Menggigil Kedinginan di Lauberina Pass

Jelajah Nepal; Negeri Impian Para Petualang (6)

Perjalanan menuju Laurebina Pass memang sangat menguras energi dan adrenalin. Tapi di jalur ini, perjalanan lebih lega karena tidak lagi di kelilingi hutan. Karena iklim sudah memasuki sub alpin, maka vegetasi yang muncul hanya bebatuan dan rumput-rumput pendek.

Maka perlindungan untuk kulit harus lebih diperhatikan oleh pendaki. Juga jagalah persediaan minuman. Karena walau udara sejuk, namun tingkat kelembabannya tinggi. Panas matahari tetap menyengat dan mengakibatkan dehidrasi. Apalagi butuh waktu hingga 3,5 jam untuk sampai ke Puncak Laurebina.

Laurebina yang berarti tanpa tongkat itu ditandai dengan bangunan batu yang ditumpuk. Konon seorang suci bernama Sribodhi berjalan menuju puncak ini tanpa menggunakan bantuan apapun. Hingga kemudian ia berjalan menuju Gosaikund dan hidup bersama keluarganya di sana.

Di dekat titik triangulasi Gosaikund, terdapat candi dan tempat peristirahatan terakhir Sribodhi. Setelah melewati jalur Laurebina ini, jalur selanjutnya tidak menanjak tajam. Walau bagi saya, tetap saja itu membuat napas tersengal.

Namun setidaknya saya bersyukur tidak terserang AMS, penyakit khas di ketinggian. Agar tak terserang, mau tidak mau mengharuskan pendaki untuk turun dari ketinggian tertentu dan bermalam untuk melakukan penyesuaian suhu atau aklimatisasi.

Jalur selanjutnya harus melintasi jurang. Sesekali saya menuruni batu besar dan menaikinya kembali. Di kesempatan lain, rutenya terasa panjang. Padahal di ujung sana jalur terlihat dekat. Rumah-rumah penduduk yang disewakan sebagai teahouse sudah mulai tampak dari kejauhan. Tapi tetap saja perjalanan masih jauh.

Tapi semangat menempuh ke arah teahouse tetap menyala. Saya yakin itu dipicu keindahan danau-danau kecil di sepanjang jalan. Saya nikmati itu semua agar bertahan hingga perjalanan saya berakhir di Gosaikund. Saya ingin segera memasuki teahouse dengan harapan cepat menenggak teh panas dan mendapat kamar.

Sementara kata Yuba, penginapan di Gosaikund sudah full booked. Itulah kenapa ia berjalan jauh mendahului saya agar bisa segera memesan kamar. Sambil menunggu kamar terpesan, saya menghangatkan badan di chimnee -tungku penghangat ruangan-, yang dikelilingi para pendaki, sang penikmat alam.

Rasa lelah dan malas mulai beranjak sesaat saya mendapat tempat strategis tepat di depan chimnee. Mengertilah saya mengapa banyak wisatawan termasuk para guide dan porter memilih berdempetan mengelilingi tungku penghangat ruangan itu. Maklum, suhu di ketinggian 4000 m dpl itu sudah mencapai minus 5 derajat celcius lho. Bisa Anda bayangkan kan dinginnya?

Sesampai di kamar, dengan tangan yang mulai kaku, saya mempersiapkan peralatan tidur yang tidak saya pakai selama menginap di teahouse sebelumnya. Kantung tidur yang saya sewa di Thamel itu tertulis memiliki tingkat kehangatan sampai minus 10 derajat celcius.

Bukan saja kasur yang lembab menjadi hantaman dingin tersendiri. Jaket tiga lapis plus selimut dan kantung tidur, tidak membuat badan saya menjadi hangat. Sebaliknya, saya malah menggigil kedinginan dalam beberapa waktu. Tapi itulah cara badan beradaptasi dengan suhu setempat. Ending-nya, badan-pun mulai hangat dan saya pulas seketika. Kapok? Tidaklah. Inilah jalan menuju mimpi saya. (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)