Mengulang Cerita Al Mansur dari Alhambra

Oleh-oleh dari Jazirah Andalusia (2)

andalusia (4) Perasaan takjub dan ‘nyeri’ yang saya alami saat menatap Alhambra itu sungguh membekas. Mungkin itu juga yang dialami Al Mansur, ikhwal seorang tokoh bernama Al Mansur bin Abdullah yang pulang ke Granada dari pengasingannya di Maroko Afrika utara, dan kembali ke kastil masa kecilnya. Al Mansur juga bercerita telah menyaksikan seorang pejabat tinggi gereja dan kerajaan.

Dengan disaksikan khalayak di tengah pasar melemparkan Quran ke api unggun. Ketika ia menceritakan hal ini pada Hassan –pelayan yang mengasuhnya-, Hassan tampak tak terkejut. Dengan muram Hassan berkata, “Di mana mereka membakar kitab-kitab dan buku buku bertulisan arab, di sana mereka akhirnya membakar manusia.”

Adalah Gonzalo Jiménez de Cisneros, pejabat tinggi gereja dan kerajaan kepercayaan Ratu Isabella itu, yang telah disaksikan Al Mansur itu. Orang ini adalah padri yang dikenal keras kepada dirinya sendiri dan juga kepada orang Katolik lain -apalagi orang lain dari iman yang lain.

Diceritakan bahwa ia adalah padri yang tak tergoda kemewahan. Dalam usia di atas 40 ia bergabung ke dalam Ordo Fransiskan dan telah membiasakan diri tidur di tanah tanpa alas, biasa melipat-gandakan puasa, dan selalu mengenakan kain yang dianyam dari surai kuda, sebagai tanda-tanda kesederhanaan.

andalusia (1)Tapi dengan kekuasan atas nama kerajaan yang diberikan Isabella, dan keyakinan akan keunggulan imannya, ia memaksa dengan keras para biarawan yang sudah ditahbiskan untuk hidup selibat, menetap di paroki, dan bekerja secara penuh.

Ketika pemaksaan kehidupan penuh kesahajaan ini dikenakan lebih ketat, lebih keras, dan lebih meluas, konon 400 rahib mengungsi ke Afrika utara -dan masuk Islam. Bagi Cisneros, Islam dan Yahudi adalah iman yang sesat, sehingga di awal ia diberi mandat Ratu Isabella untuk melakukan “pengadilan iman” inkuisisi pada 1492.

Ia memaksa sekitar 200 ribu orang Yahudi untuk jadi Katolik. Sementara puluhan ribu yang lain diusir. Tak puas, beberapa tahun kemudian giliran Cisneros memaksa ribuan Mudéjar, orang Muslim yang hidup di wilayah wilayah kekuasaan Katolik, berpindah agama.

Meskipun dengan demikian ia melanggar perjanjian Alhambra yang ditandatangani Ferdinand/Isabella dengan Muhammad XII, sultan terakhir Granada yang menyerah setelah dikepung selama 9 tahun untuk tidak mempersekusi umat Islam Granada. Ketika penduduk muslim Granada memberontak karenanya dan pada akhirnya dikalahkan, Cisneros memberi ultimatum: masuk Katolik, atau diasingkan.

Akhirnya sebagian besar, seperti disebut Heine melalui tokoh Al Mansur, merundukkan kepala untuk dibaptis, menggengam erat salib, dalam ketakutan akan mati. Sejarah mencatat rata-rata 3000 Muslim dalam sehari berpindah ke Katolik. Belum cukup. Buku, asal bertulisan Arab, pun dibakar. Apalagi Alquran. Sekitar 5000 judul karya penulis dan pemikir Islam dimusnahkan dalam api.

Giliran berikutnya: manusia. Sejarah mencatat, sejak 1481, Gereja Katolik Spanyol dengan pengadilan inkuisisinya, yang dipimpin Cisneros, membakar hidup-hidup 31.912 orang yang dianggap sesat iman, atau yang dianggap berpura-pura jadi Katolik tetapi diam-diam masih menjalankan ritual Islam, yang disebut dengan kaum Moriscos.

Beruntung, semua cerita itu mengalir begitu saja selama saya sungguh-sungguh menginjak tanah di mana Alhambra berada, seperti diulang. (naskah dan foto: M Atoillah Isvandiari/editor: Heti Palestina Yunani)