Ngafe Ditemani Kerlip Lampu, Menunggu Sunset

Warna-Warni Kampung Wisata di Tepi Kapuas (4)

4-Kayu gelondongan yang sudah dibelah dan dipahat siap diikat dengan rotan untuk jadi meriam karbit Jalan-jalan menikmati Kampung Wisata Kuantan makin asyik saja. Saya mencoba untuk berjalan ke pojok lain di kampung wisata itu. Akhirnya, mata saya menemukan galangan lain yang menarik. Beberapa orang pria sedang sibuk menyusun papan di atas tiang galangan, ternyata mereka sedang mempersiapkan meriam karbit. Inilah yang saya cari awalnya.

Di sana saya bertemu salah satu pria yang sedang sibuk dengan kayu gelondongan. “Bang. Ini buat ape ni Bang?,” tanya saja padanya. “Ini maok buat meriam karbet, udah maok jadi ni, tinggal diikat lalu direndam. Buat nantik malam tambiran,” kata pria bernama Amat. Selama 10 menit perbincangan dengannya, saya jadi tahu bagaimana cara pembuatan meriam karbit. Seperti yang saya lihat di galangan, rupanya kayu gelondongan harus dibelah menjadi dua bagian lebih dulu.

Berikutnya kayu harus dipahat di bagian tengahnya untuk membuat saluran parit berbentuk setengah lingkaran. Terlihat juga beberapa tali rotan seukuran kelingking yang nanti digunakan untuk mengikat kedua bagian yang dibelah tadi. Setelah itu dibuatlah lubang untuk hulu ledak. Supaya semakin kuat dan menutupi rongga kayu maka meriam ini akan direndam alam lumpur Sungai Kapuas selama 2-3 minggu. Setelah itu barulah meriam karbit ini siap ditembakkan. Sungguh proses yang cukup panjang.

4-Menunggu sore disalah satu sudut cafeTak terasa sore mulai beranjak malam, saya melepas lelah sejenak di sebuah cafe di ujung berbeda. Tempat ini belum terlalu ramai. Sepertinya cafe itu menjadi altenatif bagi yang tidak mendapat tempat nongkrong di kampung wisata. Sudah ada puluhan anak muda yang bersantai di sini, mungkin ingin melihat matahari terbenam. Cafe pinggir sungai itu cukup menarik. Dengan  papan dan kayu yang disusun artistik sedemikian rupa membuatnya elok untuk dijadikan spot berfoto.

Papan tulis hitam bertuliskan kapur dengan Bahasa Melayu Pontianak menghias di beberapa sudut. Kalimatnya dibuat unik dan menggelitik “Mane can tak singgah sinek, Tak kawanlah kite.” Artinya; “kamu tidak seru dan bukan teman saya kalau tidak mampir ke mari.” Masih banyak tulisan lain yang mengundang orang untuk sejenak singgah atau berlama-lama di sana. Apalagi lampu terang warna-warni di sekeliling tempat yang langsung bersentuhan dengan laut itu makin membuat jenak.

Lampu-lampu ini dihiasi dengan dedaunan plastik. Meja kursi tersusun di pinggir dan menempel dengan dinding yang terbuka dan langsung menghadap ke sungai. Dari sana, kita bisa melihat kapal yang berlalu-lalang, juga berbagai macam aktivitas pinggir sungai lainnya yang hanya khas ada di Pontianak, termasuk keadaan kampung seberang. Jika Anda berkesempatan bersantai di sini, dijamin malam hari pasti penuh kerlip lampu yang terlihat bagus dan romantis.

Ada lagi yang menarik yaitu dinding cafe yang berhias gambar tiga dimensi dengan bermacam macam model. Sayang sekali tidak ada titik pengambilan gambar yang jelas sehingga objek foto dapat terlihat menyatu dengan lukisan tiga dimensinya. Sebenarnya, jika menilik makanan dan minuman yang disajikan di cafe-cafe pinggir sungai itu sangatlah sederhana. Rata-rata hanya ringan-ringan saja untuk sekadar menjadi teman duduk-duduk menikmati suasana pinggir sungai.

Di tempat itu, saya melirik matahari yang hampir jatuh. Namun sayang ternyata posisi cafe yang saya singgahi tidak pas untuk menikmati sunset karena matahari tersembunyi di balik atap-atap rumah penduduk. Tapi itu tetap tak membuat ketakjuban saya pada Kuantan. Semakin sore tempat di mana saya bersantai itu semakin ramai dikunjungi. Berbarengan dengan matahari yang mulai beranjak menginggalkan langit Pontianak, saya juga beranjak dari tempat itu. Kali ini saya puas, tapi kelak saya ingin ke mari lagi. (naskah dan foto: Donny Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani)