Menjaga Nilai Kehidupan dalam Festival Damar Kurung

Festival Damar Kurung dan Lampion Nusantara digelar untuk kali ketiga di tahun 2014 ini. Festival yang dihelat di halaman Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Jl Jaksa Agung Suprapto, Gresik ini memang rutin diadakan setiap tahun saat menyambut suci Ramadan. Yang berbeda dari tahun sebelumnya, acara yang bertema ‘Damar Kurung, Ayo Rayakan’ itu tampak semakin banyak menggandeng keterlibatan masyarakat dan komunitas.

Menurut Novan Effendi, inisiator acara, tema tersebut diusung untuk menggali lebih dalam tentang nilai-nilai kehidupan, menggerakan semangat masyarakat untuk kembali memasang dan melestarikan Damar Kurung. Tema itu juga membuktikan bahwa Damar Kurung bisa disajikan dalam berbagai kemasan, tidak melulu dalam bentuk original. Kemasan ini membuat antusias pengunjung lebih tinggi.

Komunitas dan para pegiat seni yang terlibat dalam aksi kolaborasi, juga kian kompak. Acara yang didahului lomba mewarnai Damar Kurung tingkat anak-anak pada 15 Juli 2004 itu dibuka dengan penampilan kesenian Kedundangan serta Pencak Macan Junior di bawah asuhan Ucok Supandi. Tak lupa aksi memukau Amang ‘Genggong”, sang maestro genggong legendaris dari Gresik.

Di malam yang bertabur pelita Damar Kurung itu dimeriahkan aksi Tari Zapin Bawean, Besali Seni Gresik, Kelas Inspirasi Gresik, Teater UKM Seni Universitas Muhammadiyah Gresik yang menampilkan kisah Damar Kurung dan kehidupan pesisir. Ada live mural Gresik Street Art yang mengkampanyekan tentang pelestarian Damar Kurung, dan live acoustic Gresik. Stand-stand yang dibuka turut meramaikan misi acara untuk mengangkat produk-produk kerajinan khas Gresik, kuliner, serta local clothing.

Sebelumnya dihadirkan pula para narasumber Cangkruk Budaya yang nilai-nilai Damar Kurung yang kian ditinggalkan. Dalam dialog sempat dibahas tentang siapa pembuat Damar Kurung sejak Mbak Musmandari meninggal. Semula banyak yang mengira jika hanya ahli waris Sriwati Masmundari atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Masmundari yang boleh membuatnya. Malam puncak Festival Damar Kurung dan Lampion Nusantara ditutup dengan parade kostum dari komunitas Gresik Costume Carnival.

Dijelaskan Novan Effendi, digelarnya Festival Damar Kurung dan Lampion Nusantara ini diharapkan akan bisa membuka wawasan masyarakat mengenai seni tradisi asli Gresik yang harus diapresiasi. “Sebagai satu-satunya kesenian asli yang bisa menembus batas dan diakui secara nasional, Damar Kurung adalah sebuah perjalanan seni rupa di Gresik. Semua komunitas berkumpul, terlibat, untuk menjaga nilai-nilai kehidupan lewat mengangkat kesenian tradisi Kota Gresik tercinta,” katanya. (naskah&teks: Puput Palipuring Tyas/hpy)