Menyusur Pontianak Dari Tepian Kapuas

menarik-biaya-naik-kapal-wisataCukup membayar Rp 15 ribu, saya bisa menggunakan kapal wisata untuk menyusuri Sungai Kapuas. Kapal motor itu cukup besar sekira berukuran 10 x 3 meter yang siap mengantar tamu untuk menikmati pemandangan sungai Kapuas. Paling tidak jika penuh mampu menampung 50 orang dalam sekali keberangkatan.

dsc_0391Kapal wisata ini biasanya bersandar di Alun Alun Kapuas. Saya sarankan untuk memilih mengantre pukul 16.30 sore untuk keberangkatan pukul 17.00 sore. Kenapa? wisatawan yang beruntung bisa melihat matahari terbenam yang bulat dan berwarna kuning tua, membias terpendar di atas air Sungai Kapuas. Sungguh pemandangan cantik bagi saya yang mencintai sore hari.

dsc_0585Meski hanya kapal wisata untuk menyusuri sungai tapi perjalanannya dibuat menyenangkan. Kapal menyediakan beberapa meja dan kursi serta beberapa kursi di bagian tepi kapal hingga bagian depan kapal. Camilan ringan, minuman segar dan mie rebus tersedia lengkap. Harganya memang lebih mahal sih daripada harga normal. Tapi itu setara dengan rileksnya menemani perjalanan selama 45 menit menyusur Sungai Kapuas melewati kedua sisinya.dsc_0216

Kalau dulu, saya ke sana ketika tengah ada peristiwa budaya popular Pontianak yaitu Meriam Karbit. Jika musim Meriam Karbit, sungai berbeda pemandangan karena meriam-meriam bertengger di atas panggung yang kokoh. Suasana sore membuat saya bisa mendapatkan sensasi kejutan dari tembakan meriam karbit.

Sembari duduk di tepian kapal, dari kejauhan terlihat nyala api suluh terkena angin dan tiba-tiba api menyambar di ujung hulu ledak meriam karbit. Terlihat lidah api yang sangat besar menyambar di ujung meriam dan langsung diikuti dengan ledakan hebat menggelegar. Kapal terasa bergoncang dan sedikit oleng jika tepat berada di depan meriam yang ditembakkan. Sensasi ini yang memang saya cari: sport jantung ala Pontianak hahaha.DSC_0169

Bagi yang suka memacu adrenalin silakan menyewa perahu tradisional. Dengan perahu itu Anda bisa berlayar lebih dekat menyusuri pinggiran sungai melihat lebih dekat dari depan meriam ditembakkan. Keseruannya luar biasa karena selain telinga kita dilatih kaget, adrenalin juga benar-benar terasah. Pemain meriam tidak akan perduli dengan kapal yang berseliweran. Mereka tetap saja menembak dan terkadang sampan tradisional ini sampai tergoncang hebat.

Banyak hal yang bisa dilihat dari kapal ini mulai dari Pasar Siantan dan pelabuhan ferry-nya. Terdapat penginapan lanting pertama di tepi sungai, Masjid Jamik sebagai masjid penanda berdirinya Kesultanan Pontianak. Keunikan kehidupan masyarakat kampung tepi sungai juga menarik.

Sambil terus berjalan saya menyaksikan Jembatan Sungai Kapuas yang pernah menjadi ikon di tahun 90-an. Belum lagi Pelabuhan Senghie yang merupakan pelabuhan pertama di Pontianak. Ada Pasar Kapuas besar yang menjadi urat nadi antara daerah hulu dan hilir serta kapal-kapal yang berlayar menyusuri sungai maupun menembus laut. dsc_0287Perjalanan menarik itu berakhir ke rute kembali di Taman Alun-Alun Kapuas.

suasana-diatas-kapalDengan tawaran seru itu, Pontianak saya nilai menjadi salah satu kota ramah wisatawan yang bisa dikunjungi untuk agenda liburan akhir tahun 2016 ini. Transportasi laut maupun udara bisa digunakan. Kapal laut dari Semarang atau Surabaya rutin berlayar menuju Pontianak demikian pula sebaliknya. Apalagi maskapai penerbangan yang melewati Pontianak juga sudah banyak. Bahkan tujuan Jakarta saja hingga 10 x penerbangan perhari termasuk rute internasional seperti Kuala Lumpur dan Sarawak.

selesai-naik-kapal-wisataHotel juga sangat banyak, tingkat okupansi yang tinggi membuat banyak hotel berbagai tipe dari berbagai jaringan hadir di Pontianak. Tinggal menyesuaikan budget ingin tidur di mana sesuai kantong Anda. Hotel yang menyebar rata di pusat kota membuat kita tidak perlu kuatir. Apalagi sudah banyak tour dan travel yang menawarkan paket wisata yang tidak hanya melayani tur dalam kota tapi hingga luar kota.

Eh, ada satu lagi mitos yang beredar di kalangan masyarakat Pontianak. Barangsiapa yang ke Pontianak dan meminum air Kapuas maka niscaya ia akan kembali ke Pontianak bahkan tidak bisa lepas dari Pontianak. Berani mencoba?

(naskah dan foto:Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani)