Menyaksikan Walter Spies Abadikan Karya

Solo traveling lebih dari sekadar gaya-gayaan atau kesenangan belaka, melainkan sebagai perjalanan batin bagi saya. Kita akan bertemu banyak orang baru dan belajar hal-hal baru. Tidak banyak orang yang memberanikan dirinya ‘hilang’ sendiri tanpa pemandu apalagi pendamping. Sebagai solo traveler, saya memulai debut dengan destinasi Ubud, sebuah desa adat yang sangat eksotis di Pulau Bali.

Saya berangkat hanya berbekal keyakinan dan satu koper. Saya coba memberanikan diri menghadapi semua kemungkinan yang terjadi. Alasan pertama yang mendasari saya nekat menjajal solo traveling adalah karena kecintaan saya terhadap tantangan. Selain itu saya tak ingin ribet dengan rombongan yang kadang menyulitkan karena perbedaan isi kepala. Memang, jalan-jalan sendiri pasti akan menghadapi rintangan yang lebih banyak daripada traveling rombongan.

Kesiapan mental, insting yang kuat, serta kemampuan beradaptasi kita akan sangat diuji di medan laga. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah attitude kita selama perjalanan hingga kemauan kita mengenal kebudayaan masyarakat lokal agar bisa berbaur. Pilihan saya yang jatuh kepada Ubud bukannya tanpa alasan. Saya ingin menyaksikan bagaimana seniman-seniman kelas dunia mengukir karya legendaris.

Sebut di antaranya Walter Spies—pelukis asal Jerman, Rudolf Bonnet—pelukis asal Belanda yang mengabadikan karya-karyanya di Museum Puri Lukisan, Jalan Raya Ubud hingga Antonio Blanco yang menghabiskan akhir hidupnya untuk melebur bersama keindahan bukit-bukit di Ubud yang jauh dari hiruk-pikuk. Satu lagi, ada karya-karya Antonio Blanco dapat dinikmati di Blanco Renaissance Museum, Jalan Campuhan.

Tak ada rasa kuatir berjalan-jalan sendiri di Ubud. Bagi saya, ia serupa tuan rumah yang seramah kampung halaman. Ubud menerima siapa saja yang ingin merengkuh kebesaran Sang Pencipta. Pagi yang sangat menakjubkan selalu menyambut saya setiap melangkahkan kaki di Subak Uma. Sunrise ‘telur mata sapi’ yang menakjubkan menyembul malu-malu di tengah gumpalan awan yang tak kalah menawan. Jalanan setapak yang kadang menanjak memungkinkan Anda saling menyapa dengan penduduk sekitar.

Di musim tanam hingga panen padi, Anda bisa menyaksikan bagaimana masyarakat Hindu masih memegang teguh tradisi leluhur melaksanan Upacara Biyukukung, yakni pemujaan terhadap Dewi Uma untuk keberhasilan panen. Di sini, Anda bisa menemukan restoran berkonsep rumah panggung yang menyediakan makanan serba organik. Bisa dibayangkan betapa damainya menghabiskan waktu di tepi sawah, menikmati secangkir teh lemon nan hangat. Beragam inspirasi dan semangat baru seketika memenuhi ruang-ruang hati Anda.

Selain penduduk yang ramah, Ubud juga memiliki tingkat keamanan yang bagus jika dibandingkan dengan lokasi wisata yang lainnya. Jika Anda ingin berbelanja, tak perlu ragu mampir ke Pasar Seni Ubud yang berdekatan dengan Ubud Palace. Harga yang ditawarkan tak begitu mahal dan sesuai dengan kualitasnya. Jangan lupa mencicipi kuliner khas di sana, seperti apem dan dodol Bali, nasi jingo dengan sambal yang maknyus, ayam suwir, sate lilit, hingga Bebek Bengil!

Ya, siapa yang tak kenal restoran tersohor yang terletak di Jalan Hanoman tersebut? Dengan harga 92 ribu belum termasuk pajak, Anda bisa menikmati sepiring besar nasi, lauk, beserta 3 macam sambal yang siap mengocok perut!

Sedikit tips bagi Anda sang solo traveler, pastikan badan dan psikis dalam kondisi prima, siapkan uang cash yang cukup, jangan malu menggali informasi sedetail mungkin, nikmati makanan lokal, serta banyak berbagi di perjalanan. Jangan pernah ragu menempuh perjalanan sendirian sebab solo traveling adalah upaya melatih kepekaan diri dan menemukan rumah di tanah orang. Kita akan sangat mencintai hangatnya rumah saat sedang berada jauh dari jangkauan. Bagi saya, Ubud adalah salah satu tempat saya berpulang. (naskah: Puput Palipuring Tyas/foto: PADMagz/hpy)