Mogok Berkali-kali Demi Pantai Watu Maladong

Eksplorasi Sumba (5)

sumba restoran view pantaiBetul juga. Pantai Watu Maladong memukau saya lagi tentang keindahan Sumba. Pantai itu terletak di Desa Panenggo Ede, berjarak sekitar 54 km dari Sumba Barat Daya. Akses jalan hingga di SDN Panenggo Ede cukup baik dengan jalan beraspal. Tetapi setelah itu jalan cukup terjal dengan tanah bebatuan melewati beberapa rumah penduduk setempat.

Bagian yang paling ekstrem adalah harus melewati jalan batuan dengan kemiringan yang curam dan di kanan jurang. Belum lagi akses jalan sepertinya hanya dilewati motor sehingga jalan untuk mobil terlihat sangat sempit dengan banyaknya semak belukar. Saya sempat putus asa dan berpikir untuk kembali. Tetapi rasanya sayang sekali karena ternyata pantai itu ada di balik semak belukar dan harus berjalan beberapa meter untuk mencapainya.

Ya sudahlah, akhirnya saya tetapkan niat terus mengikuti jalan setapak sementara Andre menunggu di mobil. Pantai ini berkarakteristik batu dengan bongkahan yang sangat besar dan yang uniknya adalah di pantai ini terdapat 5 buah batu karang yang tersusun di laut. Sayangnya saya tidak dapat mengambil semua foto yang menampilkan 5 buah batu tersebut karena pertimbangan ombak yang sudah tinggi.

Oh ya, jika kita melihat gugusan batu tersebut maka mengingatkan kita pada James Bond Island di Thailand. Pemandangan yang indah juga dibalut nuansa misterius, seakan menyimpan cerita tersendiri. Saya tidak berlama-lama di sana karena suasana yang sepi juga lokasi yang berada di hutan semak belukar.

Ah ternyata datang sulit, pulang pun sulit. Mobil Andre mogok dan kali ini sama sekali tidak bisa distarter. Rasa khawatir semakin menjalari kami, hari sudah menjelang sore. Sinyal HP sama sekali tidak ada, rumah penduduk pun jauh dari sini. Kalau jalan kaki hingga SDN 1 untuk mendapatkan akses kendaraan tidak mungkin dengan kondisi jalan seperti ini. Ngeri juga kalau membayangkan harus bermalam di sini.

Untung ada partner saya yang saya minta untuk membantu Andre karena ia berbadan cukup besar sehingga cukup kuat untuk mendorong mobil. Dan yihaa… akhirnya berhasil juga, mobil yang saya tumpangi hidup lagi. Secepat mungkin Andre menggas mobil dan meninggalkan tempat itu.

Cobaan ternyata tidak berhenti sampai di situ, di tebing jurang yang kami lewati tadi mobil Andre kembali mogok. Saya segera turun berhubung di bagian kiri adalah jurang sehingga mobil Andre melesak ke bawah. Untungnya mobil bisa hidup kembali. Saya berkali-kali berdoa, kalau harus mogok lagi setidaknya jangan di daerah yang sulit dijangkau seperti itu.

sumba-warungkuDoa saya terkabulkan, saya tiba di restoran untuk makan mengisi perut yang sudah keroncongan. Kali ini saya makan di Warungku, salah satu tempat makan yang direkomendasikan teman. Di tempat makan itu,  mayoritas menyediakan makanan khas Indonesia dengan harga yang terjangkau. Tak terasa waktu sudah semakin sore.

Karena pertimbangan letak wisata yang satu dengan yang lain saling berjauhan dan tidak ingin bermalam di jalan, belum lagi kondisi mobil yang kurang baik, saya kembali ke hotel saja.Apalagi kalau bukan demi menikmati senja di Pantai Kita. Hitung-hitung persiapan besok meninggalkan Sumba Barat Daya dan menuju Sumba Timur (Waingapu). (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)