Pendiri Majalah Buddha Berbahasa Indonesia

Mengenal Kwee Tek Hoay, Sastrawan Besar Melayu-China (4)

KTH Moestika DharmaSelain minatnya yang besar terhadap buku dan bacaan, yang sangat mempengaruhi karya-karya Kwee Tek Hoay adalah kemampuannya menguasai Bahasa Inggris, Hokian, Belanda, Sunda, dan Melayu secara baik sekali. Sejak usia 8 tahun, Kwee Tek Hoay masuk sekolah Tionghoa yang menggunakan bahasa pengantar Hokkian.

Namun dia sering membolos karena tidak mengerti bahasa pengantar yang digunakan itu. Pendidikan formal terakhir yang ditekuninya setara dengan sekolah dasar masa kini. Setelah itu ia belajar di bawah bimbingan oleh seorang guru. Pada masa itu, keturunan Tionghoa tidak diperkenankan masuk sekolah Belanda, jika bukan anak seorang bangsawan atau berpangkat.

Sebagai anak bungsu dari Kwee Tjiam Hong dan Tan Ay Nio, pedagang obat-obatan dari Tiongkok dan tekstil di Bogor, Kwee Tek Hoay juga piawai berdagang. Sejak menikah tahun 1906, Kwee bekerja sebagai pedagang yang sukses. Toko serba ada yang dimilikinya bernama Toko KTH. Istrinya, Oei Hiang Nio juga dilatihnya untuk berdagang.

Mereka dikaruniai tiga anak, yakni seorang perempuan dan dua anak lelaki. Putri sulungnya yang bernama Kwee Yat Nio mengikuti jejak Kwee Tek Hoay menekuni bidang jurnalistik. Sedangkan kedua adiknya, Kwee Tjun Gin dan Kwee Tjun Kouw lebih tertarik dalam perdagangan.

Kwee Tek Hoay belajar tata buku dan akuntansi dari seorang guru sekolah Belanda. Dia juga giat mempelajari bahasa Melayu, Belanda dan Inggris yang kemudian membuatnya sangat gemar membaca buku-buku dalam ketiga bahasa tersebut.

Di kalangan Tri Dharma, nama Kwee Tek Hoay termasuk tokoh. Ia pernah menerbitkan majalah berbahasa Indonesia pertama yang berisikan ajaran Agama Buddha, dengan nama Moestika Dharma. Dalam majalah Moestika Dharma, Kwee Tek Hoay banyak menyumbangkan pemikirannya tentang agamanya.

Saat itu Batavia Buddhists Association (BBA) condong menyebarkan ajaran Mahayana, berbeda dengan Java Buddhist Association yang condong menyebarkan ajaran Theravada. Namun pemisahan ini menurutnya bukan merupakan pemecahan tapi untuk dapat bergerak lebih leluasa.

BBA yang didirikan 1934 itu di bawah pimpinan Kwee Tek Hoay sebagai ketua bersama Ny Tjoa Hin Hoey sebagai sekretaris. Pada tahun yang sama, dibentuk Central Buddhists Institut Voor Java atau De Dharma in Nederlandsche Indie yaitu wadah kebersamaan seluruh organisasi Umat Buddha di Hindia Belanda.

Organisasi ini juga menerbitkan media cetak berbahasa Belanda yang bernama De Dharma in Nederlandsche Indie. Dari majalah Moestika Dharma yang terbit pada tahun 1932 di Jakarta itu juga diketahui bahwa telah berdiri sebuah organisasi Buddhis bernama Java Buddhist Association di bawah kepemimpinan E Power dan Josias van Dienst.

Organisasi ini merupakan anggota International Buddhist Mission yang berpusat di Thaton Birma (organisasi ini mengacu pada Agama Buddha Theravada). Kemudian berlanjut dengan International Buddhist Mission, Java Section yang berdiri di Batavia tahun 1932 dengan Deputy Director Generalnya adalah Josias. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: net/editor: hpy/bersambung)