OKA RUSMINI; Mendokumentasikan Bali dalam Karya

6. novel sagraPerempuan itu mengurai rambutnya yang mulai berwarna kelabu. Cermin di depannya membuatnya selalu merasa ingin berpaling. Ya, dia ingin sekali menonton wajahnya. Membaca remah-remah yang membuat warna kerutan di wajahnya makin keras, seperli goresan garis di kanvas. Setiap garis memiliki maknanya sendiri. Semua lekuk dan kerut itu pasti memiliki cerita. Kelamkah? Ia ingin sekali mengenal dengan detail setiap wajahnya. Seperti sebuah lekuk peta. Oh, bukan. Bukan peta, mungkin lebih tepat palung.

Paragraf pembuka sebuah cerita pendek karya Oka Rusmini ini terasa khas; sendu, kelam, namun sangat berkarakter. Itu lah kelebihan Oka. Dan ‘kekuatan’ inilah yang membuat sosok dan karya-karya Oka menjadi fenomenal di dunia literasi Indonesia. Bahkan seringkali menjadi kontroversial karena ibu satu putra itu dikenal cukup berani mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang dipandang minor; kolot dan merugikan perempuan.

Bali memang sudah lama memesona Oka, penulis yang pernah menjadi tamu undangan Festival Winternachten di Hague dan Amsterdam pada 2003 itu. Dengan latar belakang sebagai jurnalis yang mengantarnya menekuni dunia tulis menulis sastra, Oka lantas memiliki kepekaan yang lebih dalam menyikapi dan memandang persoalan sosial dan budaya masyarakat di Pulau Dewata yang menjadi pilihan tempat tinggalnya sekarang. Begitu pula persoalan pariwisata yang makin berkembang, turut mengilhami penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman pada 2003, itu untuk terus menulis buku yang berciri beda dengan penulis lain.

1. oka rusmini dalam pakaian adat BaliKhusus kepada PADMagz yang menemuinya usai hadir sebagai pembicara dalam ‘Halal Bi Halal Lintas Komunitas Sastra’ yang digelar Komunitas Susastra Nusantara (KSN) di Balai Pemuda Surabaya, 5 Agustus 2014 lalu, Oka membagi ‘penglihatannya’ tentang Bali yang begitu eksotik itu.

Mengapa Anda memilih tinggal di Bali setelah lama di Jakarta?

Tak ada alasan rumit. Hanya pilihan. Kebetulan Bali itu memang sumber inspirasi yang terus bergejolak untuk siapa pun termasuk saya. Beragam kehidupan yang dijalani masyarakatnya, semua menjadi warisan. Tak hanya mengagumkan, tapi juga luar biasa. Dan saya sangat bersyukur bisa tinggal di Bali sekarang.

Apa contoh kekaguman itu?
Banyak sebenarnya. Salah satunya, sejak dahulu masyarakat Bali sudah mengajari kita bagaimana mencintai tumbuhan dengan upacara Tumpek Bubuh. Apa makna luasnya? Inilah kesadaran bagi makhluk hidup di dunia untuk melestarikan hutan atau alam. Juga ada Tumpek Kandang yaitu upacara menghormati binatang. Ini luar biasa. Kita tanpa terasa digerakkan sendiri untuk memiliki kesadaran mencintai lingkungan. Tak perlu dipkasa-paksa untuk menjadi manusia baik di sini karena adat telah menuntun.

Kalau untuk Anda sendiri apa yang paling menarik dari Bali?

5. novel tarian bumiBali itu seperti sekolah. Ia tempat saya belajar banyak hal terutama menjadikan tulisan saya makin matang. Tempat saya juga mencatat beragam perubahan yang terjadi dalam masyarakat Bali. Itu kemudian saya tuangkan dalam buku-buku saya. novel Tarian Bumi, misalnya. Novel itu lahir karena pengamatan saya tentang perubahan-perubahan itu. Oya, novel ini juga banyak data dan jejak tentang perjuangan perempuan Bali terhadap adat dan budaya yang dipegangnya.

Terkait dengan pekerjaan Anda sebagai penulis, apa yang sudah didapat dari Bali?

Wow banyak. Ada banyak untungnya terkait pekerjaan saya sebagai wartawan Bali Post sejak tahun 1990. Itulah yang memudahkan saya untuk memotret semua detak dan derak fenomena-fenomena perubahan yang lain di Bali. Kalau seorang jurnalis bekerja sungguh-sungguh dalam mencari datanya, maka berita-berita di koran yang kita tulis bisa dijadikan novel. Semua bahan-bahan itu saya rekam dalam buku-buku saya. Ya buku semacam dokumentasi budaya yang akan tetap terlacak. Anda bisa baca novel saya berjudul ‘Tempurung’, itu juga banyak digali dari reportase saya saat di lapangan sebagai jurnalis.

Jadi memang tak ada misi tertentu tinggal di Bali ya?

Nggak ada. Tinggal di Bali bukan untuk misi apapun. Saya hanya merasa nyaman dan menemukan tempat berlindung yang indah. Kadang di hari libur saya menginap di hotel. Saat itulah saya terasa jadi turis yang bisa menikmati liburan sepuasnya. Ingat, rileksasi itu harus lho. Jadi saya merasa Bali bagi keluarga kecil kami adalah surga nyata yang ternyaman.

Sebagai jurnalis dan penulis, bagaimana Anda melihat budaya Bali di antara penetrasi budaya asing di tengah maraknya pariwisata?

Pa2. oka bersama anak dan suaminyariwisata ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan dengan Bali. Kenapa? Karena banyak orang Bali bergantung pada dunia pariwisata. Di sisi lain efek pariwisata juga membawa perubahan drastis. Contohnya, harga tanah yang makin tinggi dan sulit dimiliki orang Bali sendiri. Tapi itu semua perubahan-perubahan yang terjadi di belahan dunia mana pun. Tinggal kita saja sejauh mana bisa mereduksi sisi negatifnya dengan tetap setia menjaga budaya tetap lestari. Dan itu saya lakukan dengan tetap menulis tentang Bali dan budayanya. Semoga begitu. (naskah: PAD/foto: koleksi pribadi/hpy)