Minum Tuak Melihat Panjat Bambu Terbalik

Nyobeng: Tradisi Suku Dayak Bidayuh (3)

ayam-dilempar-lalu-di-tebas-oleh-tamuAcara penyambutan tradisi Nyobeng yang digelar Suku Dayak Bidayuh di Dusun Hliebo, Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, dilakukan di dua tempat, pintu timur dan barat desa. Ritualnya dimulai dari seluruh penduduk desa yang menghampiri sembari berteriak, “booooooooo huuuuuuu.”

Mereka juga membunyikan berbagai macam tetabuhan. Ketegangan berlangsung saat saling bertatap muka berhadapan dan seluruh pria mengangkat Mandau, sumpit serta menembakkan senapan lantak. Napas saya tertahan saat ketua adat merapal mantra dan melemparkan seekor anak anjing kepada tamu yang datang.

Mpersiapan-sebelum-menariata saya merekam jelas saat anak anjing ditebas oleh ketua rombongan yang datang begitu pula dengan seekor anak ayam juga diperlakukan sama. Setelah ritual ini selesai baru saya dapat bernapas lega. Makna ritual ini sebagai penolak bala bagi kampung.

Tebasan tadi belum menyelesaikan ritual penyambutan, masih ada pelemparan telur oleh perempuan yang dituakan ke dada perwakilan tamu yang datang. Saya kaget sekali saat tiba-tiba muncul perempuan berpakaian adat tiba-tiba menyeruak dan maju ke depan dan melempar sekuat tenaga.

Semuanya berlangsung sangat cepat, telur yang pecah berarti tamu yang datang punya niat baik dan hati yang ikhlas. Lalu, kembali sebutir telur digenggam ketua adat sembari komat-kamit telur diremas hingga pecah untuk dilihat alur tetesannya.

tuak-sebagai-welcome-drinkJika mengalir baik maka kepala adat menyalami seluruh tamu yang datang diikuti oleh seluruh warga sembari mengucapkan. “slamat inu gawai”. Para wanita pun langsung menyajikan tuak sebagai minuman selamat datang ke seluruh tamu.

Selain itu akan ada pelemparan beras kuning dan putih serta tembakan senapan lantak ke udara. Tamu akan diajak menuju balug dan di sambut dengan tari-tarian oleh anak-anak desa Sebujit. Melewati gerbang janur, semua yang ingin masuk harus membasuh kaki di atas nampan berisi potongan pelepah pisang dan buah kundur sebagai pembersih diri atau pepasan.

Seekor babi besar yang terikat di depan altar persembahan lalu ditombak oleh kepala adat, kemudian akan tusuk dengan mandau oleh ketua adat tamu undangan. Darah babi yang mengucur deras ditampung dalam mangkuk dan dioleskan ke dahi, pipi, dada dan punggung seluruh peserta Nyobeng.

panjat-pinang-terbalikItu dilanjutkan dengan menari simaniamas bersama-sama mengelilingi balug sebanyak 3x. Sembari menari maka musik terus dimainkan. Para wanita Sebujit akan mulai ikut menari sembari membagikan tuak terus menerus. Tamu lalu diajak menikmati berbagai jenis makanan hasil bumi seluruh penduduk Sebujit sambil beristirahat di balai-balai.

Sambutan dan petuah dari tuan rumah dan perwakilan tamu disampaikan sembari makan dan minum. Selesai sepatah dua patah kata disampaikan dan santap siang selesai, terlihat ada kegiatan unik hendak dilakukan yaitu panjat bambu terbalik. Sungguh membuat penasaran. Bambu setinggi 10 meter mulai didirikan di sebelah balug.

kami-pemenangUntuk mendapatkan gambar yang bagus, saya bergegas naik ke balug. Peserta panjat bambu terbalik hanya diikuti 7 orang. Kenapa? Angka 7 merupakan angka keramat bagi Suku Bidayuh. Dari atas saya melihat ketua adat merapal mantra dan peserta diperciki air dengan daun Anjuang.

Setelah itu dilakukan tarian simaniamas berputar mengililingi bambu yang sudah dimantrai ketua adat. Masing-masing prajurit mencoba menaikinya hingga berhasil mengambil hadiah yang berada di puncak. Caranya dengan kepala di bawah dan berjalan mundur menaiki bambu hingga sampai puncak. Bukan hal yang mudah dilakukan karena darah terkumpul di kepala dan membuat pusing.

Dahulu di bagian atas tersimpan kepala hasil mengayau tapi sekarang sudah diganti dengan tuak yang terbuat dari air pohon enau yang di campur kulit pohon pakak atau air tapai ketan hitam. Peserta akan menunjukkan kekuatan hingga sampai ke puncak.

Dulu memanjat bambu terbalik merupakan pertunjukan kehebatan prajurit serta luapan kegembiraan setelah menang berperang. Jika peserta berhasil sampai dipuncak, tuak yang ada akan diminum langsung, sisanya dibagikan kebawah. Hingga disini, acara pembukaan Nyobeng dan penerimaan tamu berakhir. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)