‘Ngeri dan Sedap’ Air Terjun Devi

devi (1)“Pelangi! Pelangi!,” teriak saya spontan. Terperanjat, sedikit tak percaya akan penglihatan saya serta perasaan takjub memenuhi benak ini, bersamaan telunjuk yang mengarah ke bawah. Hampir saja saya kalap dan berlari tanpa mempedulikan bahayanya kalau terantuk, jatuh atau bahkan terpental ke arus deras di bawah sana.

“Ngawur! Mimpi di siang bolong!,” celetuk rekan saya yang merasa terganggu lantaran sebelumnya tengah dicekam ngeri mendengar ceritera seputar nama air terjun ini dari sopir yang mengantar kami.

Eitts, saya sama sekali nggak sedang bermimpi kok, apalagi di saat matahari seterik ini menyengat kepala. Juga bukan lantaran pusing makanya pandangan mata berkunang-kunang. Yang saya lihat memang mirip pelangi kok!devi (4)

Hanya, akibat kurang sigap menyeruak di antara kerumunan pengunjung, momen berharga untuk mengabadikannya menggunakan kamera terlepas. Ya, hanya beberapa bidikan kamera saya yang sempat menangkap keindahan pelangi itu. Itupun agak blur disebabkan kepul uap yang naik.

Betul, saya dan rekan tengah berada di Pokhara, Nepal, tepatnya di sekitar Devi’s Fall atau Air Terjun Devi. Menyaingi gemuruh air terjun dan riuhnya suara pengunjung di sekitar kami, sayup-sayup terdengar penjelasan sopir. Menurutnya, sejatinya Pattala Chango merupakan nama air terjun ini.

devi (3)Jika dalam perkembangannya dia lebih popular dengan sebutan Devi’s Falls, ada cerita. Cukup ngeri juga mendengarnya. Katanya, itu tak lepas dari kisah seorang wanita berkebangsaan Swiss yang tewas mengerikan di sana. Namanya senada, Devi. Misteri tetap menyelubung lantaran tak ditemukannya jasad wanita itu hingga kini.

devi (2)Wanita itu bagaikan lenyap begitu saja, terseret dan masuk jauh ke perut bumi. Tak urung, langkah kaki saya agak gamang membayangkannya. Tapi air terjun yang tak seberapa lebar itu sungguh menakjubkan. Sedap nian melihatnya.

Bagaimana tidak? Aliran airnya yang deras seolah menggetarkan tanah tempat kami memijakkan kedua kaki kami. Benar, tepat di bawah tempat berpijak itu, mengalirlah sungai bawah tanah berarus kuat.

Tapi mendadak diri ini jadi berandai-andai, kalau pengunjung tak dibatasi dan terlalu lama bertumpu bersamaan pada area yang sama, cukup kuatkah tempat berpijak itu? Kalau mendadak ada gempa bumi atau longsor bagaimana?

Ah, ngeri lagi datang. Kontan gelengan kuat kepala di kepala ini berusaha mengusir pemikiran buruk itu. Lebih baik saya puaskan memandangi keelokannya, menikmati suara gemuruhnya, menanti sang pelangi tampil kembali, sambil tetap waspada. (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/editor: Heti Palestina Yunani)