Naik Bantal Dulu Sebelum Naik Kuda

02

Tangguhnya Joki Cilik Waikabukak (1)

Keuntungan dari mempunyai banyak teman di berbagai daerah dan tinggal bersama mereka pada saat melakukan perjalanan adalah kita bisa mengeksplor daerah sekitar dengan akses yang kadang tidak bisa kita dapatkan hanya sebagai turis atau open trip berombongan. Keberuntungan itu saya temui bersamaan dengan buku-buku yang saya bawa untuk membuat perpustakan di desa adat Praijing di Sumba. Kebetulan, kakak ipar teman baik saya mengajak ke event tahunan di wilayah Waikabubak, Sumba Barat yaitu Pacuan Kuda yang khas dengan joki ciliknya.

09Pacuan kuda di Waikabubak ini biasanya dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Selain di wilayah ini, mereka akan berpindah-pindah di wilayah NTB dan NTT di mana diadakan event serupa. Joki anak-anak yang mengendarai kuda ini biasanya berasal dari Desa Dompu, Bima, Pulau Sumbawa, NTB. Usia mereka sekitar 6-12 tahun. Dan mereka mulai belajar menunggang kuda dari kecil.

Mereka datang bersama pelatih mereka yang biasanya  adalah para orang tua mereka sendiri yang secara turun temurun juga merupakan joki cilik di zamannya. Biasanya mulai umur 3 tahun anak-anak yang sudah ditunjuk menjadi joki cilik. Mulanya dilatih cara duduk dengan cara menaikkan mereka di sebuah bantal atau guling. Lalu pada saat mereka berumur 4 tahun, mereka dilatih menunggang kuda yang berjalan di sawah atau di pantai sambil melatih otot kuda supaya lebih kuat dan berlari lebih cepat di pacuan.

05Latihan ini bisa berlangsung berjam-jam setiap harinya sampai mereka benar-benar duduk dengan stabil. Para pelatih akan mengikuti ke mana kuda itu berjalan, sekaligus berjaga-jaga jikalau si calon Joki ini terjatuh dan terluka. Pada saat mereka sudah berumur 5 tahun, saat itulah mereka dianggap telah siap mengikuti perlombaan di landasan pacuan kuda yang sesungguhnya.

Dalam event pacuan kuda yang saya sakisakn, joki-joki datang dari Bima ke Pulau Sumba. Mereka datang bbersama dengan pelatih atau orang tuanya. Tidak seperti perlombaan pada umumnya di mana satu joki hanya diperbolehkan mengendarai satu kuda, di sini satu joki diperbolehkan menunggangi beberapa kuda tergantung dari pemilik kuda masing-masing. Jadi, semakin terkenal keahliannya dalam mengarahkan kuda untuk memenangkan perlombaan, semakin banyak pemilik kuda memakai joki cilik tersebut. (naskah dan foto: Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)