Night of Summer Festival by Lila Yulvia

Aku melangkahkan kaki turun dari kereta api Tohoku Shinkansen yang membawaku ke kota Sendai. Aku membetulkan letak ransel yang kubawa, melangkahkan kaki dengan cepat mengikuti arus ratusan orang lainnya keluar dari stasiun. Aku tersenyum mendapati pemandangan yang begitu familier dan sangat kurindukan di depanku, yaitu ratusan orang yang memadati ruas jalan dengan satu tujuan: menikmati festival musim panas.

Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan ponsel sambil menekan-nekan tombol yang sudah kuhafal di luar kepala. Kubawa ponsel itu ke telinga kiriku sambil kakiku tetap melangkah pelan mengikuti arus manusia yang berjalan lambat.

“Halo?”

“Ah, halo. Aku sudah sampai di Sendai, Bibi,” ujarku sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Beberapa gadis remaja melewatiku sambil mengenakan yukata berwarna-warni. Bunyi geta, sandal kayu tradisional Jepang yang dikenakan gadis-gadis itu, membuatku tersenyum. Ini melemparkan kembali ingatanku pada kunjungan pertamaku ke festival semacam ini, enam tahun lalu.

“Ya, seperti sudah kubilang sebelumnya, aku akan jalan-jalan sebentar, melihat Festival Obon. Bibi mau kubelikan takoyaki?” tawarku. Salah seorang gadis di depanku mengenakan yukata berwarna biru tua dengan motif bunga mawar merah besar-besar. Rambutnya digelung dengan meninggalkan beberapa juntai ikal rambutnya, lengkap dengan jepit rambut dengan hiasan mawar yang sangat serasi karena senada dengan yukata yang dikenakannya.

“Tidak usah, nikmati saja festivalnya. Hati-hati, Chika-chan,” ujar Bibi Saeko sebelum menutup sambungan telepon. Aku kembali menyimpan ponsel di saku celanaku dan kembali berjalan sambil memanjakan diri dengan suasana festival.

Sudah lama sekali rupanya, aku bergumam sendiri sambil mendekati sebuah kedai yang menjual takoyaki. Jajanan berbentuk bola-bola dengan isian potongan gurita di dalamnya ini selalu menjadi favoritku, bahkan sejak aku pertama kali mencobanya di even jejepangan di Surabaya dulu. Aku ingat betul, saat pertama kali ke Jepang bersama sahabatku Rina, kami sempat bertengkar hanya gara-gara takoyaki. Rina menyenggolku kuat-kuat saat ada cowok cakep melintas di depannya, yang berakibat jatuhnya dua buah takoyaki milikku dari kotaknya.

Aku menyuapkan sebuah takoyaki ke dalam mulutku sambil melanjutkan jalan kaki. Ingatanku kembali melayang ke masa lalu, saat aku ngambek pada Rina.

“Ih! Kamu ngapain sih Rin?” sergahku galak.

“Yah, habisnya tadi ada cowok keren banget sih. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis, tinggi lagi, kan tipemu banget tuh,” ujar Rina sambil cengar-cengir tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Tapi, nggak usah pakai senggol-senggol heboh segala, sayang banget dua takoyaki jatuh! Dua lho!” ujarku sambil menunjuk-nunjuk takoyaki yang sudah berdebu, menggelinding di permukaan jalan.

“Cuma takoyaki jatuh aja sewot! Cowok cakep itu susah ketemunya, malah dibandingin sama takoyaki!” Rina yang tidak mau kalah membalas kata-kataku.

“Uang sakuku nggak sebanyak kamu yang bisa beli takoyaki lagi walaupun jatuh. Aku harus hemat kalau masih mau pulang bawa oleh-oleh,” aku yang terbakar emosi langsung menyemburkan kata-kataku yang pedas itu. Rina, dengan wajah merah padam menahan amarah, pergi meninggalkanku di tempat dengan langkah besar-besar.

Aku tersenyum kecut. Saat itu, yang terpikir di benakku bukanlah seberapa terlukanya Rina dengan perkataanku, melainkan bagaimana caranya ia melangkah selebar dan secepat itu meski ia sedang menggunakan yukata dan geta. Aku kembali menusuk sebuah takoyaki dan mengangkatnya ke mulut saat tiba-tiba sosok yang berjalan di depanku berhenti sehingga aku menabraknya.

“Maaf!”

Kami sama-sama mengucapkan kata maaf sambil sedikit membungkukkan badan. Aku bisa melihat takoyakiku yang jatuh serta sedikit saus takoyaki yang menempel di baju bagian belakang orang yang kutabarak.

“Aduh, maafkan saya, gara-gara saya baju Anda jadi kotor,” ucapku buru-buru sambil berusaha mencari saputangan di dalam tas. Aku masih tetap mengaduk-aduk tas saat orang yang kutabrak menggumamkan kata ‘tidak apa-apa’ dengan suaranya yang kalem. Suara yang membuat perasaanku tenang seketika, yang sangat kuingat di sepanjang 6 tahun terakhir.

Aku spontan mendongakkan kepala, dan di depanku berdiri seorang laki-laki setinggi kira-kira 170 cm yang memakai kaus longgar berwarna hitam. Rambutnya dipotong seperti landak, mencuat-cuat tajam, tapi berkesan rapi karena potongannya cukup pendek. Ia menyunggingkan senyum meminta maaf padaku.

“Tidak, saya juga salah karena berhenti mendadak. Sepertinya saya sudah menjatuhkan takoyaki Anda. Biar saya ganti,” ujarnya sambil menampilkan raut wajah bersalah. Kilasan flashback, festival serupa 6 tahun silam kembali terbayang di benakku.

“Maaf aku sudah menjatuhkan takoyakimu. Biar kuganti,” ujar anak laki-laki itu sambil berjalan ke kedai yang menjual takoyaki.

“Titidak usah, ini juga salahku yang jalan tanpa melihat kanan-kiri.”

“Sudahlah. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Kouhei.”

Sekarang di depanku berdiri orang yang berwajah sama persis dengan orang yang kutemui enam tahun lalu.

Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin dia Kouhei yang itu.

“Tapi, baju Anda kotor,” ucapku lagi. Laki-laki di depanku melirik kaos yang dipakainya, lalu mengangkat bahu, “Tak apa, hanya kena sedikit, lagi pula tidak terlihat karena kausku berwarna hitam. Kubelikan takoyaki lagi ya? Aku merasa tidak enak karena sudah membuatmu kehilangan takoyaki-mu,” ujarnya setengah memaksa. Profil wajahnya masih menampilkan kecemasan dan rasa bersalah.

Ada tujuh orang memiliki wajah yang sama di dunia ini. Mungkin saja kan dia orang yang berwajah sama dengan Kouhei? Enam tahun adalah waktu yang tidak singkat, bisa saja Kouhei yang dulu wajahnya sudah agak berbeda sekarang. Lagi pula saat itu kami sama-sama masih berumur 16 tahun.

“Ini hanya takoyaki, lagi pula aku sudah kenyang,” ucapku sambil menggoyangkan sebelah tanganku. Takoyaki yang jatuh tadi adalah takoyaki terakhir yang ada di kotakku, dan aku sudah memakan yang lainnya. Tidak seperti enam tahun lalu saat aku bertengkar dengan Rina. Saat itu, dari lima buah takoyaki jatuh dua buah, dan dua buah lagi jatuh karena ditabrak Kouhei.

“Kalau begitu, bagaimana kalau permen apel?” ujar laki-laki itu sambil berjalan ke arah kedai di sebelah kami yang kebetulan menjual permen apel. Ia membeli dua buah permen apel dan menyodorkan salah satunya padaku, “Ambillah. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Kouhei.”

Astaga. Aku mengulurkan tangan, menggapai permen apel yang disodorkannya, “Namaku Chika. Terima kasih.” Lidahku kelu, tak percaya dengan apa yang ada di depanku.

Tenanglah, Chika. Memangnya yang bernama Kouhei cuma satu di seantero Jepang? Lagi pula dulu aku bertemu dengannya di Tokyo, bukan Sendai.

“Sendirian saja?” tanyanya lagi sambil berjalan di sebelahku. Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Aku melirik pergelangan tangan kanannya, dan mendapati gelang bertali cokelat dengan sebuah manik berwarna biru di tengah melingkar di sana.

“Lalu, kau sekarang terpisah dengan temanmu? Bodoh kau ini, bagaimana bisa mengucapkan hal seperti itu pada sahabatmu sendiri?”

Aku merengut, “Aku terbakar emosi tadi.”

Kouhei tertawa, “Pergi berbaikan sana dengan temanmu. Tapi jangan minta maaf dengan tangan kosong,” ujarnya sambil melihat ke sekeliling. “Ah, belikan saja aksesori! Bagaimana kalau gelang?” ujarnya sambil menunjuk ke gelang yang dijual oleh penjual aksesori di dekatku.

“Lihat, manis kan? Kau beli dua, satu untuk temanmu dan satu untukmu,” ujarnya sambil menunjuk gelang bertali cokelat dengan hiasan manik bulat berwarna merah di tengahnya. Aku melihatnya mengambil gelang yang sama namun dengan hiasan berwarna biru.

“Yang itu untuk siapa?” tanyaku heran, setelah kami menyerahkan uang untuk membayar aksesori yang kami beli.

“Untukku, jadi kita punya gelang yang sama, cuma beda warna saja,” ucapnya riang.

“Kouhei-san, gelang itu …”

Kouhei mengangkat pergelangan tangan kanannya, sambil tetap memegang permen apel di tangan kirinya, “Oh, ini? Entahlah, aku tidak ingat apa pun tentang gelang ini. Kakakku bilang agar aku selalu memakainya dan hanya melepaskan saat mandi saja.”

“Kenapa kau tidak ingat apa pun tentang gelang itu?” tanyaku hati-hati. Jangan, jangan berharap terlalu tinggi!

“Aku pernah mengalami kecelakaan setahun yang lalu, dan oleh dokter aku dinyatakan amnesia. Kakakku memutuskan untuk membawaku kembali ke kota asal kami, Sendai, untuk berkumpul bersama keluarga kami yang lainnya. Sebelum ini, aku tinggal di Tokyo.”

Aku memejamkan mata. Rasanya nyaris tidak percaya saat aku akhirnya bisa kembali ke Jepang untuk kedua kalinya. Kali ini aku pergi sendiri, tanpa Rina, hanya dengan modal nekat. Pamanku menikah dengan orang Jepang, Bibi Saeko, dan aku memutuskan bahwa aku ingin berlibur ke tempat mereka untuk merasakan lagi festival di musim panas. Aku tidak bisa melupakan pertemuan singkatku dengan Kouhei, anak laki-laki yang tidak sengaja bertabrakan denganku. Saat itu, aku jatuh cinta dengan Kouhei, cinta monyet. Kami tidak benar-benar kenal, tapi saat itu aku benar-benar senang sekali bisa menghabiskan waktu bersamanya.

Saat ini, Kouhei yang sama sedang berjalan bersamaku.

“Ah, kembang api!”

Aku mendongakkan kepala ke atas, terpana oleh pendar-pendar cahaya berwarna-warni di langit malam. Semua orang berhenti berjalan, menikmati keindahan kembang api yang meledak indah di angkasa. Tak terkecuali aku dan Kouhei.

“Mungkin gelang ini ada kaitannya dengan orang yang paling penting dalam hidupku.”

Aku menoleh. Aku melihat Kouhei sedang menatap gelang di pergelangan tangan kanannya sebelum menoleh dan tersenyum padaku, lalu kembali mendongakkan kepalanya, “karena entah kenapa, setiap kali melihatnya aku samar-samar bisa mengingat seorang gadis, dan festival musim panas. Mungkin dulu aku jatuh cinta padanya,” ucapnya lagi. Aku membeku, tak tahu harus berkata apa untuk membalas kata-katanya. Yang kulihat adalah wajahnya dari samping yang diterangi berkas sinar kembang api.

Dia benar-benar Kouhei. Tapi, dia tidak ingat apapun tentangku.

Tadinya aku tidak bermaksud memikirkannya. Tadinya kukira saat-saat itu hanya akan menjadi kenangan musim panas yang tidak akan terlupakan. Aku tak pernah berharap, apalagi berusaha mencari Kouhei, karena aku tidak yakin bahwa kami akan bertemu lagi.

“Mungkin,” ucapku, sambil menyentuh gelang berhiaskan manik berwarna merah yang tersembunyi di balik lengan jaketku. Ketika kembang api-kembang api itu berhenti dinyalakan, Kouhei melambaikan tangan padaku.

“Terima kasih untuk waktunya. Senang bertemu denganmu,” ucapnya. Tubuhnya berbalik pergi. Aku melambaikan tangan. Aku tak punya keberanian untuk mengenalnya lagi. Aku tak ingin kehilangannya lagi, apalagi kunjungan kali ini juga tidak lebih lama daripada sebelumnya. Mendengarnya kehilangan ingatan sudah cukup menyakitkan bagiku. Aku membalikkan badan dan mulai berjalan dengan mata yang sedikit buram karena air mata yang mulai membayang. Aku sudah merasa berjalan cukup jauh dan berniat pulang saat tiba-tiba sebuah tangan menarikku.

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kouhei yang terengah-engah, seperti habis lomba marathon. Ia melepaskan tanganku, dan dengan kedua tangan dijejalkan di saku, ia berkata, “Hei, apa kau tidak keberatan kalau kapan-kapan kita jalan-jalan? Kau tinggal di kota ini, kan?”

Aku mengerjapkan mata. Ya, Tuhan mepertemukanku lagi dengannya pasti untuk suatu alasan. Sebagai kesempatan kedua untukku, mungkin? Meskipun dia kehilangan ingatan, tapi dia masih tetap seperti Kouhei yang dulu.

Aku balas tersenyum. Sepertinya liburanku kali ini akan lebih menyenangkan daripada yang sebelumnya. (naskah: Lila Yulvia(*)/ilustrator: NN/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Nurlila Yulvia Chesarani bernama penaLila Yulvia. Penulis merupakan mahasiswa di Universitas Brawijaya, memiliki passion dalam dunia tulis- menulis, fashion design, dan memasak. Mulai menyentuh dunia tulis-menulis saat memasuki bangku SMA, sekarang dia gemar mengikuti kompetisi menulis sebagai sarana untuk terus mengembangkan diri terutama dalam keterampilan menulis dan memperluas wawasan. Nomor telepon: 081944951430)