Musim Pacuan, Terpaksa Joki Bolos Sekolah

Tangguhnya Joki Cilik Waikabukak (2)

03Pacuan Kuda yang dikendalikan para joki cilik di Waikabukak ini dibagi menjadi beberapa kelas. Mulai dari kelas kuda lokal dengan joki berumur 6 tahunan sampai dengan kelas kuda besar, peranakan kuda impor  dengan kuda sandel asli Sumbawa yang biasanya dikendarai joki yang sudah berumur 12 tahun. Kuda-kuda yang disiapkan untuk berpacu pun tidak ditempatkan dalam ruang-ruang tersendiri melainkan ditempatkan dalam satu gubug kecil beratap rumbia.

08Tempat itu digunakan sebagai tempat di mana para pemilik kuda menyimpan kuda-kuda itu sampai dengan event selesai. Bedanya dengan di Sumba, tak ada joki yang berumur lebih dari 12 tahun di sini. Sebab usia tersebut dianggap sudah terlalu besar dan berat sehingga berpengaruh pada kecepatan kuda-kuda berlari. Pada saat musim pelombaan seperti ini, anak-anak yang menjadi joki ini harus rela tidak bersekolah sampai berhari-hari.

04Bahkan bisa berminggu-minggu jika setelah satu pacuan selesai mereka harus pindah ke perlombaan selanjutnya di lain daerah. Para guru di sekolah merekapun sudah menyadari hal ini dan memberi izin kepada anak-anak yang menjadi joki, walaupun akhirnya sekolah mereka menjadi keteteran, tetapi terobati dengan kebanggaan menjadi Joki yang berarti juga membanggakan keluarga mereka.

Oiya satu hal. 07Jangan samakan pacuan kuda ini dengan Kentucky Derby yang sangat prestise, di mana para penonton harus membayar tiket masuk yang mahal, berpakaian formal layaknya sebuah pesta perayaan, dan para joki berpakaian seragam dengan helm dan sepatu mengkilatnya. Di sini kita akan melihat betapa joki cilik dengan muka lebam atau tergores karena jatuh mengenakan piyama mereka, tanpa helm dan sepatu, bahkan kudanya pun tidak berpelana. Tersamar raut wajah kanak-kanak mereka digantikan dengan latihan keras sebagai joki yang mereka jalani.

Tak dirasakan panas matahari menyengat kulit dan percikan debu yang menempel sembari kuda berlari. Tak dirasakan kelelahan mereka setiap mendengar nama mereka dielu-elukan sebagai pengendara kuda pemenang. Dari jauh saya hanya bisa memandang dan berkata. Tetaplah tangguh kalian joki kecil. Yakinlah bahwa ada satu waktu kalian akan menikmati masa kecilmu dengan gembira layaknya temen-teman sebaya. (naskah dan foto: Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani)