‘Merayakan’ Kelajangan dengan Bahagia, 22 Perempuan Menulis Buku

Dua puluh dua perempuan bersama-sama menulis kisah nyata kehidupan mereka dan dituangkan dalam buku bertajuk “Aku Memilih Bahagia.” Buku setebal 298 halaman ini adalah buku ketiga dari serial “Hidup Ini Indah, Beib” (HIIB) yang digagas pertama kali oleh Wina Bojonegoro, Didi Cahya dan Heti Palestina Yunani. Seri kali ini terbit setelah seri pertama pada 2014 berjudul sama, lalu disambung seri Womenpreneur berjudul “Otot Kawat Balung Wesi” pada 2016.

Sesuai serinya yaitu Single Fighter Woman, semua tulisan esai ini dihasilkan dari perempuan yang ‘single’. Single di sini tidak dibaca hanya sebagai single status, melainkan ada makna lain. Kalau pun single atau lajang namun para perempuan ini ada yang lajang secara status, ada yang pernah lajang karena akhirnya menikah lagi, dan yang terakhir adalah menikah tapi serasa lajang karena berbagai kondisi. Tiga kategori itulah yang menjadi batasan penulsi perempuan yang diajak Padmedia menerbitkan buku.

Menurut Yenni Sampoerna, ketua panitia, keunikan buku seri yang ketiga ini adalah pada makna lajang yang tak hanya diartikan satu sisi semata. “Semua orang kan intinya harus berjuang sendiri untuk hidupnya,” kata Wina, yang juga salah satu penulis. Seperti biasa dalam serial HIIB, buku ini menampung keluh kesah perempuan menjadi tulisan yang inspiratif dari berbagai angle. Mereka menulis dari berbagai hal sepele menjadi cerita yang menarik untuk dibagikan.

Untuk menandai peluncurannya, ke-22 penulis itu menggelar peresmian di V Junction Lantai3 Ciputra World dengan berbagai acara, Kamis, 8 November 2018. Ada talk show mengenai proses kreatif menulis buku dari cerpenis Vika Wisnu didampingi Heti Palestina Yunani. Salah satu penulis, Syska La Veggie, mempersembahkan performance art. Selain book signing serta pembagian doorprize ada yang menarik yaitu fashion parade ala penulis yang memakai busana kreasi penulis dalam warna ungu, warna dominan buku mereka.

Ditambahkan Wina Bojonegoro dari Padmedia, gagasan mengumpulkan para perempuan lajang dan ‘lajang’ boleh dikata  iseng. Setelah terbitan pertama dan kedua, seri HIIB mendapat respons yang luas dari para perempuan yang merasa juga memiliki kisah inpiratif yang layak dibagi dan bisa dikembangkan lebih luas dengan mengambil banyak angle.  Mereka tak hanya yang bisa menulis namun juga yang tidak bisa menulis. “Banyak yang takjub setelah tahu para penulis dalam seri HIIB itu baru belajar menulis,” katanya.

Nah di sinilah tantangan buku ini terasa bagi Padmedia. Dibutuhkan waktu nyaris tiga tahun untuk menyelesaikan buku ini. Kesulitan utama adalah tidak seluruh penulis memiliki keterampilan menulis, sehingga harus melalui coaching beberapa kali. Kesulitan berikutnya, para penulis adalah perempuan sibuk. Mereka terdiri dari berbagai profesi: dosen, pengacara, tour guide, visual artist, pengusaha, motivator, psikolog, penyiar radio, akupunkturis, travel agent, dll.

Kesulitan ketiga, para penulis tidak tinggal dalam satu kota. Ada yang di Jakarta, Semarang, Blitar, Malang, Cirebon, bahkan di Selandia Baru, dll sehingga koordinasi murni dilakukan secara maya, baik WhatssApp maupun email. Dari hasil editing berkali-kali yang dilakukan jurnalis Heti Palestina Yunani sebagai editor didapatkan berbagai aneka tulisan yang natural. Menariknya, seluruh tulisan dalam buku adalah kisah nyata penulis yang mungkin tak pernah diketahui orang lain.

Ada kisah ketegaran perempuan menghadapi tekanan hidup, memenangkan pekerjaan, mengatasi kesulitan ekonomi, menegakkan harga diri,  menghadapi perselingkuhan suami, menghadapi kematian orang-orang terkasih, bahkan membernikan diri memilih sebagai single parent. Pahit? Ya, sebagian besar kisah dalam buku ini tentang kepahitan hidup. Namun yang perlu diserap dari para penulis ini adalah, ketegaran dan cara memilih jalan dalam menyiasati luka-luka itu menjadi pelajaran berharga.  Seperti kata pepatah: Apa yang tak membunuhmu, justru menguatkanmu.

Sisi positif lain dari proyek menulis ini adalah: healing therapy. Perempuan butuh teman curhat. Ya, itu wajar. Kali ini kami mengajak para perempuan menulis untuk menyembuhkan diri, dari luka-luka dan kepedihannya. Jika mereka berhasil melalui tantangan menulis untuk menyembuhkan diri, maka selanjutnya mereka akan tersenyum. Bahwa hidup ini sekeras apapun mampu mereka lalui. Boleh jadi sekarang para penulis ini sudah lahir dalam nama baru, jiwa baru bahkan semangat baru. Maka bolehlah dikatakan buku ini sebagai kenangan mereka atas peristiwa-petistiwa yang pernah hadir dalam lembaran sejarah hidupnya.

Berikut daftar penulis dan judul: Achidaivasti (The Show Must Go On), Anieta Yu (Rumah Cinta), Angelia Merry (Senyum Pelipur Lara), Dian KD (Lampu), Dian Nafi    (Tidak) Sendirian, Didi Cahya (Double Rasa Single), Elde Firda (Perawan itu Pelaris), Heti Palestina Yunani (Tegar  dengan Tagar), Irmia Fitriyah (Untung Saya Lajang), Miming Merina (Aku dan Tiga Perempuan), Monique Aditya (The Power of Kepepet), Nur Badriyah (Nyantri pada Pak Tri), Reffi Dhinar (Lelaki Hujan), Sinta Candra Sari (Roller Coaster), Syska La Veggie (Jejak Langkah untuk Afika), Titie Surya (Pria Lima Syarat), Triyana Damayanti (Semua karena Cinta), Wina Bojonegoro (Melambung di Semambung), Windy Caesar (Jangan Takut Bermimpi), Yanti S Sastro Prayitno (Bahagia Pilihanku), Yenni Sampoerna (Dating, Site, and Love), Yoni Astuti (Melangkah bersama Seto). (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: Ciputra World/editor: Heti Palestina Yunani)