Napak Tilas Kehidupan Manusia Purba di Gua Pawon

pawon 6Ada keindahan purbakala di balik bukit yang tergerus pertambangan batu di Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yaitu situs Gua Pawon. Situs ini menawarkan pengalaman wisata menakjubkan.

Kehadirannya seakan menghapus sesaknya debu dari bongkahan batu-batu bukit yang diangkut truk-truk besar. Memang tempatnya agak jauh dari pusat kota. Tapi percayalah, tempat ini menjanjikan ‘sesuatu’.

Setidaknya untuk sekadar napak tilas bagaimana manusia purba dulu hidup. Memang Gua Pawon kalah tenar dengan objek wisata alam lainnya yang ada di dekat pusat Kota Bandung. Semisal kawasan kebuh teh di Lembang atau Kawah Putih Ciwidey. Tapi sekali lagi, tak salah menuju ke sini.

Saya sendiri sengaja menyempatkannya berangkat dari Jakarta. Ditemani seorang kawan, saya memilih moda transportasi massal cepat dan murah meriah; kereta api ekonomi. Dari Stasiun Senen, Jakarta, kami turun di Stasiun Cimahi.

Perjalanan dilanjutkan dengan kereta rel diesel (KRD) ekonomi ke Stasiun Padalarang. Tak jauh dari stasiun, kami naik angkutan kota berwarna kuning jurusan Padalarang-Rajamandala. Sekitar 40 menit perjalanan kami turun persis di gapura besar berwarna hitam di pinggir Jalan Raya Ciburuy-Padalarang.

Gapura ini merupakan petunjuk untuk masuk ke kawasan Gua Pawon. Dari sini, jalan kaki ditempuh kaki sekitar 30 menit. Sepanjang jalan, objek ini menyuguhkan bukit-bukit batu raksasa, truk-truk pertambangan batu, dan rumah-rumah penduduk yang tersapu debu bongkahan batu.

Diperlukan stamina ekstra untuk berjalan kaki menuju Gua Pawon, sebab jalpawon 4-an mendaki dan menurun. Disarankan membawa masker untuk menjaga pernapasan dari debu-debu bongkahan batu pertambangan. Petunjuk akhir menuju Gua Pawon adalah semacam pendopo berwarna cokelat bertuliskan; ‘Selamat Datang di Objek Wisata Situs Guha Pawon’.

Sayang sekali pendopo ini kotor coretan tangan-tangan jahil. Dari sini, napas yang tersengal bisa agak lega. Sebab, loket Gua Pawon sudah dekat dan hanya berjalan kaki lurus saja sekitar 300 meter. Hanya membayar tiket sebesar Rp 5.500 kita bisa menyusuri Gua Pawon yang konon pernah ditinggali manusia purba itu.

Gua Pawon berada di kawasan karst Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Gua ini berada di puncak Bukit Pawon, dengan ketinggian 601 di atas permukaan laut. Dari pusat Kota Bandung, gua ini jaraknya sekitar 25 kilometer.

pawon 3-mulut gua pawonPanjang gua sekitar 40 meter dan lebar sekitar 16 meter. Pengunjung harus menempuh jarak sekitar 150 meter, meniti anak tangga dari batu menuju mulut gua yang sempit. Tubuh kita harus menunduk untuk memasukinya. Gua Pawon kaya sekali stalaktit.

Di dalamnya, bisa ditemukan keindahan cahaya yang masuk dari lubang di langit-langit gua. Ada banyak kelelawar yang bekelebat di bawah lubangnya. Untuk menemani sekaligus mengetahui sejarah dan keunikan gua, ada jasa seorang pemandu yang juga juru penjaga gua bernama Suhendar.

“Ada dua jenis binatang yang dari dahulu hingga sekarang hidup di gua ini yaitu kelelawar dan monyet,” kata Suhendar mulai bercerita. Menurutnya, gua ini sempat terancam karena penambangan batu. Penambangan dihentikan pada 1999, setelah para peneliti dari Kelompok Riset Cekungan Bandung datang ke tempat ini. Setahun kemudian dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi dan Universitas Padjadjaran.

Sampai di tengah gua, terlihat pohon-pohon besar tubuh menjulang. Ada tiga ‘jendela’ besar di gua ini. Semuanya menghadap hamparan sawah yang membius pesona keindahan. Di sini, pengunjung bisa mengambil gambar sekadar berfoto dengan latar keindahan panorama.

Gua ini tidak dalam menembus bukit. Jika ditelusuri, gua ini lebih mirip cerukan-cerukan yang memiliki jalan saling terhubung setiap cerukan. Tetap berhati-hati dalam menyusuri gua. Sebab, jalannya agak terjal dan batuannya sedikit licin.

Gua Prasejarah

pawon 2-fosil kerangka di goa pawonGua ini menjadi buah bibir ketika peneliti menemukan fosil kerangka manusia purba berusia 7.300 hingga 9.500 tahun silam. Fosil kerangka manusia purba dengan posisi meringkuk bisa disaksikan di bagian tengah gua. Fosil ada di ruang yang agak menjorok ke dalam, dan dibatasi pagar besi.

Namun, fosil ini hanyalah replika. Kata Suhendar, fosil asli yang ditemukan pada 2004, disimpan di Balai Arkeologi Bandung. “Dulu ditemukan berbagai peralatan purba dan 6 kerangka manusia purba. Tapi, yang utuh cuma satu,” katanya.

Menurut situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, gua ini pernah diteliti oleh peneliti Belanda bernama AC De Yong dan GHR von Koenigswald pada 1930 hingga 1935. Peneliti menemukan peralatan seperti anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari zaman Preneolitik.

Di zaman itu, manusia purba mulai menetap di gua-gua, ceruk, atau perbukitan gamping. Peralatan-peralatan kebudayaan tadi berbahan obsidian, kalsidon, kwarsit, rijang, dan andesit. “Berdasarkan penemuan itulah awal penamaan Pawon. Pawon dalam Bahasa Indonesia berarti dapur,” terang Suhendar.

Pada 2003 hingga 2004, hasil ekskavasi peneliti menemukan berbagai bentuk artefak, fitur, dan ekofak yang sedikit menguak gambaran gua ini di masa silam. Artefak itu terdiri dari gerabah, pecahan keramik, alat serpih, alat tulang, alat batu pukul, sisa perhiasan berbahan gigi hewan, dan moluska.

pawon 5-lubang dari langit-langit guaSelain itu, temuan yang membuat gua ini menjadi buah bibir adalah fosil kerangka manusia purba. Jika diperhatikan, tekstur batuan gua mirip sekali karang laut. Ada dugaan, dahulu gua ini adalah tepian danau Bandung purba.

Bisa dibayangkan, betapa tua usia gua ini dari jejak-jejak sejarah yang ditinggalkannya. Maka kawasan Gua Pawon merupakan kawasan vital yang harus dijaga dari gerusan eksploitasi berlebihan banyak perusahaan tambang batu di sekitarnya.

Tapi sayang, objek wisata ini seakan-akan dikepung alat berat dan truk-truk super besar yang mengeruk bebatuan kapur dan marmer. Jika tak ada perhatian serius, bukan tidak mungkin dua objek wisata prasejarah ini akan termakan oleh kepentingan ekonomi sesaat. (naskah dan foto: Fandy Hutari/Heti Palestina Yunani)