Menggerus Hegemoni Budaya Perempuan Flores

Perempuan. Sedarah. Sebukit. Semusim. Berada di alam Ngadha yang sejuk dan dikelilingi laut biru. Diberkahi kekayaan kopi, cengkeh, kopra, jagung, minyak sawit, umbi, jahe, kemiri dan besi (kastela). Namun, mereka terikat dalam budaya; ‘menanti’. Menanti yang bukan harapan. Menanti karena kekayaan alam berlimpah telah membuat zona kenyamanan terpatri dalam pola pikir, bahkan jiwanya.

Memerhatikan negeri Flores, tepatnya di Ngadha, Bajawa, hanya pemandangan alam yang bisa dinikmati dan melekat di kepala. Tidak tampak panganan khas yang berasal dari sumber alamnya, kecuali kopi. Kopi Flores memang terkenal cita rasanya. Tak ada yang bisa memungkirinya. Sayang hasil alam lainnya tidak dimanfaatkan secara baik, misalnya kastela atau disebut besi oleh orang Flores. Biasanya mereka hanya menyantap kastela dengan direbus/dikukus, tapi belum pernah dibuat menjadi keripik kastela atau kue bolu.

Masih banyak bahan alami yang mereka miliki, tapi pengolahannya belum maksimal. Soal cita rasa makanan pun, mereka tidak pandai meraciknya, sehingga terasa hambar. Satu lagi, nyaris tidak pernah melihat makanan khas di daerah Bajawa, entah itu di pasar, warung, dan restoran. Apakah semua ini terkait budaya? Lalu, apa yang dilakukan perempuan lainnya di Bajawa yang mempunyai wawasan, pola pikir, dan budaya berbeda? Apakah hanya budaya yang dipersalahkan terkait hal ini?

Semua pertanyaan ini bisa dikaji dari apa yang diakukan sebuah komunitas di Ngadha, yaitu Komunitas Kreatif Bajawa. Mereka yang terdiri dari empat perempuan ini memiliki pengalaman memberdayakan perempuan Flores saat mengikuti Bazar Pangan Kreatif, 8 Maret 2015, Soa, Ngadha, Flores. Di ajang itu, tampak perbedaan wawasan, inisiatif, kreativitas, dorongan semangat, budaya, dan harapan, para perempuan dari 4 desa peserta bazar.

Salah satu perempuan dari Desa Meliwaru memajang bahan makanan alami yang dimasak kreatif; serabi jahe, kue kacang hitam (Hobho), kue pisang kismis (Muku Kero), kue labu kuning, dan serabi jagung. Bentuk semua hidangan tersebut cukup menarik dan membuat orang ingin mencicipi. Bentuk potongan pizza dan bola, bisa membuat anak-anak yang sulit makan menjadi mudah. Rasanya pun enak.

Menurut seorang wakil dari Desa Meliwaru yang bekerja di kantor daerah, makanan tersebut dibuat berdasarkan murni idenya sendiri. Dengan kegiatan bazar ini, pembuatan makanan itu bisa jadi akan ia teruskan namun bisa juga tidak. Salah satunya karena keterbatasan waktu mereka lebih menyita di kantor. Tapi paling tidak, penganan itu bisa mereka disajikan untuk keluarga sendiri.perempuan-bajawa-1

Lain lagi halnya dengan para perempuan pembuat keripik kastela dan kue bolu kastela. Sebelum bazar, mereka sama sekali tidak pernah terlintas untuk menciptakan keripik atau memodifikasi menu makanan dan bergizi. Resep keripik yang mereka buat itu diakui berasal dari Komunitas Kreatif Bajawa, salah satu penerima hibah dari Yayasan Kelola bekerjasama PNPM. Selama 1 hari mereka dilatih oleh Komunitas Kreatif Bajawa, untuk mengaplikasikan resep.

Kegiatan ini kini menjadi pendukung pekerjaan mereka sehari-hari yang bertani dan berkebun. Mereka mengaku kegiatan sehari-hari di ladang dan kebun tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sebelum membuat keripik kastela, mereka seperti menjalankan kehidupan seperti itu saja dan tidak berbuat apa-apa lagi atau hanya pasrah. Tapi keberadaan 4 perempuan di bawah Komunitas Kreatif Bajawa telah membuka pandangan dan wawasan mereka, bahwa pengolahan makanan harus kreatif dan bisa menambah pendapatan. M

ereka berharap agar hasil keripik buatan mereka enak dan bisa dijual ke masyarakat. Apalagi bahan-bahannya ada dari perkebunan sendiri, sehingga lebih mudah dijangkau dan dilakukan ibu-ibu. Dua contoh di atas mengambarkan adanya kesenjangan ekonomi, pendidikan dan pola pikir termasuk budaya yang terpahat di mereka. Metty, salah satu anggota Komunitas Kreatif Bajawa, bercerita bahwa, wilayah Ngadha ke utara masih menganut budaya patrilinear dan Bajawa ke selatan matrilinear.

Perempuan di Ngadha tidak bisa membuat keputusan sendiri karena segala keputusan berada di tangan sang suami. Wajar saja, pikiran mereka terpatri. “Mungkin, hal-hal baru yang datang ke mereka tidak mudah cepat diterima. Pikiran untuk mengembangkan sesuatu pun terbatas. Mereka hanya menerima yang telah ada, tidak berani berbuat sesuatu karena takut dimarahi atau tak menghargai suami, sehingga imajinasi menjadi beku. Mereka tidak biasa berinisiatif, mengeluarkan ide-ide, dan mengemukakan opini. Sedangkan matrilinear sebaliknya,” katanya.

Ditambahkan Metty, kesulitan memberdayakan perempuan yang dilakukan komunitasnya adalah komunikasi. Selain itu,  kesabaran juga dibutuhkan untuk membimbing dan memberikan dorongan perempuan di lingkungannya. “Satu cara yang membuat semua lebih mudah ialah sama-sama berasal dari satu tanah, Bajawa, Ngadha. Pendekatan cepat dan terbilang efektif, dibanding menurunkan orang asing untuk mengenalkan kepada mereka sesuatu yang baru,” tegasnya.

perempuan-bajawa-3Hendrica Melania Lame Djawa, ST, koordinator Komunitas Kreatif Bajawa mengatakan tidak akan melepas atau meninggalkan mereka sampai benar-benar mandiri. Apalagi, sekarang sedang digalakkan peternakan unggas. Rini ingin semua anggota dampingan (perempuan di Bajawa) mempunyai unggas sendiri, setidaknya 10 ekor per orang. “Itulah harapan saya dan juga perempuan-perempuan di wilayah Ngadha dalam kelompok dampingan Komunitas Kreatif Bajawa ini,” kata perempuan yang biasa dipanggil Rini.

Menurut Rini, budaya sering menghambat suatu perkembangan atau menjadi hegemoni budaya atas pola pikir seorang, sekelompok, bahkan satu bangsa. Namun jika budaya bisa ditipiskan, mengapa tidak dilakukan demi tujuan yang lebih baik. Toh, sebagai perempuan yang lebih cerdas, mengerti budaya yang bagaimana harus ditinggalkan. Dan dia pun bisa menularkan kepada sesamanya yang jauh tertinggal.

Menjelang kegiatan bazar selesai, tampak para peserta merasa senang karena telah memiliki harapan untuk dirinya dan keluarganya. Wajah-wajah itu amat menyembur cahaya kebahagiaan dan tampak secercah kelegaan. Apa yang dilakukan Rini dan ketiga temannya patut dicontoh perempuan-perempuan lain. Lalu apakah masih menyalahkan budaya? Rasanya itu sebuah proses yang tak bisa dihindarkan. (naskah dan foto: Sari Novita/Heti Palestina Yunani)