Padma Bergaya Ala Telecommuting

Love, Art and Journey Membangun Padma (11)

Ketika niat awal membuka usaha ini, yang terlintas di benak saya adalah ngantor di rumah. Tujuannya adalah 1. menghemat biaya operasional, 2. menghemat biaya transport, 3. menghemat waktu perjalanan dari rumah ke kantor. Maka saya menyulap paviliun kami di rumah menjadi semacam ruang kerja.

Di situ ada dua meja kerja, sebuah PC, sebuah laptop, sebuah lemari kaca, sebuah fax, dua lemari kabinet, sebuah kipas angin dan printer. Tentu saja layanan internet wifi untuk memudahkan saya bekerja. Lagipula, kami baru memulai, harus hemat biaya. Toh, jika kami harus turun ke lapangan membawa tamu, kami di-support oleh para guide profesional, para crew casual yang bisa di-hire hanya saat event berlangsung.

Tetapi kenyataannya, pada saat usia Padma Tour Organizer sudah 3 tahun, kami tetap berkantor di paviliun sederhana ini, sementara  tim di kantor sudah menjadi 4 orang. Bahkan pernah sebuah stasiun TV nasional ingin meliput suasana kantor kami menjelang akhir tahun. Mereka ingin melihat kesibukan seperti apa kantor Padma Tour Organizer. Saya menolak, kalimat saya hanya: saya tidak menjual kantor, tapi menjual paket wisata.

Apakah kantor itu perlu? Ya, jika kita membutuhkan prestise, kenyamanan dan ruangan yang memadai untuk meeting atau butuh  kegagahan atau imej dalam menjalankan usaha. Tetapi kami tidak. Kami memilih menambah layanan wifi supaya kru bisa bekerja di teras, di paviliun, di ruang tamu, bahkan saya bisa bekerja malam hari di kamar tidur.

Kembali pada pertanyaan: kenapa tidak sewa kantor yang lebih representatif ? Jawabnya: kami tak ingin terbebani biaya operasional bulanan yang akan membuat harga paket wisata yang kami jual menjadi mahal. Kemudian hari, fenomena berkantor tanpa kantor menjadi semacam life style yang makin membuat kami makin percaya bahwa kantor bukanlah sebuah kebutuhan mutlak.

Istilah yang tercetus kemudian adalah telecommuting. Kami comot dari www.padmagz.com untuk menjelaskannya. Istilah telecommuting pertama kali dicetuskan oleh Jack Nilles pada 1973. Saat ini, telecommuting menjadi tren, saat seseorang tidak harus bekerja di kantor karena kemajuan teknologi sudah sangat mendukung untuk menyelesaikan pekerjaannya di mana pun.

Kebanyakan telecommuter memilih bekerja dari rumah, sementara sebagian lainnya memilih berpindah-pindah tempat alias nomaden. Seorang telecommuter tidaklah harus seorang pebisnis. Karyawan atau pegawai biasa pun bisa melakukannya. Life style ini memang sedang mewabah di seluruh dunia. Bahkan pemerintah Australia mencanangkan commuting day.

Hari itu para karyawan bebas bekerja dari mana saja. Negara-negara berkembang juga mulai mengikuti tren ini, termasuk Indonesia. Pekerja di Indonesia yang ber-telecommuting mencapai 34 persen, kedua setelah India (56 persen). Berdasarkan polling Reuters satu dari lima orang di seluruh dunia, terutama para pekerja di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia, melakukan telecommuting.

Namun ditilik dari urgensinya, manfaat serta pertimbangan efisiensi waktu dan lain-lain maka, kami memang belum membutuhkan kantor mentereng sebagai upaya meningkatkan imej. Tetapi mungkin, kelak jika staf yang mengurus keperluan administrasi  tidak tertampung lagi oleh paviliun kami yang mungil, saat itu saya harus memikirkan ‘kantor’ secara lebih serius. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)