja seorang perempuan bisa menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin tapi belum tentu ia dijadikan inspirasi oleh orang lain. Tetapi sesungguhnya sosok perempuan dengan pembawaannya yang lembut dapat menjadi sumber inspirasi atau ide dalam banyak hal. Terbukti banyak seniman seperti pelukis, penulis, dan musisi mendapatkan inspirasi dari perempuan untuk karya-karyanya.

Yang pasti aku adalah salah satu sumber inspirasi tersebut. Tentu untuk bisa menjadi pribadi yang menginspirasi aku harus memahami banyak hal, berani untuk terjun langsung dan merasakan hidup susah. Seperti halnya saat aku menjabat sebagai General Manager Divisi Honda Customer Care di PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Motor), aku selalu menempatkan diriku sebagai orang terdekat bagi tim yang aku pimpin. Sementara pemimpin yang lain mengambil jarak karena posisinya, tidak demikian denganku.

Terbukti, hasil survei yang dilakukan konsultan SDM yang dibayar perusahaan untuk melakukan analisa mengenai bagaimana hubungan para atasan dan bawahannya. Alhamdulillah aku termasuk dalam katagori atasan yang dirasakan kepeduliannya oleh tim kerja. Maka dapat dijadikan contoh bahwa seorang pemimpin itu harus berani mengubah kepribadiannya. Artinya seorang pemimpin sejati adalah orang yang mau berinteraksi dengan orang-orang di bawahnya dan juga di sekelilingnya tanpa pandang bulu.

Dalam hal ini, aku sebagai perempuan tidak hanya cukup memiliki kualitas atau keterampilan yang baik sebagai pemimpin, tapi sikapku juga menjadi faktor penentu di dalam kepemimpinanku. Perempuan yang kaya warna kaya rasa adalah sosok yang memiliki karakter yang kuat, tangguh, bermental baja untuk dapat menguatkan orang-orang terdekatnya, terutama suami dan anak-anaknya. Dalam situasi dan kondisi apapun perempuan adalah sosok yang mampu mewanai dunia dengan keterlibatannya.

Perempuan yang sukses meraih posisi puncak di karier atau bisnis adalah perempuan yang sudah bebas dari isu gender. Mereka sangat profesional dan bersedia mengerahkan segenap pikiran dan energinya sesuai tuntutan perusahaan. Mereka tidak mengharapkan adanya perlakuan khusus karena mereka perempuan. Posisiku di perusahaan yang boleh dikatakan berada di jajaran CEO sama sekali bukan karena adanya perlakuan khusus dikarenakan aku perempuan.

Jabatan yang kuperoleh adalah murni atas kemampuanku yang sangat baik di dalam problem solving & decision making, mampu melihat secara helicopter view (melihat masalah secara menyeluruh), sebagai influencer handal karena punya kemampuan komunikasi yang berdampak kuat bagi timku, serta menerapkan praktek kepemimpinan dalam perilaku sehari-hari.  

Ini menunjukkan bahwa perempuan sangat multitasking, sangat berwarna. Bayangkan saja, bagaimana jika kukatakan bahwa aku mampu mengerjakan semua hal sendiri mulai dari urusan rumah, anak-anak, tugas kantor, bisnis, menulis, mengajar di beberapa tempat, dan hal-hal detil lainnya. Tak heran jika dikatakan kalau ada seorang ibu yang sukses menjadi CEO biasanya karena ia mampu menentukan prioritas hidup dan konsisten dengan pilihannya itu.

Karena ketika menghadapi berbagai persoalan, perempuan akan menjadi lebih tahan banting. Meskipun perempuan memiliki karakter yang lembut, namun ada kalanya ia harus berani melakukan inovasi atau mengambil keputusan yang tidak popular. Pemimpin perempuan yang berhasil harus mampu mengawinkan sisi maskulin dan femininnya dengan baik. Karena perempuan ini kaya rasa, maka aku tahu pasti kapan aku menggunakan seluruh rasaku untuk menyelesaikan pekerjaan di samping mengelola logika berpikirku dengan baik.

Menurutku, perempuan yang ingin berhasil menjadi pemimpin, sebaiknya berkonsentrasi untuk memiliki pengetahuan yang memadai, mampu memperlihatkan keahlian yang timbul dari pengalamannya, serta memiliki talenta yang mendukung pencapaiannya. Jika perempuan tersebut memiliki talenta sebagai maximizer, strategic, communication, developer, developer, dan  achiever, maka ia dapat meyakini diri dan potensinya untuk berhasil sebagai pemimpin.

Namun perlu diingat pula bahwa seorang perempuan pemimpin bukan hanya berpendidikan tinggi atau memiliki  pengetahuan yang luas tetapi ia harus terampil dalam mengaktualisasikan pengetahuan tersebut dalam perilaku. Maka dari itu perempuan pemimpin dituntut untuk memiliki pengalaman berorganisasi, karena pengalaman merupakan pelajaran untuk melakukan perubahan ke arah kematangan tingkah laku, pertambahan pemahaman dan pengayaan informasi/wawasan.

Beruntung sekali  pengalamanku berorganisasi selama lebih dari 20 tahun cukup untuk aku berani menyimpulkan bahwa profesionalisme di dalam pemberdayaan perempuan merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Langkah pertama untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif adalah dengan bercermin. Kuasailah keterampilan diri sendiri dengan demikian kamu akan meletakkan dasar untuk membantu orang lain agar melakukan hal yang sama.

Muslimah Pemimpin

Ketika aku sebagai perempuan pemimpin tiba pada keputusanku untuk berhijab di tahun 2011, aku dan kedudukanku mau tidak mau harus berubah menjadi pemimpin muslimah yang dalam menjalankan perannya harus memiliki keimanan yang terpatri kuat. Saat Tuhan menguji dengan memberiku lingkungan yang keras, maka sebagai pemimpin aku ditantang untuk melawan kekufuran dengan tetap menjaga kesucian diri, baik kata, sikap maupun tingkah laku.

Padahal kita tahu, kompetensi khas yang membuat perempuan lebih unggul daripada laki-laki adalah keluwesannya dalam menjalin hubungan dengan orang lain, termasuk fleksibel menerima pendapat orang lain yang berbeda maupun bertentangan dengan pendapat pribadinya. Tanpa kusadari keluwesanku yang ditunjang dengan kemampuan berkomunikasi dan mempresentasikan ide terkadang membuatku lupa dengan hijabku, aku sering kebablasan dalam bersikap saat menjalin hubungan kerja khususnya dengan laki-laki, dan seringkali aku menjadi pribadi yang mendominasi di antara kaum pejantan.

Hmmm aku sadar inilah mengapa di dalam Islam perempuan dilarang menjadi pemimpin publik, perempuan hanya menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya, yaitu organisasi kecil yang bernama keluarga. Sebagai bahan renungan simaklah ayat ini: Bagi para wanita, mereka punya hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang benar. Akan tetapi para suami memiliki satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya. (QS Al Baqarah: 228).

Juga ini: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimpinanmu. Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu. Perempuan adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan diapun bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. (Hadits Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Merujuk pada ayat dan hadits tersebut, tanpa memiliki kepentingan apapun, aku mencoba melihat dari sisi tengah yang terjadi di jaman sekarang ini di mana laki-laki yang seharusnya menjadi pemimpin tidak bisa memimpin, haruskah semua perempuan hanya memiliki peran di rumah ? Lalu bagaimana dengan perempuan yang berstatus janda, apakah ia juga tidak diperkenankan untuk mencari nafkah dengan bekerja di suatu perusahaan atau menempati posisi pemimpin di perusahaan tersebut karena keahlian dan pengalamannya? Apakah ia tidak bisa menjadi pemimpin atas usaha yang dibangunnya sendiri?

Mari kita cermati bersama, apa yang sesungguhnya benar-benar harus dipahami mengenai perempuan pemimpin. Bahwa perempuan tetap harus pada kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan sebagai wanita yang shaleha, yang taat kepada Allah, memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Artinya, perempuan harus menyadari benar siapa dirinya, apa kewajiban utamanya sebagai isteri, sebagai ibu. Menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya bukan berarti mendominasi seluruh peran yang seharusnya menjadi tanggungjawab sang suami.

Ketika suatu masa di mana persoalan ekonomi dan keinginan bersama untuk memiliki taraf hidup yang lebih sejahtera menjadi bahan pertimbanganku dan suami, maka keikhlasanku untuk membantu suami mencari nafkah bukan lantas dijadikan senjata untuk menaklukkannya sebagai pemimpin. Dan ketika aku lalu terjebak dengan urusan pekerjaan yang akhirnya menyita waktu untuk aku mengerjakan peranku sebagai isteri dan ibu, inilah waktu kritis bagi seorang perempuan untuk melihat kembali siapa dirinya sesungguhnya. Karena kalau tidak maka akan berujung pada prahara dalam rumah tangga.

Bisa kukatakan di sini bahwa kegagalanku mempertahankan biduk rumah tangga adalah kegagalanku sebagai pemimpin di dalam rumah tangga. Ya selanjutnya pengalaman berharga ini kujadikan sebagai pengingat langkah, cermin atas sikapku, dan bentuk rasa bersyukurku karena nikmat-Nya yang tiada terkira di dalam setiap episode di kehidupanku.  Di atas itu semua, dengan tetap berpedoman pada aturan yang telah ditetapkan di dalam agama, muslimah pemimpin menurutku adalah perempuan yang mampu menyadari betul arti dirinya di tengah keluarga, masyarakat, organisasi dan bahkan dalam bernegara.

Tuntutan zaman atau keadaan harus dicermati dengan benar tanpa menghilangkan kodrat sejatinya, sekalipun takdir menempatkannya sebagai single fighter, tetap saja perempuan adalah perempuan dengan segala kelemahan yang dimilikinya, tunduk dan menuruti apa yang telah digariskan Tuhan kepadanya.

Pengambil Keputusan

Kenyataannya memang perempuan dan kepemimpinan adalah dua kekuatan yang dapat merubah dunia. Dengan kondisi organisasi sekarang yang dituntut untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, aku sebagai perempuan memiliki cara berpikir sendiri dan gaya kepemimpinan yang sangat berbeda dengan mereka, laki-laki. Prinsip feminin sebagai anugerah perempuan kujadikan modal untuk mengembangkan sifat intuitif, berorientasi dan berelasi dengan orang lain, mendahulukan dan memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan, peka rasa dan memahami perasaan orang lain, cerdas, tegas, kreatif, serta berpandangan luas.

Jelas, perempuan tidak mengadopsi cara berpikir laki-laki, tidak juga menghindari sifat kelembutan yang dimilikinya. Jika kemudian ada pikiran laki-laki yang menganggap lemah perempuan, maka alangkah dangkalnya dia yang memandang gerak langkah perempuan hanya dari sudut hak, gender, dan emansipasi. Kiprah perempuan kini telah melingkupi segala bidang, dan panggungnya adalah kehidupan, begitupun dengan posisinya di dalam mengambil keputusan.

Sebagai perempuan pemimpin, tentu aku adalah pihak yang selalu mengambil keputusan penting di dalam setiap persoalan. Di dalam berorganisasi peranku sebagai pengambil keputusan menjadi sangat penting. Bagaimana tidak ? jika aku salah mengambil keputusan maka dampaknya bukan hanya pada kinerja tim yang aku pimpin, tetapi tentu sangat berpengaruh terhadap kepercayaan perusahaan akan kemampuanku menjadi leader.

Terlebih lagi tentu mereka kaum laki-laki itu akan memandangku sebelah mata dan semakin memosisikan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin. Mengambil keputusan bukan karena jabatan atau kekuasaan. Keputusan-keputusan yang telah kuambil adalah hasil dari pergumulan hati dan pikiran, terutama hati. Kurasa inilah yang membedakan perempuan pemimpin dan laki-laki, karena kami perempuan selalu berpikir panjang dampak dari sebuah keputusan.

Mempertimbangkan banyak pihak yang akan menjadi imbasnya. Kuncinya, kuserahkan semua urusan itu kepada Allah yang Maha Bijaksana, karena dengan tuntunan-Nya lah maka keputusan itu mengalir dan itulah yang terbaik menurut-Nya. Setiap orang bisa saja salah mengambil keputusan, manusiawi karena sesempurnanya manusia, dia masih bisa dikuasai oleh hawa nafsu yang seringkali mencemari suatu keputusan. Oleh karenanya penting bagi perempuan yang terkenal selalu mengedepankan emosi di dalam bertindak untuk melatih diri dalam mengelola emosi.

Kecerdasan emosi perlu dilatih dengan kembali kepada fitrahnya sebagai manusia, sebagai perempuan khususnya. Emosi tidak sama dengan hati, sedangkan keputusan yang terbaik adalah keputusan yang bersumber dari hati/qolbu bukan dari emosi! Aku pahami perbedaan itu dengan baik, melatih diri dengan zikir, memasukkan pesan-pesan positif ke dalam pikiran dan penguatan diri dengan self talk adalah cara-cara yang dapat membantuku menjalankan peranku sebagai perempuan pemimpin, pengambil keputusan.

Tips Bagi Perempuan Pemimpin

Untuk menjadi pemimpin yang hebat di dalam keluarga, organisasi, di dunia kerja atau usaha, inilah tips yang menurutku wajib dimiliki oleh seorang perempuan;

  1. Mampu menentukan prioritas dan tahan banting. Perempuan harus mampu mengelola waktu dan berbagai urusan dengan baik. Ketika menghadapi berbagai persoalan, perempuan sukses akan lebih tahan banting.
  2. Work or life balance. Salah satu tantangan terberat para ibu bekerja adalah dapat menyeimbangkan antara kepentingan pekerjaan dan kehidupan pribadi, termasuk keluarga. Keseimbangan antara dua kepentingan ini dapat memacu produktivitas dan kepuasan bekerja seseorang.
  3. Enjoy. Segala sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta (passion) biasanya akan terus bertahan lebih lama dan dapat dinikmati.
  4. Kultur keluarga dan perusahaan. Selain faktor individu, keberhasilan perempuan di dalam memimpin juga sangat ditentukan oleh kultur keluarga dan perusahaan tempatnya bekerja. Sebagai perempuan yang mengusung adat ketimuran, keluarga adalah prioritas. Sehingga keputusan perempuan untuk menerima posisi puncak juga dipengaruhi oleh dukungan penuh dari keluarga.
  5. Karakter pasangan. Faktor eksternal yang tak kalah pentingnya adalah dukungan pasangan. ‘Beruntung’  bila memiliki pasangan yang komplementer. Artinya, pria di balik sukses seorang perempuan adalah pria yang sangat percaya diri, toleran, dan punya genderless mind. Oleh karena itu memahami dengan sangat baik karakter pasangan menjadi landasan dasar sukses menjadi perempuan pemimpin sejati.

Wahai perempuan pemimpin, bukanlah suatu kehebatan atau prestasi yang mengagumkan ketika kamu tidak mampu menempatkan kodratmu di dalam kiprahmu sebagai pemimpin, baik pemimpin di dalam rumah tanggamu, organisasi dan bermasyarakat. Maka, kenalilah dirimu lebih baik lagi, pahami bagaimana kepemimpinan itu diaplikasikan nyata dalam keseharianmu. Jadilah hebat karena kamu bisa memadukan dengan sangat baik kekuatan dan kelemahanmu di dalam memimpin. Seperti teh yang dicelupkan; terjunlah ke dalamnya untuk mengetahui rarasanya kita terlibat dalam kehidupan ini, lalu diseruput untuk tahu betapa enak tidaknya teh tanpa gula sekali pun. (naskah: Angelia Merry (*)-diambil dari buku Otot Kawat Balung Wesi/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Nama aslinya Merry Diaz Angelia. Tapi untuk personal branding yang kuat, dipilih Angelia Merry. Perempuan kelahiran 18 Maret 1970 ini kenyang pengalaman bekerja sejak di bangku kuliah Fakultas Ekonomi Manajemen Universtas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta sebagai asisten dosen dan dosen honorer di Universitas Persada Indonesia. Peraih Magister Management dari STIM-LPMI Jakarta itu pernah bekerja di PT Schlumberger, perusahaan asing yang bergerak di eksplorasi minyak. Pada tahun 1994, karir awalnya di bidang jasa di BCA memberikan pengalaman sebagai customer service officer (CSO) yang excellent. Lepas dari dunia perbankan, ibu dari Jagad Jalasco dan Sierregio Mendeza itu bekerja di Nusalink sebagai supervisor customer service. Lalu ia bergabung di PT Asuransi Jiwa John Hancock Indonesia pada Juli 2000 sebagai Employee Benefit Specialilst (EBS). Pada Januari 2004 ia bergabung dengan PT MPM Distributor mulai di posisi sebagai General Manager Honda Customer Care Center, Divisi Honda Customer Care sampai memegang sebuah divisi baru yaitu Risk Management sebagai General Manager. Semua itu memupuk kental jiwa entrepreneurship-nya. Dengan CV Brave Method Consultant yang didirikannya pada 2001, Merry mengembangkan jasa konsultan business dan people development. Pengalamannya sebagai profesional coach, trainer dan motivator khususnya di bidang marketing, customer service, manajemen dan leadership itu dituangkan dalam buku perdananya The Star of Services. Ia kini sibuk berbisnis franchise minuman dan menjadi distributor produk kerajinan berbahan rotan sintetis dengan label Angelia Craft.