Minibus Rp 30 Ribu, Susi Air Rp 280 Ribu

Berkunjung Singkat ke Negeri Pasir Seribu Suluk (1)

suluk A (3)Jejak saya berkelana singgah di sebuah kota kecamatan, Pasir Pengaraian. Tak banyak yang tahu tentang kota satu ini, makanya saya ingin bercerita. Pasir Pengaraian di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau itu disebut juga Kota Seribu Suluk. Mengapa begitu?

Untuk sampai ke kota itu, saya awali dengan mengambil start dari Jalan Arengka sekitar pukul 08.00 pagi. Saya ingin bergegas ke Terminal Bus Bayangan Panam, Pekanbaru. Berdasar info, transportasi ke Pasir Pengaraian harus dilalui dengan angkutan macam minibus jenis L300.

Katanya ya itulah kendaraan sejuta umat khusus di Pulau Andalas, hehehe. Di pinggir jalan, saya celingak-celinguk sambil membopong tas carrier merah. Saya berharap ada tukang ojek menghampiri untuk membawa saya ke Panam.

Memang begitulah di Kota Pekanbaru; kalau kita ingin naik ojek, cukup berdirilah di pinggir jalan. Nanti pasti akan ada kereta (motor) menghampiri menawarkan ojek. Tapi setelah setengah jam menunggu ojek, tumben tak ada satu pun yang muncul.

Pas tempat saya berdiri, dekat dengan pool Riau Taxi. Rupanya ada satu taksi keluar pangkalan. Jadi daripada  lama-lama menunggu ojek, saya stop saja taksi tersebut. Kalau dihitung sih, jatuhnya ongkos taksi memang  lebih mahal dari ojek yaitu sekitar Rp  60 ribu dengan argometer.

Tapi dengan opang, jika kita nego, kira-kira paling mahal Rp 40 ribu. Setelah 15 menit perjalanan, saya sampai di simpang empat Panam di Jalan H. Soebrantas. Begitu keluar dari taksi, saya sudah diserbu calo yang mencoba mengais rezeki pagi hari.

suluk A (1) Tampak berderet minibus menunggu penumpang dengan tujuan Bukittinggi, Padang, Bangkinang atau kota di perbatasan Riau dan Sumatera Barat melalui jalan kelok 9 yang terkenal itu. Termasuk saya sudah ditunggu.

Sebenarnya banyak alternatif transportasi ke Pasir Pengaraian seperti ke kota lainnya dengan menggunakan kendaraan macam travel. “Tapi untuk ke Pasir Pangaraian, belum ada travel resmi. Tapi kita bisa jemput juga kaya travel Bang,” ujar Daniel, salah satu calo Panam pada saya.

Dengan minibus, pemberangkatan ke Pasir Pengaraian hanya terjadwal pagi dan sore. Ini dikarenakan kuantitas menuju Pasir Pengaraian tidak ssuluk A (2)ebanyak ke kota lainnya. Wajar, karena Pasir Pengaraian boleh dibilang hanya kota perlintasan menuju Medan, yang sering dilalui bus antar prvpinsi macam ALS.

Tepat mendekati pukul 09.00 pagi, minibus yang saya tumpangi mulai mengambil start dari simpang empat Panam. Perjalanan yang saya tempuh kira-kira 180 km dengan lama 4 jam belum dihitung istirahat. Rutenya melewati kota terbesar Bangkinang. Di sinilah, sopir juga jemput bola mengangkut penumpang tambahan.

Tarif normal angkutan ini sebenarnya hanya Rp 30 ribu tapi dasar lewat calo saya kena ongkos Rp 20 ribu lebih mahal. Ah ya sudahlah, hitung-hitung bagi-bagi rezeki pagi-pagi nih ceritanya. Kalau mau lebih cepat sampai Pasir Pangaraian, ada alternative transportasinya lho, yaitu pesawat. Tapi sudah tentu ya mahal guys.

suluk A (5)Tak banyak tahu kalau Pasir Pengaraian bisa dituju dengan mendarat di Bandara Tuanku Tambusai. Jalur ini dilayani dengan memakai pesawat kecil dengan baling-baling yang hanya tersedia 12 seat milik Susi Air. Biasanya penerbangan tersedia pagi. Itupun dalam sepekan hanya ada 1 kali penerbangan.

Kalau mau sediakan Rp 280 ribu untuk sekali terbang dari Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru. Jadi kebayang ya hematnya menuju Pasir Pengaraian dengan minibus, bisa 10 kali lipat lebih murah kan?

Sepanjang perjalanan menuju, Anda disuguhi pemandangan hijau dari budidaya kelapa sawit di kanan kiri jalan. Memang daerah Riau terkenal akan perkebunan sawit. Tak aneh Indofood Group  punya berhektar-hektar lahan sawit di bumi Melayu ini.

suluk A (4) Selain kebun sawit, jalanan menjadi asyik karena naik-turun sedikit terjal. Setelah 2 jam diombang-ambing pir keras minibus, penumpang diajak berhenti di Rumah Makan H. Nurman Ardai di daerah Saran Kabun yang terkenal dengan Pesantren Darussalam-nya.

Rumah Makan dengan menu masakan Padang ini sangat popular dijadikan tempat ngetem kendaraan minibus dengan tujuan Pasir Pangaraian. Sejenak saya beristirahat melepas lelah. Seperti penumpang lainnya, saya juga sempatkan makan. (teks dan foto: Ferry Fansuri/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)