Telecommuting; Mereka yang Ngantor Tanpa Kantor

Budaya kota metropolis adalah budaya urban dengan segala keriuhannya. Termasuk, kapitalisme. Bangun pagi, salat Subuh, mandi, bergegas sarapan, lalu berangkat kerja. Inilah suatu rutinitas yang bisa jadi telah dianggap wajar oleh kebanyakan warga kota. Termasuk di Surabaya, yang menjadi kota metropolis terbesar kedua di Indonesia. Namun, belakangan semakin banyak yang mendobrak kebiasaan itu. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan telecommuting dalam pekerjaannya.

Istilah Telecommuting pertama kali dicetuskan oleh Jack Nilles pada 1973. Saat ini, telecommuting menjadi tren, di mana seseorang tidak harus bekerja di kantor, karena kemajuan teknologi sudah sangat mendukung untuk menyelesaikan pekerjaannya di mana pun. Kebanyakan telecommuter memilih bekerja dari rumah, sementara sebagian lainnya memilih berpindah-pindah tempat alias nomaden.

SB1Seorang telecommuter tidaklah harus seorang pebisnis. Karyawan atau pegawai biasa pun bisa melakukannya. Life style ini memang sedang mewabah di seluruh dunia, bahkan pemerintah Australia mencanangkan commuting day, yaitu satu hari di mana para karyawan bebas bekerja dari mana saja. Negara-negara berkembang juga mulai mengikuti tren ini, termasuk Indonesia.

Pekerja di Indonesia yang ber-telecommuting mencapai 34 persen, kedua setelah India (56 persen). Berdasarkan polling Reuters, satu dari lima orang di seluruh dunia, terutama para pekerja di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia, melakukan telecommuting. Bekerja secara telecommuting seringkali menjadi pilihan dengan alasan efisiensi.

Ya, kemacetan di jalan terkadang banyak menghabiskan waktu dan biaya. Seperti yang dialami oleh Sofie Beatrix, pemilik agensi penulis Asamedia yang memutuskan ber-telecommuting sejak 2008. Sebelumnya Sofie pernah bekerja kantoran selama dua tahun, dan hal itu rupanya banyak menyita waktu dan menguras fisiknya. Apalagi jika berdomisili di kota metropolis seperti Jakarta.

Setelah memutuskan berkonsentrasi menjadi penulis dan berkembang menjadi writerpreneur, Sofie memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya dan berkoordinasi bersama tim dan klien-kliennya di Jakarta melalui internet. “Selain waktunya yang fleksibel, secara finansial juga lebih baik karena banyak ongkos yang dipangkas, sehingga penghasilan pun otomatis lebih banyak,” tutur perempuan berdarah Cina, Ambon, Belanda ini.

fickyKemajuan teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan juga merupakan alasan Ficky A. Hidajat memilih telecommuting sejak lima tahun lalu. Executive Director Broadcast Indonesia yang bergerak di bidang konsultan komunikasi ini merasa sangat diuntungkan dengan teknologi yang mempermudah pekerjaannya. Ia bahkan pernah deal dengan klien hanya by phone. Waktu itu kliennya bertanya banyak hal tentang personal branding dan Ficky menjelaskan sampai ke hal-hal teknis.

“Setelah tertarik, dia minta dikirimi proposal. Beberapa hari kemudian dia menghubungi lagi membicarakan masalah harga, dan akhirnya deal! Baru setelah itu saya dan tim datang ke kantor klien untuk melakukan survei dan menggali apa yang menjadi kebutuhan perusahaannya,” jelas lelaki yang pernah menjadi karyawan bank selama 3,5 tahun itu.

Jika Ficky merasa bahwa dirinya tidak menghadapi kendala berarti dalam menjalani telecommuting, lain halnya dengan Sofie. Ia mengakui, bahwa ada satu kendala yang terkait komunikasi. “Dengan koordinasi hanya melalui e-mail atau chatting, terkadang bisa terjadi miskomunikasi. Bagaimanapun, koordinasi secara tatap muka masih diperlukan,” tuturnya.

Untuk bertatap muka, baik dengan tim maupun dengan klien, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa telecommuter memilih rumah sebagai kantornya. Namun, banyak juga perusahaan besar yang memberlakukan telecommuting kepada karyawannya. Biasanya perusahaan periklanan yang membebaskan karyawannya datang dan pulang kapan saja, asalkan pekerjaan mereka beres sesuai tenggat waktu.

ferinaFerina Dewi, pemilik agensi iklan Siclus Communication, termasuk yang menjadikan rumahnya sebagai kantor. Ferina juga menyediakan perlengkapan kantor, seperti faksimili dan komputer, untuk para staf keuangan dan administrasi yang stand by di rumahnya. Semua urusan pekerjaan dapat dilakukannya di rumah, kecuali saat harus bertemu klien di tempat yang disepakati.

Sebagai agensi iklan, dia sering menemani klien talkshow ke media-media. Jika sedang mobile seperti itu, Ferina biasa berkoordinasi dengan staf dan kliennya yang lain melalui telepon dan e-mail. “Cara seperti ini benar-benar memangkas cost, baik dari segi tempat karena saya tidak perlu menyewa kantor, juga menghemat biaya untuk SDM karena satu orang bisa meng-handle beberapa pekerjaan.”

Selain itu, telecommuting juga melahirkan bisnis-bisnis terkait. Selain membutuhkan orang-orang yang mempunyai skill IT, virtual office baik online maupun offline juga banyak diminati. Semakin banyak gedung virtual office yang digunakan sebagai tempat pertemuan. Namun untuk telecommuter yang tidak menggunakan gedung virtual office, kafe atau kantor klien bisa menjadi pilihan. “Biasanya kami bertemu di kafe atau meeting point yang enak bagi kedua belah pihak, alias tidak jauh dari tempat masing-masing. Kalau nggak, ya di kantor klien,” jelas Ficky.

Tak berbeda jauh, Sofie juga memilih rumah, kafe, kantor klien, atau hotel saat berada di luar kota sebagai meeting point. Jelas bahwa telecommuting sangat menguntungkan dari segi efisiensi waktu dan biaya. Namun, meski tampaknya santai, ternyata bekerja dengan cara seperti ini memerlukan disiplin yang tinggi. Self control sangat diperlukan dalam telecommuting. “Nggak enaknya telecommuting ya itu, terkadang malas datang tiba-tiba. Belum lagi kalau sedang deadline, tiba-tiba muncul masalah sehingga otak tiba-tiba nggak bisa mikir. Kalau sudah begitu kitanya sendiri yang harus disiplin,” tegas Sofie.

Telecommuting memang menjawab kebutuhan para pekerja yang membutuhkan efisiensi biaya juga fleksibillitas waktu. Tapi, pastikan bahwa segala aktivitas kerja terorganisir dengan baik, termasuk saat membuat janji bertemu dengan klien. Jangan sampai mengalami kejadian konyol seperti yang pernah dialami Ficky. “Saya pernah keliru tempat, padahal sudah pesan menu!” Hahaha. (naskah dan foto; Didi Cahya/hpy)