Menyentuh Batu Pantai Kerikil yang Berisik

Merunut Jejak Elang Timur di Bumi Papua (2)

Setiba di Tablanasu, aku mati kata. Tak ada yang bisa kubilang saat menatap keindahan alam yang begitu menakjubkan. Inilah sebenar-benarnya neverland itu. Seketika, aku jadi ingat sebuah film berdasar kisah nyata penulis Peter Pan, James M Barrie yang berjudul Finding Neverland!

Ya sekarang inilah aku mengalami seperti di film itu. Wow! Takjubku pada keelokan ranah Mutiara Timur, kian menjadi. Tanpa terasa, mobil telah diparkir dekat gapura desa. Butuh jalan kaki 100 meter sebelum aku mendarat di bibir Pantai Kerikil, sebutan Pantai Tablanasu.

Namun kakiku malah seakan tertancap di bumi saat aku menatap wajah desa di balik gapura. Ah begitu elok pemandangan yang ada di depan mata ini. Desa Tablanasu bersih, asri, sejuk, nyaman, hening, dan bening sekali aura udaranya. Desa itu juga unik dengan rumah-rumah dari kayu berjejer di samping kiri-kanan dan berpagar kayu.

Di setiap halaman rumah, rata-rata menanam bunga anggrek langka. Salah satunya berwarna putih, kelopaknya mungil dengan warna ungu muda di tengahnya. Tak ada sedikit pun sampah di situ. Semua terlihat begitu rapi. lni menandakan alam Tablanasu benar-benar seperti gadis perawan.

“Keren!,” kataku.

“Bisa kamu lihat bagaimana desa kecil ini begitu indah, hanya punya dua jalan yang terhubung oleh beberapa jalan kecil di sana,” timpal Timur.

“Semua tanahnya tertutup batu kerikil halus, lonjong berwarna abu-abu kehitaman, mengkilap.”

“Itu bagus buat refleksi!”

Timur melepas sepatunya. Ia memintaku mencoba sentuhan lembut batu-batu itu. Akupun segera mengikutinya. Ya, lembut. Aku lalu berjalan ke arah pantai yang tampak rindang dengan sepoi angin dibawa laut. Ada sejuk terasa dari sapaan kemayu hutan nyiur di tepinya.

“Dengar, ketika kita berjalan di atas kerikil itu akan menimbulkan suara dari gesekan batu-batu ini,” kata Timur.

“Apa itu Tim?,” tanyaku.

“Menurut orang-orang di kampung ini, mereka dapat mengetahui apakah seseorang baru datang di kampung itu atau sudah lama menetap dari bunyi kerikil ketika dia melangkah.”

“Oh ya?”

“Katanya, orang yang sudah lama menetap, bunyi kerikil karena langkah kakinya terdengar teratur dan suara gesekan batu terdengar kecil. Akan beda dengan orang yang baru pertama datang kesini, bunyi suara kerikil terdengar tidak beraturan dan lebih berisik, seperti kamu. Hehehe.”

“Tunggu!,” aku berhenti dan mencoba menyimak kalimat Timur dengan fokus mendengar dia berjalan, juga langkah kakiku.

“Benar! Berisik! Hehehe!”

“Yah kan kita orang baru!”

“Satu ilmu yang sulit kumengerti Tim!”

“Nggak usah dicari tahu kenapa begini begitu, nikmati saja!”

“Hahaha! Kamu ilmuwan, harusnya tahu kenapa?,” aku bertanya penuh selidik pada Timur yang punya profesi seorang peneliti di sebuah perusahaan raksasa di Papua. Namun dia tak menanggapi.

“Ntar aku kasih rumusnya, kamu makin pusing! Hehehe!”

“Ingat kamu ke sini buat menikmati alam, melepas segala penat pikiran!”

“Iya iya! Betul itu!”

“Konon batu-batu tersebut sudah ada sejak nenek moyang mereka memutuskan pindah tinggal di sini. Hamparan batu koral di seluruh Tablanusu sangat menguntungkan! Kan membuat semua orang bisa menikmati pijat refleksi alami telapak kaki secara gratis di sini.”

“Ya! Menyenangkan sekali! Bisa menikmati hawa sejuk di alam terbuka sekaligus pijat refleksi! Mahal harganya!”

“Ke mana saja kita melayangkan pandangan hanya terlihat hamparan batu alam yang indah, dan kuat namun lembut sentuhannya!”

“Hmm, itu yang kamu rasa?”

“Hmm, ada sebuah julukan bagi kampung Tablanusu yaitu Kampung Batu Menangis karena bunyi gesekan batu kerikil yang terinjak oleh orang yang berjalan akan terdengar menyerupai isak tangis. Coba dengar.”

“Malas kalau bicara tangis Tim! Ke sini bukankah buat menghibur diri melepas segala beban berat hidup?”

“Hehehe! Bicara sama penulis puitis!”

Aku tak merespon kalimat Timur, menyambut senyum seorang anak perempuan kecil yang menatapku heran. Kali dia tahu aku orang baru yang aneh dengan sepatu boot jalan ke pantai. Sungguh, salah kostum rupanya! Namun apa daya, sepatu boot coklat itu sepatu paling nyaman kupakai selama lima tahun ini. Di atas Pantai Tablanasu, sepatu itu cocok juga. Kuamati, pantai ini unik. Mulai dari permukaan jalanan sampai ke tepi pantai semuanya tertutupi oleh batuan alam berukuran kecil. Permukaannya sangat halus (kerikil) hal ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan pantai yang umumnya berpasir.

Di Kampung Wisata Tablanusu terdapat berbagai fasilitas, seperti pemandu wisata, persewaan perahu, banana boat, restaurant dan pondok-pondok (honai) yang disewakan penduduk setempat dengan tarif Rp 100 ribu. Di tempat ini juga disediakan penginapan Suwae Resort yang terdiri dari beberapa tipe kamar. Standar seharga Rp 450 ribu, superior (Rp 550 ribu) dan deluxe (Rp 650 ribu). Atau jika ingin lebih menyatu dengan alam sekitar, bisa menyewa tenda dengan tarif Rp 100 ribu per malam.

pantai tablanusu
Lihat tuh kerikilnya banyak kan?

Tapi bukan fasilitas itu yang menyamankanku. Aku senang melihat sambutan masyarakat yang hangat dan bersahabat dengan orang yang baru datang sepertiku. Tidak heran jika kampung ini banyak didatangi wisatawan lokal maupun asing. Pada pelaksanaan Festival Danau Sentani Kabupaten Jayapura di bulan Juni setiap tahunnya, Tablanusu menjadi salah satu objek tujuan wisata.

Di penghujung jalan, tampak jembatan Tablanusu yang langsung berhadapan dengan hilir sungai yang berkelok dan beberapa perahu kayu menghiasi. Di pantai itu, kunikmati air kelapa muda hijau yang cuma seharga Rp 10 ribu per buahnya. Kelapa itu dijajakan seorang mace (sebutan bagi ibu-ibu setempat) di antara pohon kelapa yang berderet memberikan rasa teduh dan rindang.

Setelah puas berfoto ria di bibir Pantai Kerikil dan di perahu kayu, aku duduk di sebuah honai. Tampak hamparan luas samudera pasifik di depan. Ini dream come true. Namun aku tak lama-lama duduk, karena harus memangkas waktu guna menuju telaga Tablanusu. “Berapa Mace?”, Timur bertanya kepada seorang wanita setengah baya. “Seratus ribu!” katanya. Aku kaget hargaitu hanya untuk sewa pondok honai tak lebih dari sepuluh menit. Tapi itulah harga sewanya memang, antara Rp 100 ribu-Rp 150 ribu.

Dari Tablanasu, aku melanjutkan perjalanan berkeliling di bagian belakang desa hingga sampai di danau air payau. Nuansanya masih dengan rerimbunan hutan di tepinya. Pagi itu sungguh menyenangkan. Aku disambut suara kicauan burung di tepi telaga dengan beragam jenis ikan yang dipelihara seperti mujair dan bandeng. (naskah dan foto/Kirana Kejora/Heti Palestina Yunani/bersambung)