Pelarian Tiga Hari ke Lima Gili

Gili Trawangan 2Buat saya, travelling itu semacam ‘pelarian’ sejenak dari hiruk pikuk kota dan rutinitas sehari-hari yang kalau diikuti tidak pernah akan berhenti. ‘Pelarian’ itu tidak usah lama-lama, 3 hari 2 malam sangat cukup untuk membuat saya refreshing. Kali ini saya memilih ‘lari’ dari Jakarta ke Lombok.

Cuma singkat, dari Jumat hingga Minggu. Bersama lima teman, saya berangkat menggunakan direct flight dari Jakarta ke Lombok, paling pagi.  Agar ‘pelarian’ iniefektif, mengingat keterbatasan waktu dan ingin mengunjungi beberapa tempat sekaligus, saya gunakan jasa tour agent. Semua akomodasi dan transportasi, beres tapi untuk itinerary, saya dan teman-teman lah yang memutuskan.

Setelah dua jam terbang dari Jakarta ke Lombok yang saya habiskan dengan membaca buku, Lombok pun di hadapan saya. Mobil jemputan siap membawa saya kelima Gili. Inilah Gili-Gili yang saya arungi itu;

  1. Gili Nanggu Gili Nanggu 2

Dari airport, saya menuju Pelabuhan Teluk Kodek. Dari sana perjalanan berlanjut dengan fast boat menuju Gili Nanggu yang ditempuh selama kurang lebih 25 menit. Angin dan ombak lumayan tinggi. Itu cukup membuat hati berdebar.

Apalagi sebelumnya ada update dari teman yang kebetulan sudah duluan menyeberang bahwa kondisi laut agak kurang bersahabat. Jadi, saya kencangkan vest life dan banyak berdoa waktu itu.

Tapi begitu tiba di Gili Nanggu, rasa berdebar itu hilang. Saya lihat pemandangan sekeliling amat memanjakan mata. Rasanya ingin buru-buru lompat dari fast boat kalau tak ingat harus segera check in dulu di sebuah hotel di Senggigi.

Gili Nanggu adalah sebuah pulau kecil di antara gugusan Gili-Gili di Lombok. Gili Nanggu favorit turis Eropa. Terbukti, saat tiba di sana, ada serombongan turis Perancis yang sudah asyik berjemur. Sebagian bermain bola dengan penduduk lokal.

Tanpa menunda waktu, setelah berganti baju, saya pun berlari menuju air. Teman-teman saya yang lain memilih snorkeling. Air laut di Gili Nanggu jernihnya minta ampun. Saking jernihnya, di air dangkalnya kita bias melihatikan-ikan kecil berenang hilir mudik. Setelah puas berfoto-foto, perjalanan lanjut ke tujuan Gili berikutnya sekaligus untuk makan siang.

  1. Gili SudakGili Sudak 1

Transportasi menuju ke Gili yang satu ini bukan dengan fast boat, melainkan menggunakan perahu tradisional. Pemandangan di Gili Sudak lebih indah lagi. Laut biru, deretan bukit, pepohonan hijau dan perahu tradisional semacam a sight for sore eyes terutama untuk saya yang hamper setiap hari disuguhi pemandangan kemacetan kota.

Di Gili Sudak hanya ada dua rumah. Di sini, saya menikmati makan siang dengan menu ikan bakar fresh, sambal matah, plecing kangkung dan kelapa muda yang langsung diambil dari pohon. Rasanya ingin bertahan dulu di Gili Sudak kalau tak ingat masih ada Gili-Gili lain yang harus saya kunjungi.

  1. Gili KedisGili Kedis 2

Selesai makan siang di Gili Sudak, tujuan selanjutnya adalah Gili Kedis. Di pulau ini saya hanya mampir sebentar untuk berfoto-foto di atas bebatuan dengan latar belakang langit dan laut biru. Dari Gili Kedis, perjalanan dilanjutkan menyeberang ke Senggigi.

Di Senggigi, saya hanya menginap satu malam sekalian untuk merayakan ulang tahun salah satu teman di restoran lokal. Tiba di hari kedua, setelah sarapan di hotel, mobil jemputan sudah menunggu untuk melanjutkan perjalanan kedua Gili terakhir.

  1. Gili Air 2Gili Air

Gili ini sudah lebih ramai dibanding dengan Gili-Gili sebelumnya. Penginapan dan kafe-kafe di pinggir pantai sudah banyak, namun suasananya masih nyaman dan enak untuk sekadar chill out di tepi pantai sambil membaca buku sampai ketiduran.

Di Gili Air, snorkeling adalah kegiatan utama yang biasa dilakukan turis selain leyeh-leyeh untuk sunbathing. Tapi saya memilih ngadem di kafe. Dari Gili Air, perjalanan dilanjutkan ke Gili Trawangan untuk makan siang dan menginap semalam.

  1. Gili Trawangan

Gili trawangan3Here we go! Gili Trawangan inilah yang saya anggap paling happening di antara Gili-Gili lainnya. Hampir seperti Kuta dengan deretan restoran, kafe dan klab. Satu hal yang membedakan dengan Bali adalah tidak ada kendaraan bermotor. Bahkan sesekali kita mendengar suara azan dari masjid terdekat.

Setelah capek berkeliling pulau dengan bersepeda, saya dan teman-teman memutuskan menunggu sunset sambil menikmati minuman dingin di kafe di depan pantai. Di Gili Trawangan ada juga penangkaran kura-kuralho. Tidak besar sih, tapi lumayan untuk menambah pengetahuan.

Sayang saya hanya semalam stay di Gili Trawangan. Malam itu juga, berkemas harus dilakukan, karena besok paginya kembali menyeberang ke Senggigi, langsung menuju airport dan kembali ke Jakarta. Ah, ‘pelarian’ harus berakhir rupanya. (naskah dan foto: Juli Kristina/Heti PalestinaYunani)