Meninggalkan Wae Rebo Mengejar Kelimutu

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (16)

16-Si Jangkrik Dari BelakangDari Wae Rebo, si Jangkrik –sebutan untuk motor saya- melanjutkan kembali perjalanannya menuju timur Pulau Flores. Jalur yang disusuri sama seperti saat berangkat tetapi saat persimpangan jalan menuju Desa Pela. Saya tidak berbelok karena akan ke Kota Ruteng melalui Desa Iteng.

Selepas perdesaan, jalur yang dilalui adalah hutan pegunungan yang memiliki jalan lebih berkelok dan suhu udara yang begitu dingin. Sangat jarang kendaraan yang melalui jalur ini, selain memiliki banyak titik yang rawan longsor, jalur ini pun berkabut tebal pada siang hari.

Di Ruteng saya tiba pada sore hari. Karena mengejar destinasi lainnya maka perjalanan masih dilanjutkan hingga langit cukup gelap dan menemukan kota yang cukup besar. Setelah matahari terbenam saya bermalam di kota kecil yang kira-kira seluas Soreang, Kota Borong. Informasinya, si sekitar jalur menuju destinasi berikutnya akan banyak ditemui longsor yang bisa menghabiskan waktu untuk menunggu jalurnya kembali dibuka. Kondisi seperti akan sangat banyak membuang waktu.

Perjalanan saya putuskan dilanjutkan pada pagi hari menuju Aimere yang terkenal akan minuman tradsional Flores, sopi. Sepanjang jalan di Aimere banyak sekali warung-warung yang menjajakan botol berisi air yang tidak seperti bensin eceran. Sopi dari Aimere ini sangat terkenal memiliki kadar alkohol paling tinggi, hingga mendapatkan predikat sopi ‘BM’ (bakar menyala).

16-Tanah Longsor16-Kambing Gunung BajawaSetelah melewati Aimere, saya memasuki jalur yang lebih terjal dari sebelumya. Tikungan di jalur ini sangat tajam dan tanjakannya pun bukan main miringnya. Saya pikir jalur seperti ini hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit saja, ternyata hingga tiga jam untuk menyelesaikannya. Akhirnya saya tiba simpang jalan Kota Bajawa. Usai istirahat hanya secukupnya, perjalanan saya lanjutkan menuju Ende.16-Sepak Bola di Pesisir Ende

Benar saja menurut informasi supir-supir travel di sana, longsornya sangat panjang dan luas, beruntungnya saat itu saya masih bisa melanjutkan perjalanan. Saya tiba di Ende sore hari. Pemandangan sebelum memasuki kota pengasingan Bung Karno itu sangat indah. Lereng gunung dengan tebing-tebing terjal yang begitu indah di sisi kiri dan seksinya pantai berpasir hitam nan bersih, Pantai Koka, di sisi kanan.

16-Gunung Inierie di PerjalananSaat beristirahat di Ende dan mencari informasi untuk destinasi selanjutnya, saya sempat kecewa saat mendengar jika sudah tiga hari wisatawan tidak diberi pemandangan danau dengan tiga kawah berwarna berbeda karena kondisi cuaca berkabut. Warga yang saya tanya itu pun menyarankan untuk bermalam di Ende lalu menuju destinasi tersebut pada siang hari esok harinya, tanpa perlu melihat matahari terbit dari gunung.

Saran itu tak saya hiraukan karena jika sesuatu yang tidak saya coba dan tidak saya rasakan akibatnya maka saya akan lebih kecewa. Daripada gagal Si Jangkrik kembali saya tancap menuju destinasi gunung dengan fenoma alam yang tidak ada di mana pun selain di sana. Ia sudah sangat sering saya lihat gambarnya di mata uang Rp 1000 edisi lama, apalagi kalau bukan danau tiga warna di Gunung Kelimutu. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)