Nostalgia Bertiga di Titik Mula Bertemu

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (5)

5-Kawan Sepenanggungan (1)Mendaki Gunung Rinjani penuh tantangan. Sejauh ini, medan yang saya lalui bersama tiga kawan saya sudah memasuki pasir besar. Kondisi pijakannya tidak stabil, 3 pijakan naik lalu turun 1 hingga 2 pijakan.

Saya awalnya khawatir dengan kawan saya dari Bekasi yang cedera otot pahanya. Tetapi tanpa diduga ternyata dia begitu semangat dan sama sekali tidak terasa lagi pegalnya. Langkah kaki pijakan satu dengan pijakan lainnya terus menanjaki medan puncak Rinjani.

Itu dilakukannya tanpa rasa lelah dan tidak ingin menyerah. Ia dibantu dengan sedikit  motivasi penyemangat dalam hati “push the limit, push the limit.” Akhirnya tibalah saya di puncak Gunung Rinjani 3726 mdpl pada pukul 05.30. Sujud syukur begitu syahdu saya rasakan bisa bertemu kembali dengan puncak gunung terbaik dari gunung lain yang selama ini saya daki.

Matahari terbit dengan semburat setengah melingkar begitu eksotis dan terus berubah dengan cepat hingga akhirnya sang mentari pun hadir berhadapan sejajar dengan mata. Oh indahnya alam ini.

Setelah puas menikmati puncak gunung, kami turun pukul 08.00. Kawan kami dari Surabaya berhasil mencapai puncak meski menikmati sunrise di tengah perjalanan. Ia brlari-lari dengan senyum begitu merekah menyusuri medan puncak berpasir saat menuruni puncak gunung, kembali menuju Plawangan Sembalun.

5-Turun Dari Sembalun
Turun dari Plawang Sembalun

Sambil beristirahat kami berdiskusi untuk perjalanan selanjutnya. Alternatifrnya turun Segara Anak lalu naik Plawangan Senaru lalu turun ke Desa Senaru atau kembali langsung ke Desa Sembalun tanpa harus mengunjungi Danau Segara Anak.

Dari hasil diskusi cukup ‘alot’, diputuskan untuk kembali ke Desa Sembalun, dengan pertimbangan mengurangi risiko cidera kembali kawan yang dari Bekasi dan lelahnya fisik kawan dari Surabaya.

Selesai makan siang dan berkemas, kami turun pada pukul 13.00. Selama perjalanan turun, benar saja ternyata kawan saya yang dari Bekasi cideranya semakin parah, perjalanan pun semakin melambat.

Tiba di Pos 3 pukul 16.00, sekadar mengisi energi dengan susu panas dan sedikit camilan lalu perjalanan dilanjutkan. Prinsip kami, entah sampai pukul berapapun kami tidak akan melakukan bongkar kemasan ransel dan membangun tenda kembali.

5-Pengurus Mushola Kantor Kecamatan Sembalun
Pengurus Mushola Kantor Kecamatan Sembalun

Kawan saya dari Bekasi ini, benar-benar kelelahan. Tetapi ia yakin akan sampai meski jam berapa pun. Akhirnya kami sampai pada pukul 22.00 tempat istirahat kami semula bertemu, Musala Kantor Kecamatan Desa Sembalun.

Istirahat malam itu dipenuhi kilas balik 2011 hingga perjalanan kemarin tentang Rinjani. Bagi yang pernah mendaki gunung tersebut mungkin setuju jika Rinjani selalu menjadi gunung nostalgia yang akan dikunjungi kembali kelak. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)