Menyeruput Teh Kashmir Terakhir

Membelah Keheningan Danau Dal (3)

Tak hanya Danau Dal yang bisa dinikmati. Agenda saya selanjutnya di danau di tengah Kota Sinagar, India itu adalah pasar terapung. Ada dua macam pasar terapung di danau ini. Satu, pasar terapung yang menjual berbagai sayur, buah, makanan, dan aneka souvenir yang dijual di atas perahu.

Pasar yang merupakan satu dari dua pasar terapung di atas danau yang ada di dunia ini hanya bisa kita nikmati di pagi hari. Pasar dimulai awal sekitar pukul 5 hingga pukul 7 pagi. Sedangkan pasar terapung lainnya yaitu deretan toko yang mengapung di atas danau. Pasar ini buka selama 24 jam.

Di sini ditawarkan berbagai macam souvenir khas Kashmir. Ada karpet, shawl, pashmina, aneka pernak pernik, baju, sandal dan berbagai buah-buahan kering. Di malam hari, Danau Dal menyajikan panorama yang berbeda.

Jajaran rumah perahu dihiasi lampu warna warni memantul bayangan dalam beningnya danau. Suasana begitu hening dengan aroma khas danau yang segar menyebar ke dalam rumah perahu.

Pemandangan berbeda saya lihat di seberang sana. Di sepanjang jalanan Danau Dal, berderet hotel dan restoran dengan germerlap lampu hias. Suasana ramai dan padat. Bersamaan dengan libur sekolah musim panas di Negara India, Kashmir menjadi tujuan utama wisatawan lokal.

Tak mengherankan, sepanjang Danau Dal yang hening terjadi kemacetan panjang dengan suara klakson yang membabi buta. Hidangan makan malam kare ayam bertabur paprika hijau dan salad bawang bombay menjadi santap malam saya yang terakhir di Kota Srinagar.

Istimewanya, semua dihidangkan oleh pemilik rumah perahu dengan nuansa kekeluargaan. Malam itu, saya menyeruput hangatnya teh Kashmir. Teh terbuat dari campuran kapulaga, kayumanis dan saffron. Kebetulan di malam itu, saya berbincang dengan seorang novelis Amerika Serikat. Ia sudah dua bulan tinggal di rumah perahu milik Firdaus.

Seperti saya, keheningan Danau Dal membuatnya betah dan enggan beranjak.

Saat asyik berbincang, tiba-tiba satu per satu para pedagang berdatangan. Mereka menurunkan semua barang daganganya dariĀ  perahu. Suasana mendadak begitu ramai. Mereka menggelar semua dagangan dan menawarkan dengan harga miring. Tawar menawar dalam keramahan.

Begitulah Danau Dal. Tak terasa tiga hari sudah saya tinggal di rumah perahu. Menjelajah Pergunungan Himalaya, menikmati masakan Kashmir yang cocok dengan lidah, menyelami kebudayaan dan keramahan penduduknya. Waktu seolah berjalan lamban. Setiap detiknya menyuguhkan harmoni alam. Menari dalam kedamaian dan ketenteraman hidup. Ketika sang pagi menyapa, berat hati ini meninggalkan Danau Dal. (naskah dan foto: Attini Zulfayah/editor: Heti Palestina Yunani)