Pembacaan Kitab dan Tarian pun Menghibur

Mencari Keselamatan dan Keselarasan Bumi (2)

Tawur Agung by Rijal Tobat 3 Umat Hindu melaksanakan Upacara Tawur Agung berdasarkan pada kisah tentang Dewi Kunti dan Pandawa dalam kitab Mahabarata. Dikisahkan Dewi Kunti dan Pandawa mengembara hingga masuk ke dalam hutan belantara, saat bersamaan Dewi Durga atau Ratu Bhutakala menginginkan salah satu dari Pandawa untuk dijadikan korban.

Namun permintaan ini ditolak karena Dewi Kunti karena rasa sayangnya terlalu besar pada Pandawa. Rasa ini bahkan lebih besar dari rasa sayang pada diri sendiri. Ia pun memilih untuk mengorbankan dirinya untuk melindungi Pandawa. Pengorbanan inilah yang akhirnya membebaskan Pandawa dari kutukan Ratu Bhutakala. Pandawa memperoleh ganjaran dan alam semesta pun kembali ke tatanan kosmik.

Tawur Agung by Rijal Tobat 4Dalam Upacara Tawur Agung, pengorbanan Dewi Kunti ini diganti dengan binatang piaraan seperti ayam, kambing, anjing, dan kerbau. Prosesi upacara ini selain berdoa dan pembagian air suci, juga pembacaan Kitab Suci Wedha. Sebelum pembacaan kitab diisi tari-tarian seperti tari gambyong, tari pendet, tari rejang, tari dewa dan tari jempana.

Tawur Agung by Rijal Tobat 2Tidak ketinggalan atraksi Pemutaran Gunung Mandragiri dan Ogoh-ogoh dengan iringan Musik Ganjur. Ini yang menjadikan Upacara Tawur Agung bukan sekadar ritual memohon keberlangsungan kehidupan dalam alam semesta, namun sekaligus menyajikan sesuatu yang menghibur.

Air suci yang dibagikan pada uamt Hindu, diambil dari beberapa mata air di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebagian dari mereka ada yang meminumnya namun ada juga yang memercikkan pada tubuhnya. Mereka mempercayai dengan melakukan ini akan menyucikan hati dan pikiran.

Sebelum digunakan air suci ini disemayamkan di tiga candi yang ada dalam kompleks Candi Prambanan, yaitu Candi Syiwa, Candi Wisnu, dan Candi Brahma. Setelah melaksanakan ritual Tawur Agung Kasanga, umat Hindu bersiap melakukan ritual Catur Brata esok harinya atau menggelar Nyepi.

Ritual ini berlaku selama 24 jam di mana umat Hindu tidak akan bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), tidak menikmati hiburan (mati lelanguan). Selamat Hari Raya Nyepi bagi yang merayakan. (naskah: Padmagz/foto: Rijal Tobat/editor: Heti Palestina Yunani)