Niatnya Memperabukan Diri Diikuti Umat Buddha

Mengenal Kwee Tek Hoay, Sastrawan Besar Melayu-China (5)

KTH 5-cKedatangan pemimpin Java Buddhist Association Pandita Josias van Dienst membuka pikiran banyak tokoh-tokoh masyarakat yang memperhatikan agama Buddha. Diskusi upasaka keturunan Belanda dengan bhiksu-bhiksu (hweshio-hweshio) itu berkisar pada ajaran agama Buddha dan perkembangannya di Pulau Jawa. Atas jasa Kwee Tek Hoay, terselenggara dialog antara Josias dan Bhiksu Lin Feng Fei, kepala Klenteng Kwan Im Tong di Prinsenlaan (Mangga Besar), Jakarta.

Dialog itu menghasilkan kesepakatan bahwa klenteng sebagai tempat ibadah umat Buddha tidak hanya digunakan sebagai tempat pemujaan saja, melainkan pula sebagai tempat untuk mendapatkan pelajaran agama Buddha.

KTH 5-aSebagai tindak lanjut dari kesepakatan itu, Bhiksu Lin Feng Fei mengizinkan Pandita Josias memberikan ceramah Agama Buddha di Klenteng Kwan Im Tong. Kemudian Kongkoan (Chineesche Raad), suatu badan yang mengorganisir klenteng-klenteng di Jakarta, mengizinkan pula Pandita Josias memberikan ceramah di klenteng-klenteng di sekitar Jakarta.

KHT 5-c Pada tanggal 4 Maret 1934, YM Bhikkhu Narada Thera dari Ceylon (Sri Lanka) datang ke Indonesia atas undangan Kwee Tek Hoay, Ir Mengelaar Meertens (Ketua Perhimpunan Teosofi cabang Indonesia) dan Pandita Josias van Dienst (Deputy Director General International Buddhist Mission, Java Section).

Pada tahun yang sama dibentuk Java Buddhists Association Afdeeling Batavia (Jakarta) dengan J.W. de Witt sebagai ketua, DR. R. Ng. Poerbatjaraka sebagai wakil ketua, dan Ny. Tjoe Hin Hoey sebagai sekretaris. Disamping itu dibentuk juga Java Buddhists Association Afdeeling Buitenzorg (Bogor) di bawah pimpinan A. Van der Velde sebagai ketua dan Oeij Oen Ho sebagai sekretaris.

Tak lama kemudian, tanggal 10 Mei 1934, Java Buddhists Association Afdeeling Batavia melepaskan diri dari Java Buddhists Association pusat dan berdiri sendiri.  Peran Kwee Tek Hoay pada perkembangan agama Buddha juga terlihat ketika tahun 1935 ia membentuk Sam Kauw Hwee, yaitu organisasi-organisasi setempat yang anggotanya terdiri dari penganut agama Buddha, Kong Hu Chu dan Tao.

KTH 5-b Organisasi itu juga didirikannya dengan media cetak bernama Sam Kauw Goat Poo yang berbahasa Indonesia. Tujuan organisasi ini pada dasarnya adalah untuk mencegah orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa untuk menjadi penganut ajaran agama lain. Selama pendudukan Jepang, semua kegiatan organisasi Buddhis terhenti.

Kwee Tek Hoay kemudian berusaha mengembalikan kebudayaan leluhurnya dengan menulis tentang agama Tionghoa yang merupakan gabungan dari tiga agama, yakni Konfusionisme, Buddhisme dan Daoisme (Taoisme). Pemikirannya tentang tiga agama itu kemudian dimuat dalam majalah Sam Kauw Gwat Po.

Pada 4 Juli 1952 Kwee Tek Hoay wafat di Cicurug Sukabumi akibat dianiaya perampok yang menyatroni rumahnya. Sebagai penganut Buddha yang taat, dia merupakan orang pertama yang minta jenazahnya diperabukan. Sejak saat itu banyak orang Tionghoa mengikuti jejaknya untuk diperabukan juga. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: net/editor: hpy)