Menyepi Sehari di Pulau Moyo

Seperti biasa pada saat merencanakan sebuah perjalanan, selain satu agenda khusus yang memang sudah dipersiapkan, saya pasti memberikan ekstra beberapa hari yang memberikan kesempatan untuk eksplor suatu daerah atau pulau di mana saya akan pergi. Kadang tanpa berbekal informasi dari internet. Malah kadang saya membiarkan semua mengalir pada saat bertemu dengan penduduk lokal atau teman-teman yang tinggal di pulau yang saya tuju.

Kali ini agenda saya adalah memberikan bantuan buku-buku untuk beberapa titik rumah baca dan learning center di desa-desa di Pulau Sumbawa. Bukan main excited-nya saya dengan perjalanan ini menunggu apa yang akan saya temukan. Dari Surabaya ke Lombok, rute saya berlanjut dengan perjalanan darat. Biayanya murah, Rp 140 ribu. Itu sudah termasuk dengan biaya ferry menyeberang ke Sumbawa Besar.

Total perjalanan saya berlangsung selama 6 jam, melewati jalan di tepi pantai dan bukit-bukit indah sepanjang jalan menuju kota. Penat yang saya rasakan menguap membayangkan perjalanan yang akan saya lakukan dalam seminggu ini. Dua hari pertama saya menghabiskan waktu untuk mendistribusikan buku-buku, dan di hari ketiga saya berpikir untuk mengeksplore lebih jauh. Akhirnya Pulau Moyo menjadi tujuan utama selanjutnya.

Tak lama, sehari saja. Dari Sumbawa besar ke Pulau Moyo bisa dicapai dengan menyeberang pulau dengan kapal kayu yang berangkat satu kali sehari setiap jam 10 pagi. Kapal ini biasanya memuat penumpang yang datang dari Pulau Moyo untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga di Sumbawa Besar.

Dengan membayar hanya Rp 25 ribu-Rp 50 ribu tiap orang, perjalanan dengan kapal kayu ini memberikan pemandangan laut lepas dengan awan bergumpal-gumpal di atas air. Setelah 2 jam di atas kapal sampailah saya di Pulau Moyo dan menginap di salah satu guest house kecil di pulau tersebut dengan biaya Rp 250 ribu per malam. Tarif ini per orang lho tetapi sudah termasuk dengan tiga kali makan, dan air mineral sepuasnya.

Dengan apa yang mereka sajikan di setiap makanan berupa ikan-ikan segar dengan berbagai cara penyajian, sayur dari hutan dan kebun, serta buah, harga tersebut sangatlah layak. Menurut informasi dari pemilik guest house, beberapa area dari Pulau Moyo ini merupakan Taman Nasional dan juga Taman Wisata Alam Laut di mana masih terdapat Kakaktua Jambul Kuning, sapi, rusa dan babi liar serta beberapa spesies burung.

Ketenangan alam Pulau Moyo ini juga salah satu hal yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk memperpanjang stay di Pulau Moyo selama 3 hari. Semua karena saya ingin melihat dua air terjun. Berjarak 2 km, Diwu Mba’i bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Air Terjun Mata Jitu lebih jauh atau berjarak 7 km. Kalau mau mudah, keduanya bisa ditempuh dengan sepeda motor sewaan seharga Rp 125 ribu untuk sehari penuh.

P_20160329_113653Selama perjalanan kurang lebih 1 jam, bersabarlah dengan medan yang lumayan ekstrem berbatuan dan bersebelahan dengan jurang. Tetapi semua itu menjadi perjalanan yang layak dilakukan setelah saya tahu apa pemandangan apa yang ada di depan mata.

Pulau Moyo yang dulunya merupakan pulau vulkanik ini membentuk lapisan bertingkat yang dialiri sungai di tengah hutan. Airnya sangat bersih dan bening berwarna hijau zamrud. Air terjun bertingkat empat dengan tinggi yang berbeda membentuk kolam-kolam yang sangat indah.

Di situ, saya seolah-olah berada di salah satu scene film ‘The Lost World’. Kita menerobos hutan dengan pohon-pohon tinggi, dan saat menyibak dedaunan mata kita dimanjakan oleh pemandangan menakjubkan yang membayar semua rasa pegal di kaki dan goresan semak di tangan.

Tentang Mata Jitu, barangkali inilah salah satu dari air terjun terindah yang pernah saya temui. Tidak mungkin saya melepaskan kesempatan ini untuk tidak berendam di airnya yang sejuk, bersih dan bening. Membayangkan seolah sedang menikmati kolam renang pribadi dengan whirlpool alami yang memijat penat ditubuh setelah mengendarai sepeda motor.

Saya pun menghabiskan beberapa jam untuk menikmati tempat ini karena pada saat itu benar benar tidak ada traveler lain di tempat ini. Bayangkan, tidak ada graffiti di bebatuan, tidak ada sampah di sekitar air terjun, semuanya serba natural. Sekembalinya dari Mata Jitu, saya menunggu sunset di tepi pantai di dekat dermaga Labuan Aji di Pulau Moyo.

Sambil melihat siluet para nelayan tradisional mendayung perahunya pulang ke rumah, warna warni di langit menjelang matahari terbenam benar-benar membuat saya merasa sekali lagi beruntung masih bisa mempunyai kesempatan untuk menikmatinya, dan berbagi pengalaman ini. There are still places to go and other things to see. (naskah dan foto: Moniq/hpy)