Pepak Berbunyi, Turun ke Rumah Kasih Sayang

Pemandangan Dari Jalur Pendakian Menuju Wae ReboRoad Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (13)

Sampai di Wae Rebo, perjalanan saya selama 29 hari mengeksplorasi selatan Indonesia 17 Mei-16 Juni 2015 lalu makin asyik saja. Sesuai informasi dari beberapa website, saya berkenalan dengan keluarga Wejang Asih, orang Wae Rebo yang menjadi guru di Desa Denge, Blasius Monta.

Di desanya ia membuka fasilitas homestay untuk akomodasi pengunjung sebelum menuju Wae Rebo. Sayaiba di Desa Denge pada pukul 15.00 dengan cuaca mendung membulatkan niat untuk bermalam di sana dan berangkat menuju desa Wae Rebo keesokan paginya.

Setelah mendengarkan penjelasan singkat Wae Rebo oleh Blasius, datang dua pengunjung dari Jakarta menggunakan mobil sewaan dari Maumere. Kondisi cuaca hujan memaksa mereka bermalam sebelum trekking menuju Desa Wae Rebo.

Perpustakaan Wae Rebo di Desa DengeSilsilah dari orang Wae Rebo berasal dari orang Minangkabau yang merantau ke Flores. Pak Blasius pun menjelaskan awal mula adanya pengunjung yang mengetahui Wae Rebo. Bukan turis lokal yang pertama mengunjungi desa yang terkenal dengan tujuh rumah kerucutnya itu, tetapi Missionaris dari Eropa yang diajak berkunjung oleh Pastor asal desa sekitar Wae Rebo pada akhir 80-an.

Selang beberapa lama pada awal 90-an, Wae Rebo dikunjungi oleh fotografer asal Jepang yang menjadi awal mula munculnya informasi di belahan dunia bahwa di pegunungan pelosok Pulau Flores terdapat desa yang begitu eksotis dan indah.

Pucuk Samar Rumah Wae ReboAwal mula turis lokal hadir ke sana cukup lama dari selang waktu foto tersebut tersebar, sekitar awal tahun 2000-an. Bisa dibayangkan betapa besarnya pengaruh informasi yang berkelanjutan itu terhadap perkembangan Wae Rebo hingga saat ini.

Saat malam di sana saya mendengar dan kagum dari cerita Blasius mengenai perkembangan Wae Rebo yang begitu mengasyikan, betapa mirisnya bahwa tujuh desa terakhir belum teraliri listrik dari PLN. Saya dan sepasang kekasih dari Jakarta itu pun memutuskan untuk beristirahat dan berangkat pukul 05.00 dengan menyewa jasa pemandu sebagai penunjuk jalan.

Sesuai rencana kami berangkat dari Desa Denge pada pagi buta. Jalur yang kami lalui masih basah sisa hujan semalam, beruntungnya jalur tersebut adalah bebatuan sebesar ukuran kepala orang dewasa sehingga memperkecil risiko tergelincir dan terjebak lumpur.

Selepas jalur bebatuan, masuk jalur tanah basah yang ditandai setelah melewati sungai kecil selebar 4 meter yang diberi nama Wae Lomba. Jalur selanjutnya cukup menanjak, tetapi cuaca yang sejuk menjadikan kami begitu bersemangat, seakan berolah raga pagi dengan udara yang begitu segar.

Rumah Kasih SayangSetelah 3 jam perjalanan, kami mulai mendekati daerah Wae Rebo karena pucuk rumah kerucutnya sudah mulai terlihat. Karena menggunakan sandal, kaki saya pun menjadi sumber makanan untuk kehidupan beberapa lintah.

Setelah melewati jembatan kayu, beberapa meter kemudian terdapat satu bangunan yang menyerupai gazebo dengan pucuk berupa kerucut pula. Bangunan itu diberi nama Rumah Kasih Sayang, tempat Pepak -alat berupa bambu- dibunyikan untuk menandakan kepada penduduk desa Wae Rebo bahwa akan ada pengunjung.Pepak

Setelah alat dibunyikan, kami pun turun menuju desa, dan adat di sana setiba kita di desa dilarang keras mengambil foto atau dokumentasi apapun sampai kita diizinkan oleh kepala adat Desa Wae Rebo. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)