Menunggu Azan Terdengar di Surga Andalusia

Salat Jumat Sentimentil di Sevilla (2)

Dalam situasi penuh ingatan tentang masa lalu Sevilla, salat Jumat itu punya sentuhan rasa yang sama dengan salat Jumat saya di Masjidil Haram. Menyambung cerita pascakekuasaan Ferdinand-Isabella, sejak saat itu Islam pun jadi agama terlarang di daratan Spanyol selama lebih dari 400 tahun.

Sejak saat itu pula tidak ada masjid secara fungsional di Spanyol. Kalaupun ada, diubah fungsinya misalnya Masjid Cordoba, diubah jadi Katedral hingga sekarang. Bahkan masjid Jamik Sevilla yang dibangun sejak abad ke 12 sebagian besar dihancurkan dan hanya menyisakan satu menara.

Padahal menara itu dahulu digunakan muazin mengumandangkan azan untuk memanggil umat Muslim Sevilla salat. Kkini menara tersebut dikenal sebagai Giralda, yang digunakan untuk memasang lonceng gereja.

Kembali tentang salat Jumat sentimentil itu membuat khobah Jumat di 15 September 2017 itu sayangnya kurang begitu saya tangkap isinya. Seebagian karena sebab biasa, apalagi kalau tidak penyakit ketika mendengar khotbah Jumat yaitu serangan kantuk. Sebagian lagi karena disampaikan dalam Bahasa Spanyol.

Sevilla (5)Tapi lamat-lamat saya tangkap ada kata-kata “Rohingya” yang kemudian diamini oleh jamaah. Mungkin temanya tentang solidaritas muslim terhadap nasib muslim Rohingya. Saya jadi teringat akan aksi solidaritas di tanah air.

sevilla (1)Bicara solidaritas di tanah air, ternyata saat keluar masjid mata saya menangkap poster di pintu keluar yang menunjukkan bendera merah putih kecil. Ternyata benar, itu bendera Indonesia dan poster tersebut adalah poster Aksi Cepat Tanggap (ACT) Indonesia. ACT sedang menghimpun dana untuk membangun masjid yang lebih besar dan representatif di Sevilla.

Semoga, setelah lebih dari 4 abad azan tak lagi terdengar dari menara menara masjid di daratan yang dulunya dijuluki Surga Andalusia ini, tak lama lagi hidayah dan rahmah akan semakin luas menyentuh hati para pencari makna hidup tidak saja di Jazirah Iberia tetapi juga di seluruh daratan Eropa.

Sebagaimana 30 tahun lalu hidayah itu telah menyentuh pasangan gado-gado Italia-Kuba. Keduanya tak lain orang tua teman baru saya dari Granada, Yassin Azmir, yang menemani perjalanan spiritual saya kali ini menjelajah bumi Andalusia. (naskah dan foto: M Atoillah Isvandiari/editor: Heti Palestina Yunani)