Naik Kapal Ditemani Awan Cumulonimbus

Menikmati Pulau Pemana dari Desa Gunung Sari (1)

pulau pemana (3)Hampir satu jam saya menunggu keberangkatan kapal yang akan membawa saya menuju Pulau Pemana, sebuah pulau dengan luasan sekitar 5 km2. Padahal kapal yang sudah berada di hadapan. Selama menunggu, kendaraan berat peti kemas yang berlalu-lalang di depan saya meninggalkan kecamuk debu.

Itu membuat saya harus sering-sering mengernyitkan dahi, mengibas-ngibaskan tangan, hingga menutup mata dan hidung agar tak terganggu polusinya. Tapi demi Pemana, saya sabar. Baru kali ini saya ke Pemana, satu dari 18 pulau dalam gugusan pulau-pulau kecil di laut utara Kabupaten Sikka. Dari ke-18 pulau tersebut, hanya sembilan pulau yang berpenghuni, salah satunya Pulau Pemana.

Akhirnya, deru mesin kapal berbunyi. Suaranya berbaur dengan hiruk pikuk penumpang yang satu persatu mulai naik. Mereka tampak mencari posisi yang paling nyaman untuk perjalanan 1,5-2 jam ke depan. Kapal ini berkapasitas cukup besar. Terhitung ada sekitar 50 orang di dalam kapal. Itu belum ditambah dengan muatan lain seperti sembako, kendaraan bermotor, ternak dll.

Setiap harinya tersedia hanya satu kapal yang melayani rute Pemana-Maumere pulang-pergi. Kapal penumpang itu biasanya berangkat dari Maumere menuju Pulau Pemana pada pukul 13.00 WITA, dan kembali kembali pada pukul 08.00 WITA

Saat saya pergi ke Pemana, langit biru cerah dihiasi gugusan awan-awan cumulonimbus rendah. Itulah pemandangan khas perairan timur di saat musim kemarau. Anginnya yang teduh dan gelombang yang datang tak terlalu tinggi memberikan siapa saja waktu untuk lebih menikmati perjalanan.

Beda ketika memasuki bulan Juli-Agustus, angin mulai bertiup lebih kencang dari biasanya. Ombak pun beriak lebih tinggi. Dapat dipastikan perjalanan di kala itu akan membangkitkan adrenalin.

Ah ya, jika berniat ke Pemana, bawalah peralatan snorkeling, karena banyak spot-spot menarik di sekitar Pemana seperti Pemana Kecil (Pulau Kambing) atau Pulau Babi. Sayangnya belum tersedia penginapan di pulau ini, sehingga bawalah selalu kantong tidur.

Sebagian besar rumah di Pemana adalah rumah panggung, jika Anda ingin bermalam, bersosialisasilah dengan penduduk sekitar, penduduk Pemana sangat ramah, minta izin untuk bermalam di terasnya. Meski terpencil, jangan kuatir kehabisan perbekalan, karena terdapat beberapa kios yang menyediakan makanan dan minuman ringan. (naskah dan foto: Pande Putu Hadi Wiguna-greenearthcadet@gmail.com/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)