Menyeberang ke Lombok Bersama Bali Brio

bali brio 1Banyak jalan menuju Lombok. Kalau biasanya saya terbang ke Lombok selalu mengambil flight langsung Surabaya-Mataram, kali ini saya ingin mencoba sebuah pengalaman baru. Bukan sekadar mau tahu rasanya, tapi seperti apa sensasinya. Pada tahun 1998 saya pernah menyeberang dari Padang Bai-Lembar dengan kapal feri yang memakan waktu 4 jam, dan sukses membuat saya mati gaya, karena tidak bisa berbuat apa-apa selain membaca.

Konon beberapa teman sempat mendapat rezeki nomplok, dikawal sekawanan lumba-lumba. Sayang, saya tak seberuntung itu. Nah,  kali ini saya ingin merasakan nikmatnya speed boat yang akan membawa saya dari Sanur ke Gili Trawangan. Saya dijemput pukul  7 pagi dari penginapan Aqua Blu di Canggu. Satu jempol untuk tim Bali Brio, karena datang tepat waktu  sesuai janji yang kami sepakati kemarin.

Untuk suasana liburan dengan harus bangun pukul 6 pagi dan mandi itu rasanya ngantuk banget. Tapi apa boleh buat, jadwal kapal harus sesuai dengan janji kepada kastamer. Setelah 1 jam perjalanan menembus udara pagi antara Canggu-Sanur, saya tiba di konter Bali Brio saat para calon penumpang sudah lumayan meriah. Omong-omong, saya sendirian dalam mobil jemputan tadi lho. Ugh, serasa prime customer!

Petugas di konter yang berwajah sangat welcome segera mendata nama saya, barang bawaan, serta menempelkan sticker berisi tujuan akhir saya bersama Bali Brio Fast Boat. Saya melihat di sekeliling, ada yang dadanya ditempeli tulisan Lembongan, Gili Air, Gili Trawangan dan Bangsal. Rupanya, itulah spot-spot yang dituju Bali Brio. Masing-masing spot memiliki harga yang berbeda.

bali brio 3Menurut Rahmat Julyanto, General Manager Bali Brio, harga penyeberangan per orang/one way sekitar Rp 350 ribu untuk rute Sanur-Lembongan, Sanur-Gili Air/Gili Trawangan/Bangsal lebih mahal yaitu Rp 700 ribu. Lembongan-GiliAir/Gili Trawangan/Bangsal sebesar Rp 600 ribu. “Kapal Bali Brio baru tersedia BB 3 dengan kapasitas paling kecil sebanyak 35 orang. Namun secara bertahap kapal lainnya segera tiba dengan kapasitas lebih besar. Bali Brio 2 dengan kapasitas 120 orang dan Bali Brio 1 berkapasitas 80 orang,” katanya.

Tepat pukul 09.20, saya dipersilakan naik kapal mungil namun mewah itu. Wah serasa naik kapal pribadi!! Barang-barang saya sudah diurus oleh awak kapal. Duduk manislah saya mencari posisi dekat toilet biar aman kalau ingin muntah. Itu nasihat jitu dari awak Bali Brio. Eh, seluruh penumpang bule, jadi serasa turis di negeri sendiri. Seorang turis Jerman (keliatan dari logat Inggrisnya) bertanya kepada saya; “Apakah semua orang ini ke Gili?” Dengan sok tahu saya menyeletuk; “Enggak, ada yang turun di Lembongan atau Bangsal.”

Mulailah kami menikmati laju kapal yang mulai membelah laut menuju Lembongan. Seluruh penumpang, termasuk saya, menatap dengan takjub pada ponton di tengah lautan yang penuh fasilitas water sport milik vendor cruise yang sering saya (Padma Tour) jual walaupun saya secara pribadi belum merasakan. Beberapa penumpang turun di Lembongan, tapi beberapa lagi naik. Total penumpang hari itu ada 29 orang. Katanya sih, tidak boleh full occupancy biar aman. Perjalanan dilanjutkan sambil nonton TV yang memutar film Avatar.

bali brio 4Selama 1,5 jam berjalan aman terkendali, seperti tidak naik kapal karena begitu tenang dan nyaman. Mungkin ini disebabkan armada masih baru dan kapten kapalnya andal? Entahlah yang jelas 1,5 jam itu terasa mulusssss banget. Nah, sesuatu baru terasa ketika kami menembus selat Lombok. Di situlah adegan jejeritan terjadi. Seluruh penumpang terguncang-guncang akibat hempasan gelombang yang tinggi.

Saya? Tentu saja menjerit. Malah paling kenceng rasanya. Beberapa bule sampai perlu menoleh melihat polah saya yang kampungan, mungkin. Guncangan-guncangan itu berlangsung selama kira-kira setengah jam. Untunglah. Tak bisa membayangkan jika berlangsung lebih lama karena rasanya menyerupai roller coaster; diangkat, dihempaskan, angkat lagi, buang lagi. Wow! Jantung rasanya hendak melepaskan diri dari gagangnya.

Sekitar pukul 1 siang, alhamdulillah kapal merapat di Gili Terawangan.  Barang saya sudah diturunkan oleh awak kapal, dan dengan manis petugas counter berkata; “Terima kasih telah menyeberang bersama Bali Brio, sampai jumpa perjalanan berikutnya. Ibu sudah dapat jemputan ke hotel?” Tentu saja saya sudah. Sudah mencegat cidomo yang lewat, maksudnya. Hotel saya toh tidak jauh dari jetty, Villa Ombak sudah menanti.

Sampai di hotel, petugas hotel yang menerima saya bertanya tentang kapal apa saya gunakan. Mengapa memilih Bali Brio? Saya pun menjawab dengan jujur. Yang pasti, armadanya baru hingga masih enak dinaiki dong. Bali Brio unggul karena menerapkan standar layanan sekelas hotel. Tapi harganya tidak jauh beda dengan 27 kapal sejenis yang melayani rute sama. Jadi kalau harga sama, tentu saja saya memilih layanan yang lebih baik bukan? Itu prinsip saya sebagai kastamer.

Kalau pembaca PADMagz ingin merasakan menyeberang ke Lombok dari Bali dengan Bali Brio, ada penawaran harga menarik asal Anda memesan via Padma Tour Organizer tentunya. (naskah: Wina Bojonegoro/foto: Bali Brio/hpy)