Mimpi Masa Kecil di Tanah Persia

buku-safir-makkiSaat membaca buku Juvenille Evolvere, kita seolah diajak menyusuri kota-kota tua di Iran. Sebenarnya bukan benar-benar tua, hanya terkesan tua. Dari sampul depan yang bergambar perempuan mengenakan burqo, Safir Makki, penulis sekaligus fotografer buku ini ingin menunjukkan suasana yang berbeda dari negara yang terlibat Perang Teluk Persia dengan Irak sejak 1980-1988.

Semenjak Perang Teluk, banyak pemberitan yang menyudutkan Iran, seolah-olah adalah negara yang tidak welcome bagi mereka yang ingin berkunjung. Namun dengan buku ini, tampillah kehidupan di Teheran, Esafan, Persepolis, dan Yazd. Empat kota ini direferensikan Safir sebagai destinasi wisata yang harus dikunjungi.

juvenile-evolvere3Di Teheran, kita bisa melihat kota modern khas Timur Tengah. Kita juga bisa mengunjungi Golestan Palace, Azadi Tower, Millad Tower, dan Alborz Ski. Sementara di Esfahan, kota dengan arsitektur terindah di dunia, kita bisa mengunjungi Sioseh Bridge, Imam Square, Masjid Sheikh Lotf Allah, Bazar-e Bozorg, dan Vank Cathedral.

juvenile-evolvere4Persepolis, kota yang menyuguhkan wisata arkeologi bagi pengunjungnya. Reruntuhan monumental membuatnya menjadi situs arkeologi yang unik. Dari kota ke empat, yaitu Yazd, menjanjikan  kota tua Chak Chak yang merupakan tempat ibadah bagi Zoroastrian dan Kharanaq.

Semua perjalanan dan interaksi fotografer inilah yang terekam dalam buku setebal 96 halaman ini. Selain itu, cerita penulis selama 12 hari tinggal di negara ini disajikan dalam 56 foto yang banyak bercerita. Maka buku cukup menggambarkan bagaimana kondisi Iran pasca Perang Teluk.

BQVxMnCCQAAfVLJGambaran kota yang disuguhkan oleh fotografer ini memaparkan kota dengan banyak bangunan tua yang jauh dari hiruk pikuk transportasi dan aktivitas perkotaan, namun selalu punya keramahan dan kehangatan. Menjelajah tanah Persia memang cita-cita masa kecil Safir Makki. Perang Teluk menjadi amunisi tersendiri baginya untuk menjejakkan kaki ke sana.

Dalam bukunya, Safir Makki lebih banyak menampilkan sisi kehidupan sosial masyarakat daripada tempat wisata. Bagi Safir Makki sendiri, berwisata bukanlah sekadar menikmati tempat-tempat menarik, melainkan juga harus bisa menikmati kehidupan masyarakatnya. (teks dan foto: Padmakers/editor: Heti Palestina Yunani)